Kincai Media – Pendiri BitMEX sekaligus miliarder Bitcoin Arthur Hayes kembali mengusulkan proyeksi garang untuk Bitcoin (BTC). Menurut Hayes, BTC berpotensi melonjak sigap ke US$ 200.000 dalam waktu dekat sebelum mengalami koreksi dan membentuk titik dasar baru di atas US$ 124.000.
Dalam blog terbarunya, Hayes mengaitkan lonjakan tersebut denga kebijakan baru The Fed yang disebut Reverse Management Purchase (RMP). Ia menyamakan sistem ini dengan corak baru, quantitative easing, kebijakan yang selama ini dikenal sebagai bahan bakar utama reli aset beresiko.

Hayes mengatakan istilah RMP langsung menarik perhatiannya setelah pertemuan FOMC pada 10 Desember. Menurutnya meskipun dikemas dengan istilah teknis berbeda, substansinya tetap sama, ialah penambahan likuiditas.
Ia secara terbuka mengakui kecintaan pada kebijakan pelonggaran moneter. Bagi Hayes, pencetakan duit selalu menjadi katalis positif bagi aset yang dia miliki, termasuk emas, saham penambang dan terutama Bitcoin yang menurutnya tumbuh lebih sigap daripada laju pelemahan mata duit fiat.
Dalam pandangan jangka panjang, Hayes apalagi meyakini bahwa jika kebijakan seperti ini terus berlanjut, Bitcoin berkesempatan menggantikan sistem moneter berbasis fractional reserve yang dia sebut ‘kotor’.
Target Direvisi, Tapi Optimisme Jangka Pendek Tetap Tinggi
Hayes sebelumnya sempat memprediksi Bitcoin bakal menembus US$ 250.000 pada akhir tahun ini, juga dengan argumen likuiditas global. Target tersebut sekarang dia koreksi. Untuk saat ini, dia memperkirakan BTC bakal bergerak dalam kisaran US$ 80.000 – US$ 100.000.
Baca Juga: Bitcoin Terlihat ‘Mati’ di Setiap Bottom, Berikut Polanya Menurut Analis
Namun, optimisme itu kembali muncul saat memasuki tahun depan. Menurut Hayes, begitu pasar betul-betul menyamakan RMP dengan QE, Bitcoin bakal dengan sigap merebut kembali US$ 124.000 dan melaju menuju US$ 200.000. Ia apalagi memperkirakan Maret sebagai puncak ekspektasi terhadap akibat RMP, sebelum pasar mengalami koreksi sehat dan membentu local bottom yang tetap berada jauh di atas level sebelumnya.
Dalam proyeksinya, kebijakan moneter bakal tetap akomodatif di bawah pengaruh John Williams, yang menjabat sebagai wakil ketua FOMC. Selama likuiditas terus mengalir, Hayes menilai tekanan turun Bitcoin bakal berkarakter terbatas.
Pasar Terbelah di Tengah Narasi Bear Market
Untuk mencapai sasaran US$ 200.000, Bitcoin perlu naik sekitar 127 persen dari nilai saat ini. BTC terakhir berada pada kisaran nilai US$ 88.000, tetap sekitar 30 persen di bawah rekor tertinggi US$ 126.080.
Komentar Hayes muncul di hari yang sama ketika CryptoQuant menyatakan bahwa Bitcoin telah memasuki fase bear market, yang didasarkan pada melemahnya permintaan, turunnya funding rate, serta perubahan pasar sejak Oktober.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan kondisi pasar saat ini. Di satu sisi, informasi on-chain menunjukkan fase defensif. Di sisi lain, pelaku makro seperti Hayes memandang likuiditas bank sentral sebagai pemicu reli berikutnya.
Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·