Kritik Hadis Doa Buka Puasa Untuk Salafi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Di antara ibadah sunnah nan biasa dilakukan umat Muslim tapi dianggap bermasalah oleh Salafi adalah melafalkan angan buka puasa berikut:

…. اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت

Hadis ini dianggap dhaif (lemah) oleh teman-teman Salafi, dan dianjurkan untuk tidak diamalkan oleh mereka. Bagi mereka, sabda dhaif itu tertolak dan tidak boleh diamalkan. Apa betul begitu?

Kita urai satu-satu. Pertama, hadis ini merupakan hadis mursal yang terdapat dalam Sunan Abi Daud melalui jalur Mu‘ādz bin Zuhrah/Mu‘ādz Abu Zuhrah. Apa itu sabda mursal? Seorang tabiin menyebut bahwa sabda nan dia dengar itu dari Nabi tanpa menyebut gurunya dari kalangan sahabat. Tabi’i —– Nabi. Seharusnya tabi’i —- sahabat Nabi —- Nabi.

Pada awalnya para ustadz tidak meragukan sabda mursal sebagai dalil sebagaimana nan disampaikan oleh Ibnu Jarir demikian:

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَأَجْمَعَ التَّابِعُونَ بِأَسْرِهِمْ عَلَى قَبُولِ الْمُرْسَلِ، وَلَمْ يَأْتِ عَنْهُمْ إِنْكَارُهُ، وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ بَعْدَهُمْ إِلَى رَأْسِ الْمِائَتَيْنِ.

Imam Ibnu Jarir berpendapat: Semua tabiin sepakat menerima sabda mursal, dan tidak ada nan menginkari satu pun dari mereka, dan satu pun para pemimpin setelah mereka sampai permulaan tahun 200 hijriah.

Masalahnya, sebagai seorang tabiin, Mu‘ādz bin Zuhrah ini tidak diketahui secara komplit biografinya, kapan dan di mana dia lahir dan wafat. Apakah dia termasuk tabiin generasi sebelum tahun 200 hijriah alias setelahnya?

Tapi kita bisa memperkirakan kapan Mu‘ādz bin Zuhrah ini hidup melalui muridnya, ialah Hushain bin Abdurrahman al-Sulami. Ia termasuk tabiin junior nan wafat pada tahun 136 hijriah.

Bila mengikuti norma Imam Ibnu Jarir di atas, kemungkinan besar sabda ini termasuk nan tetap diterima oleh para ulama, lantaran diriwayatkan oleh rawi tabiin nan tidak melewati tahun 200 hijriah.      

Belakangan sabda mursal dikategorikan sebagai sabda dhaif. Tapi sabda dhaif ini bisa naik derajatnya menjadi sabda hasan li ghairih apalagi shahih jika terdapat sabda lain nan menguatkan. Imam as-Suyuthi menyampaikan demikian:  

(فَإِنْ صَحَّ مُخْرَجُ الْمُرْسَلِ بِمَجِيئِهِ) أَوْ نَحْوِهِ (مِنْ وَجْهٍ آخَرَ مُسْنَدًا أَوْ مُرْسَلًا أَرْسَلَهُ مَنْ أَخَذَ) الْعِلْمَ، (عَنْ غَيْرِ رِجَالِ) الْمُرْسَلِ (الْأَوَّلِ كَانَ صَحِيحًا) هَكَذَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الرِّسَالَةِ

Kalau jalur periwayatan sabda mursal ini ada nan menguatkan dari jalur periwayatan lain nan berupa musnad atau mursal juga nan didapat dari jalur rawi-rawi selain mursal yang pertama, sabda ini bisa menjadi shahih. Seperti inilah penjelasan Imam al-Syafi‘I dalam kitab al-Risālah.

Namun sabda di atas semestinya tidak masuk dalam kategori nan disampaikan Imam as-Suyuthi ini.

Kedua, menurut Syekh Syu‘aib al-Arnauth, saat mengomentari sabda ini sebagai penyunting Sunan Abi Daud, sabda serupa juga terdapat dalam al-Thabaqāt al-Kubrā melalui jalur al-Rabī bin Khutsaim.

Menurutnya, angan ini berasal dari al-Rabī bin Khutsaim, seorang tabiin senior. Ia hidup pada masa Jahiliah, masuk Islam, pernah semasa dengan Nabi, tapi tidak pernah menemuinya. Menurut Syekh Syu‘aib, sabda angan buka puasa ini bukan dari Nabi, tapi dari al-Rabī bin Khutsaim.  

Jika demikian, sabda ini termasuk dalam kategori sabda maqthū‘, hadis nan sumber riwayatnya itu dari tabiin (senior/junior) alias rawi setelahnya, tabiut tabi‘īn. Sebagian ustadz membedakannya dengan istilah atsar. Jadi jika sumbernya dari Nabi disebut hadis, dari sahabat disebut khabar, dan dari tabiin segenerasi bawahnya disebut atsar.

Namun ustadz sabda menggarisbawahi andaikan atsar ini ada penguat nan berasal dari Rasulullah, seperti dalam riwayat Sunan Abi Daud di atas, maka atsar ini sama kuatnya berasal dari Nabi. Imam al-Sakhawi dalam Fathul Mughits berpendapat:

وَيُحْكَمَ لَهُ بِالرَّفْعِ لِلْقَرِينَةِ

Hadis maqthū‘ (atsar) dapat dikategorikan berasal dari Nabi (marfū‘) andaikan ada parameter penjelas.

Katakanlah kita mengikuti logika teman-teman Salafi bahwa sabda ini termasuk dhaif. Apakah kita tidak boleh mengamalkannya?

Ternyata boleh ferguso.

Hadis dhaif nan bukan berangkaian dengan hukum, tapi berangkaian dengan zikir alias angan alias biasa ustadz sebut dengan fadhāilul a‘māl itu boleh kita amalkan.

Syekh ‘Ali Jum’ah dalam Al-Bayan menjelaskan:

فضائل الأعمال مركب لفظي يتوقف فهم معناه على فهم جزئيه ففضائل: جمع فضيلة والأعمال: جمع عمل والمقصود بفضائل الأعمال هي ما رغب فيه عمله الشرع من فضائل كالذكر، والدعاء، والمندوبات الموافقة الأصول الشريعة

“Istilah fadhāilul a‘māl itu tersusun dari dua kata nan maknanya bisa diketahui jika mengetahui makna 2 kata tersebut, ialah kata Fadhā’il dan al-A‘māl. Fadhā’il adalah corak plural dari fadhīlah (keutamaan), sedangkan al-a‘māl adalah corak plural dari ‘amal. Jadi, fadhāilul a‘māl adalah ibadah nan dianjurkan hukum untuk diamalkan seperti zikir, doa, dan ibadah-ibadah sunah lain nan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syariat”

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah