Kitab ‘aqidatul Awam: Allah Dzat Yang Maha Ada, Terdahulu, Kekal Dan Berbeda Dengan Makhluknya

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia– Kitab ‘Aqidatul Awam adalah salah satu karya krusial dalam kajian pengetahuan tauhid nan ditulis oleh Syaikh Ahmad al-Marzuqi. Kitab ini menguraikan dasar-dasar kepercayaan Islam mengenai sifat-sifat Allah, nan merupakan fondasi krusial bagi umat Islam dalam mengenal Tuhannya.

Salah satu poin utama nan dibahas dalam kitab ini adalah bahwa Allah adalah Dzat nan Maha Ada, artinya eksistensi Allah berkarakter absolut dan tidak berjuntai pada apa pun selain Diri-Nya sendiri. Allah juga adalah Dzat nan Terdahulu (Qadim), nan berfaedah bahwa Allah tidak mempunyai permulaan dan tidak diciptakan. Dengan demikian, keberadaan Allah tidak terikat oleh waktu dan ruang, serta tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

Selain itu, kitab ini menegaskan bahwa Allah adalah Dzat nan Kekal (Baqi), nan berfaedah bahwa keberadaan-Nya tidak bakal pernah berakhir. Allah bakal selalu ada selamanya, tanpa ada perubahan alias kemusnahan. Sifat kekal ini menunjukkan keagungan dan keperkasaan Allah nan tak terbatas.

Lebih jauh, Kitab ‘Aqidatul Awam juga menggarisbawahi bahwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya (Mukhalafatu lil Hawadith). Allah tidak serupa dengan apa pun nan ada di alam semesta ini, baik dalam sifat, esensi, maupun perbuatan. Konsep ini menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat nan unik dan tidak dapat dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya, menekankan kemurnian dan keesaan-Nya sebagai Tuhan nan Maha Esa.

Sifat Allah dalam Kitab ‘Aqidatul Awam

فَٱللهُ مَوۡجُـودٌ قَـدِيمٌ بَاقِـي * مُخَالـِفٌ لِلۡـخَـلۡقِ بِٱلۡإِطۡلاَقِ

Allah wujud, qidam dulu, baqa’ kekal; Tak serupa dengan makhluk nan tak kekal.

Pengarang kitab ‘Aqidatul Awam memulai pembahasan tentang sifat-sifat wajib bagi Allah. Wajib nan disematkan kepada Allah berbeda makna dengan wajib nan disematkan kepada selain-Nya. nan dimaksudkan wajib tersebut adalah sifat-sifat nan pasti ada pada Allah nan maha kuasa, tidak mungkin meniadakannya pada Allah, logika bakal susah menerima jika beberapa sifat tersebut tidak ada pada Dzat nan Maha Segalanya tersebut.

Sebagai hamba nan beriman, kita kudu menetapkan bahwa Allah dzat nan Maha Sempurna dengan seluruh keindahannya dan terbebas dari sifat kekurangan. Sedangkan, mengerjakan alias meninggalkan segala perihal nan memungkinkan bagi Allah, perihal tersebut merupakan sesuatu nan boleh boleh saja; tidak wajib dan tidak pula mustahil.

Oleh lantaran itu, Ulama’ mengklaster beberapa sifat wajib bagi Allah nan berjumlah 20 sifat kepada 4 bagian: 1. Sifat Nafsiyyah, 2. Sifat Salbiyyah, 3. Ma’ani, dan 4. Maknawiyah.

Nafsiyyah terdapat satu sifat ialah sifat Wujud (Ada), sedangkan Salbiyyah ada 5 sifat, antarara lain: Qidam (Maha terdahulu), Baqa’ (Continu), Mukholafatuhu li al-Hawadits (Berbeda dengan Makhluk), Qiyamuhu bi Nafsihi (Tegak dengan dirinya sendiri), Wahdaniyyah (Maha Esa).

Yang dimaksudkan Salbiyyah pada sifat-sifat ini adalah menegasi segala perihal nan tidak layak disematkan kepada Allah SWT. Contoh sederhanaya seperti sifat Qidam yang mengisyaratkan bahwa sifat tersebut menegasi adanya sesuatu nan mendahului Allah, artinya Allah dengan sifat Qidam-Nya tidak mempunyai permulaan. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal 52-53)

Ma’ani sendiri mempunyai 7 sifat, antara lain: Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak), al-‘Ilmu (Mengetahui), al-Hayat (Hidup), al-Sam’u (Mendengar), al-Basharu (Melihat), dan al-Kalamu (Berfirman).

Jika Ma’ani merupakan aktivitas Allah, Ma’nawiyyah adalah sifat nan melekat pada dzat. Artinya Ma’nawiyyah ini merupakan sifat nan lazim-timbul disebabkan sifat Ma’ani, Terdapat 7 sifat pula, yaitu: Qadhiran (Maha Kuasa), Muridan (Maha Berkehendak), ‘Aliman (Maha Mengetahui), Hayyan (Maha Hidup), Sami’an (Maha Mendengar), Bashiran (Maha Melihat)dan Mutakalliman (Maha Berfirman).

Analogi sederhana dari sifat Ma’ani dan Maknawiyyah. Ketika seseorang bisa memandang sesuatu (sifat Ma’ani), maka secara otomatis orang tersebut disebutkan orang nan memandang (sifat Ma’nawiyah). Bila disederhanakan, sifat Ma’ani tersebut sebuah aktivitasnya, sedangkan sifat Ma’nawiyyah merupakan sifat nan melekat pada sesuatu.

Beberapa sifat wajib nan disebutkan pertama kali oleh Sayyid Ahmad al-Marzuki adalah sifat Allah nan Maha Ada, Maha Terdahulu, Maha Kekal dan Berbeda dengan Makhluk-Nya.

 Tulisan ini bakal mendedah satu persatu dari empat sifat wajib tersebut, sebagai berikut:

Sifat Wujud Bagi Allah

 Sayyid Ahmad al-Marzuki menjelaskan sifat Nafsiyyah terlebih dahulu, berupa sifat Wujud, ialah sebuah sifat nan logika tidak bisa menerimanya selain dzat mempunyai sifat tersebut, adanya sifat tersebut dengan adanya dzat itu sendiri bukan disebabkan dari perihal lain. Jika kita mendengar lafadz “Allah” maka logika kita secara otomatis bakal tertuju pada Tuhan nan Maha Ada. (Fathu al-‘Allam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 26)

Sifat bentuk bagi Allah adalah sebuah sifat nan logika manusia bisa menangkapnya. Analogi sederhananya, misalkan di dalam lemari ada sebuah baju, lampau kita keluarkan dari tempatnya, dengan tampaknya baju tersebut maka itu merupakan sifat “ada” dari sebuah baju, jadi sifat “ada” bukan sebuah sifat tambahan.

Demikian sifat bentuk bagi Allah. Secara logika tidak mungkin Allah tidak mempunyai sifat wujud (ada), lantaran ketika tidak adanya sifat bentuk bagi Allah, niscaya alam sementara ini tidak ada. (Nur ad-Dhalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 36)

Sifat Qidam bagi Allah

Sifat Maha Terdahulunya Allah merupakan sifat nan menunjukkan bahwa Allah tidak ada permulaannya, lantaran Allah sendiri adalah dzat nan menjadi asal dari segala sesuatu nan ada di muka bumi dan nan mengadakan alam sementara. Allah Maha Ada sedangkan makhluk selain Allah merupakan nan diadakan oleh Allah. Oleh karenanya maka sudah semestinya Allah mempunyai sifat Maha Terdahulu tanpa didahului oleh sesuatupun. (Jalau al-Afham Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal, 23)

Secara umum makna Qidam ada tiga, jika sifat tersebut juga dikaitkan dengan selain Allah; ada Qidam yang mempunyai batas waktu, seperti: waktu nan lama, disebut juga Qadim Zamani. Karena sifat Qadim bagi makhluk bakal menimbulkan adanya sebuah masa nan bisa dibatasi.

Demikian juga ada Qadim yang disandarkan kepada nan lain, dinamakan Qadim Idhafi, seperti lebih dahulunya orang tua jika dikaitkan dengan anak. Oleh lantaran itu, sifat Qadim bagi Allah bukan Qadim yang disebutkan di atas, melainkan Qadim yang berkarakter Dzati, artinya tidak ada batas waktu dan tidak pula didahului oleh sesuatupun. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 45)

Sifat Baqa’ bagi Allah

Sifat Maha Kekal bagi Allah mempunyai makna tanpa adanya akhir bagi wujudnya Allah. Ketika Allah sudah wajib mempunyai sifat Qidam, sebagaimana nan berlalu, maka mustahil tidak adanya. Allah Maha Kekal nan tidak mempunyai akhir, lantaran Allah merupakan dzat nan tidak berjasad nan bisa mati, perihal itu hanya dimiliki oleh makhluk selain Allah.

Imam al-Allamah al-Fadhali mengatakan: “Jika sesuatu boleh tidak adanya maka sesuatu tersebut tidak bakal mempunyai sifat Qidam, karena setiap sesuatu nan layak ada-tidak adanya, maka adanya sesuatu itu hanya boleh-boleh saja, sedangkan sesuatu nan boleh adanya maka perihal itu dikatakan baru, ketika sesuatu nan baru maka dia memerlukan sesuatu nan menciptakannya”.

Oleh karenanya, Allah tidak mungkin tidak adanya, lantaran Ia adalah dzat nan Wajib Ada. Demikian juga Allah mempunyai sifat Qidam, dengan sifat tersebut maka mustahil Allah tidak ada. Jadi dalil sifat Baqa’ berasas dalil dari sifat Qidam tersebut. (Fathu al-‘Allam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 31)

Sifat Berbedanya Allah dengan Makhluk (Mukhalafatuhu lil Hawadits)

Sifat tersebut berarti bahwa Allah tidak sama dengan makhluknya, lantaran Allah tidak mempunyai daging, tulang, panjang, pendek, menengah. Allah terbebas dari sifat nan dimiliki oleh makhluk. Oleh lantaran itu, andaikan terlintas di dalam akal manusia, bahwa Allah berkarakter sebagaimana sifat nan dimiliki oleh makhluk, maka perihal itu sudah pasti keliru.

Demikian pula Allah tidak memilik tempat, tidak berada di muka bumi ini dan tidak pula berada di luarnya. Sangat jelas sekali bahwa Allah berbeda dengan makhluknya, sebagaimana nan termaktub pada al-Qur’an, Surat as-Syura ayat 11:

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya: (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun nan serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Pemahaman mendalam tentang sifat-sifat Allah ini ibaratkan kompas bagi umat Islam dalam mengarungi samudra kehidupan. Dengan mengenal Allah seutuhnya, kita dapat memantapkan keimanan, menguatkan ibadah, dan menjalani hidup dengan penuh makna dan ketundukan kepada-Nya.

Kitab ‘Aqidatul Awam bukan sekadar kitab teks, namun pedoman spiritual nan menuntun kita menuju keesaan Allah dan prinsip diri sebagai hamba-Nya. Mempelajarinya dengan penuh keikhlasan dan keterbukaan hati bakal membuka gerbang keagamaan nan kokoh dan menuntun kita pada kebahagiaan asasi di bumi dan akhirat.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah