Kitab ‘aqidatul Awam: Anjuran Membaca Hamdalah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia– Aqidatul Awam” adalah salah satu kitab nan membahas aqidah (keyakinan) dalam Islam. Kitab ini membahas beragam aspek keyakinan nan mendasar bagi umat Islam. Pada salah satu isinya, di bagian pengantar menjelaskan rekomendasi unik tentang membaca hamdalah (pujian kepada Allah) setelah menyelesaikan pekerjaan.

Dalam Islam, praktik rekomendasi membaca hamdalah sangat penting, sebagai mengingat pentingnya berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat nan telah diberikan-Nya kepada kita. Hamdalah adalah ungkapan syukur dan pengakuan atas karunia Allah.

فَالۡحَـمۡـدُ ِللهِ ٱلۡـقَدِيمِ ٱلۡأَوَّلِ * ٱلآخِـرِ ٱلۡبَاقـِي بِلاَ تَحَـوُّلِ

Artinya; “Maka segala puji milik Allah # nan Dahulu, Awal, Akhir, Kekal tak berubah’

Mensyukuri segala nikmat nan Allah berikan kepada seorang hamba merupakan sebuah keharusan, lantaran rasa syukur tersebut merupakan corak rasa terimakasih kita selaku hamba. Seorang hamba nan bijak, selain berterima kasih terhadap nikmat nan Allah berikan, juga kudu memaksimalkan segala nikmat tersebut sesuai dengan kemanfaatannya. Menggunakan tangan untuk menulis, misalnya. Demikian nan mushonnif kitab ‘Aqidatul Awam praktikkan.

Ada perbedaan nan sangat kontras antara الحمد (bermakna memuji) dan الشكر (bermakna bersyukur). Syekh Nawawi al-Bantani menyebut dalam kitabnya bahwa al-Hamdu secara terminologi (ishtilahan) adalah sebuah aktivitas untuk mengagungkan Dzat Pemberi Nikmat lantaran pemberian nikmat terhadap orang nan memuji.  

Sedangkan as-Syukru secara terminologi (ishtilahan) merupakan sebuah aktivitas hamba dalam memanfaatkan nikmat nan Allah berikan kepadanya sesuai dengan argumen nikmat itu diciptakan, contohnya: seorang hamba menggunakan akal-pikirannya untuk merenungi segala buatan Allah, menggunakan telinga untuk mendengarkan sesuatu nan berbobot positif. (Nur ad-Dhalam Syarh ‘Aqidatul Awam, hal. 20).

Jika dibahasakan, bahwa memuji sebatas aktivitas pujian terhadap dzat nan Maha Agung, maka corak bersyukurnya gimana pujian itu mewujud menjadi sebuah aktivitas al-Amr bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘an al-Munkar (memerintahkan sesuatu nan betul dan melarang sesuatu nan dilarang).

Namun demikian, ada relasi antara al-Hamdu dengan as-Syukru, salah satunya terletak pada al-Hamdu secara terminologi dan as-Syukru secara etimologi. Jika al-Hamdu secara terminologi (ishtilahan) adalah sebuah aktivitas untuk mengagungkan dzat Pemberi Nikmat lantaran pemberian nikmat terhadap orang nan memuji.

Pada sisi lain, as-Syukru secara etimologi (lughatan) adalah sebuah aktivitas untuk mengagungkan dzat Pemberi Nikmat lantaran pemberian nikmat terhadap orang nan bersyukur. Hanya ada perubahan pada kata terakhir.

Ada lima komponen dalam terealisasinya al-Hamdu tersebut, sebagai berikut: 1. Orang nan memuji (orang mengucapkan al-Hamdu), 2. Dzat nan dipuji (Allah SWT), 3. Anggota badan nan digunakan untuk memuji (lisan), 4. Sesuatu nan patut dipuji (nikmat dan sebagainya), 5. Lafadz pujian dengan paling bagusnya memuji. Sedangkan paling utama menggunakan lafadz pujian: “Allahumma laka al-Hamdu hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi mazidahu”. (Fath al-‘Allam Syarh Mandzuma ‘Aqidatul Awam, Hal. 19)

 Sedangkan pujian sendiri terbagi menjadi 4 macam:

  1. Pujian Dzat nan Qadim pada Dzat-Nya sendiri, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Anfal:40.
  2. Pujian Dzat nan Qadim terhadap makhluk, seperti Allah memuji kepada para nabi dan para sufi. Hal ini tertera dalam al-Qur’an surat Shod:30/
  3. Pujian makhluk terhadap kepada Dzat nan Qadim, ialah seorang hamba memuji kepada Allah SWT dengan mengucapkan al-Hamdu lillahi.
  4. Pujian makhluk terhadap sesama makhluk, seperti pujian seorang hamba  terhadap hamba nan lain. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 15)

Hukum pengucapan al-Hamdu juga dibagi menjadi 4 macam:

  1. Bersifat wajib seperti di dalam sholat dan juga khutbah jum’at.
  2. Hukumnya sunnah seperti pada khutbah pernikahan dan permulaan doa.
  3. Haram hukumnya lantaran memuji terhadap sesuatu nan diharamkan. Contohnya: memuji ketika meminum khamr.
  4. Bersifat makruh seperti melakukan perkara makruh, mencabut uban, misalnya. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 15)

Ada nan menarik dari penelitian ustadz tentang lafadz al-Hamdu. Huruf nan terdapat pada lafadz tersebut ada 5 huruf, sedangkan surat-surat dalam al-Qur’an nan dimulai dengan lafadz al-Hamdu ada 5 surat, antara lain: 1. Surat al-Fatihah, 2. Surat al-An’am, 3. Surat al-Kahfi, 4. Surat Saba’, dan 5. Surat Malaikat.

Tak cukup sampai di sana, ayat terakhir dari beberapa surat al-Qur’an nan diakhiri dengan lafadz al-Hamdu pun ada 5 surat, sebagai berikut: 1. Surat Bani Israil, 2. Surat an-Naml, 3. Surat as-Shaffat, 4. Surat az-Zumar, dan 5. Surat al-Jatsiyah. Hal ini sebagaimana nan ditulis Imam Nawawi al-Jawi dalam kitab anggitannya. (Nur ad-Dholam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 22)

Sedangkan lafadz al-Hamdu Lillahi terdapat 8 huruf, perihal ini sama seperti pintu-pintu surga nan mempunyai 8 pintu. Oleh lantaran itu, peralatan siapa nan membaca lafadz tersebut dengan kekhusyuan hati nan paling dalam, maka dia bakal dimasukkan ke dalam surganya Allah sesuai dengan kehendak-Nya. Demikian nan disampaikan oleh Imam Ahmad al-Malawi disitir oleh Imam Nawawi al-Bantani.

Terlepas dari perihal di atas, dianjurkannya melafadzkan hamdalah merupakan sebuah tuntunan dari hadist Rasulullah SAW nan berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللهِ أَقْطَعُ

Artinya: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah, dari Rasulullah bersabda: setiap perkara baik tidak dimulai dengan (mengucapkan) hamdalah, maka perkara tersebut bakal terputus (keberkahannya)”. (Sunan al-Kubra li an-Nasa’i, Hal. 184, Juz 9)

Imam Ahmad al-Marzuki memuji terhadap Dzat nan Maha Dahulu (al-Qadim), Dzat nan Maha Awal (al-Awwal), Dzat nan Maha Terakhir (al-Akhir), Dzat nan Maha Kekal (al-Baqi) tanpa adanya perubahan (bila tahawwul). nan dimaksudkan dari sifat al-Qadim adalah Dzat nan wajib adanya sebelum adanya sesuatu.

Sedangkan sifat al-Awwal bermakna dzat nan pertama tanpa adanya permulaan, al-Baqi sendiri mempunyai makna continu dan tidak lenyap. Terakhir, tidak berubahnya Allah dengan makna tanpa adanya perubahan dari satu keadaan kepada keadaan nan lain, lantaran perihal tersebut merupakan sifat dari makhluk. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 18)

Oleh lantaran itu Imam Nawawi al-Jawi membagi “sesuatu” menjadi 4 bagian:

  1. Adakalanya sesuatu itu tidak mempunyai permulaan dan akhir, adalah Dzat Allah SWT beserta sifatnya.
  2. Ada pula sesuatu mempunyai permulaan dan akhir, ialah seluruh makhluk.
  3. Ada juga sesuatu tidak mempunyai permulaan namun mempunyai akhir, adalah ketiadaan kita nan azali, lalu berhujung ketika kita sudah diciptakan.
  4. Ada sesuatu nan mempunyai permulaan namun tidak ada akhirannya, adalah alam akhirat. (Nur ad-Dholam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 23).

Demikian keterangan tentang Kitab ‘Aqidatul Awam tentang rekomendasi membaca Hamdalah. Semoga bermanfaat. [Baca juga: Bacaan Kalimat Hamdalah nan Paling Sempurna]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah