Kondisi Hati Yang Dihuni Oleh Tauhid

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Tauhid merupakan nikmat terbesar nan dianugerahkan Allah Ta’ala kepada seorang hamba. Di awal surah an-Nahl nan juga dinamakan dengan surah an-Ni’am (berbagai kenikmatan), Allah Ta’ala berfirman,

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa nan Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, ialah “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah Anda bertakwa kepada-Ku.” (QS. An-Nahl: 2)

Inilah kenikmatan pertama nan disebutkan dalam surah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa taufik untuk bertauhid merupakan kenikmatan terbesar nan dianugerahkan oleh Allah kepada seorang hamba. Sufyan bin Uyainah rahimahullah menyatakan,

مَا أنْعَمَ الله على العِبادِ نِعْمَةً أعْظَمَ من أنْ عرّفَهُم لا إلَهَ إلّا الله

“Tidak ada kenikmatan nan dianugerahkan Allah kepada hamba melampaui hidayah makrifat (ilmu) terhadap prinsip kalimat tauhid laa ilaha illallah.” (Lihat Kalimat al-Ikhlas, hal. 53; karya Ibnu Rajab)

Hati merupakan kediaman (tempat tinggal) bagi tauhid, mahabbah (rasa cinta), dan keimanan. Cahaya tauhid bakal menyucikan hati, lantaran tauhid nan terpatri di dalam hati mengandung pengingkaran terhadap penyembahan nan batil kepada selain Allah dan penetapan adanya penyembahan nan kewenangan (benar) hanya kepada Allah saja. Inilah intipati dan prinsip dari kalimat tauhid “laa ilaha illallah” serta merupakan perkara terbaik nan diperoleh dan dicapai oleh hati dan jiwa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

قِيلَ يا رَسولَ اللَّهِ مَن أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتِكَ يَومَ القِيَامَةِ؟ قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لقَدْ ظَنَنْتُ يا أبَا هُرَيْرَةَ أنْ لا يَسْأَلُنِي عن هذا الحَديثِ أحَدٌ أوَّلُ مِنْكَ لِما رَأَيْتُ مِن حِرْصِكَ علَى الحَديثِ أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتي يَومَ القِيَامَةِ، مَن قالَ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِن قَلْبِهِ، أوْ نَفْسِهِ

“Terdapat satu pertanyaan nan diajukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang nan paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang nan mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini. Karena saya memandang Engkau sangat tertarik terhadap hadis. Orang nan paling berbahagia dengan syafaatku pada hari hariakhir adalah orang nan mengucapkan “laa ilaaha illallah” dengan tulus dari hatinya alias jiwanya.” (HR. Bukhari no. 99)

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Setiap orang nan meninggal dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan nan berkuasa disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hati, niscaya dia masuk surga.” (HR. Ahmad no. 22003, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2278)

Tauhid inilah nan menjadi tujuan utama pembuatan makhluk dan menjadi misi utama diutusnya para rasul, sebagaimana nan difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum Anda melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berkuasa disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُۗ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Maka di antara umat itu ada orang-orang nan diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang nan telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah Anda di muka bumi dan perhatikanlah gimana kesudahan orang-orang nan mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl:36)

Baca juga: Antara Tauhid dan Talbiyah

Keberadaan tauhid bakal menjadikan hati bisa hidup dengan kehidupan nan hakiki. Sebaliknya, tanpa tauhid, hati bakal “hidup” layaknya hewan ternak. Allah Ta’ala berfirman,

أِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti hewan ternak, apalagi mereka lebih sesat jalannya (dari hewan ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44)

Oleh lantaran itu, seorang nan tidak bertauhid itu seperti seonggok mayat, meskipun dia hidup dan melangkah di atas muka bumi. Sedangkan seorang nan bertauhid bakal menjalani hidup dengan kehidupan nan hakiki. Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْۖ

“Hai orang-orang nan beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul andaikan Rasul menyeru Anda kepada sesuatu nan memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal: 24)

Keamanan dalam negara, ketenteraman, dan kebahagiaan bagi manusia juga terwujud dengan keberadaan tauhid. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang nan beragama dan tidak mencampuradukkan ketaatan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang nan mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang nan mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًاۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًاۚ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang nan beragama di antara Anda dan mengerjakan amal-amal nan saleh bahwa Dia sungguh-sungguh bakal menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia bakal meneguhkan bagi mereka kepercayaan nan telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia betul-betul bakal menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi kondusif sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nur: 55)

Kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa pun terwujud dengan keberadaan tauhid. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةًۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Setiap orang nan mengerjakan kebaikan saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya bakal Kami berikan kepadanya kehidupan nan baik dan sesungguhnya bakal Kami beri jawaban kepada mereka dengan pahala nan lebih baik dari apa nan telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ؛ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lampau barangsiapa nan mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak bakal sesat dan tidak bakal celaka. Dan barangsiapa beralih dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan nan sempit, dan Kami bakal menghimpunkannya pada hari hariakhir dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124)

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk mentauhidkan-Nya, melakukan setiap kebaikan perbuatan nan dicintai dan diridai-Nya. Semoga Allah menghimpun hati kita di atas kepercayaan nan Dia ridai dan kepercayaan nan dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Baca juga: Tantangan Dakwah Tauhid

***

“Menulis adalah nasihat untuk diri sendiri”

@BA, 20 Syawal 1445/ 29 April 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 18; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah