Kultum Ramadhan; Ketentuan Boleh Tidak Puasa Ramadan Saat Perjalanan Mudik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Mudik merupakan tradisi tahunan di Indonesia saat bulan Ramadan. Bagi umat Islam nan melakukan perjalanan mudik, terdapat keringanan dalam menjalankan ibadah puasa, ialah dengan tidak berpuasa alias berbuka puasa. Berikut adalah “Kultum Ramadhan ketentuan boleh tidaknya berpuasa saat mudik

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin pendengar kultum Ramadhan Rahimakumullah!

Puasa Ramadan merupakan tanggungjawab nan dilakukan secara serentak oleh seluruh mukallaf nan tidak mempunyai udzur. Adapun mukallaf dalam kondidi udzur seperti sakit, mengandung alias menyusui, tua renta nan sudah tidak kuat puasa alias juga musafir, maka boleh mengambil rukhshakh (dispensasi) untuk tidak brpuasa dengan sistem nan telah ditentukan oleh hukum Islam.

Ketika mengambil rukhshah, maka ada tanggungjawab lain, ada nan kudu mengqadha’ di hari selain Ramadan, ada nan hanya mengantinya dengan fidyah saja da nada pula nan kudu diganti dengan qadha’ dan fidyah sekaligus. 

Pada kesempatan ini, insya Allah saya bakal konsentrasi membahas pengecualian (rukshah) bagi musafir untuk tidak berpusa, khususnya saat perjalanan mudik menuju kampung halaman. Mengapa perihal ini dirasa sangat krusial dibahas? Jawaban pastinya adalah  lantaran ada sebagian kaum muslimin nan tidak memahami fiqh safar secara komprehensif.

Contoh konkritnya adalah tidak sedikit para pemudik nan tidak berpuasa hanya semata-mata argumen safar. Padahal tidak semua musafir boleh secara absolut mengambil pengecualian untuk tidak berpuasa dan menqada’ di hari lain.

Hadirin pendengar kultum tentang Mudik Rahimakumullah!

Sebelum membahas lebih rinci fiqih safar di bulan Ramadan, terlebih dulu kita menyimak dalil tektstual tentang adanya rukhshah bagi musafir untuk tidak berpuasa dan mengqadha’nya di hari lain, sebagai berikut:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَر.

“Maka barangsiapa di antara Anda sakit alias dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari nan lain.” (Q.S. Al-Baqarah: 184).

Benar sekakali bahwa ayat di atas secara jelas dan tegas membolehkan seorang musafir untuk tidak berpuasa Ramadan namun dia wajib mengganti jumlah hari puasa (qadha’) di bulain lainnya. Tapi sebagi muslim nan baik, kita tidak bisa langsung begitu saja menyimpulkan bahwa kebolehan tersebut bertindak absolut bagi seluruh musafir.

Kita kudu mempelajari fikih safar nan diajarkan oleh para ustadz agar kita tidak salah menyimpulkan suatu hukum. Bahasan fiqih safar merupakan konklusi nan difahami para ustadz fiqh mengenai ayat-ayat Al-Qur’an alias hadis-hadis alias juga perkataan para Sahabat Rasulullah RA mengenai perihal ini.

Hadirin pendengar kultum Ramadhan Rahimakumullah!

Baiklah, mari kita telaah sistem rukhsah bagi musafir untuk tidak berpuasa Ramadan dan mengqadha’ puasa tersebut di hari lain. Setidaknya ada dua referensi primer fiqh madzhab Syafi’i, baik dari kitab klasik dan kotemporer. Yaitu kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab karya Al-Imam An-Nawawi dan Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh, karya As-Syaikh Wahbah Az-Zuhaili.

Secara ringkas, sistem pengecualian tidak puasa Ramadan bagi musafir dalam perjalanan mudik adalah:

  1. Perjalanan safar dimaksud bukanlah untuk melakukan maksiat. Mudik tentunya bermaksud siaturahmi sehingga sah saja bagi musafir untuk tidak berpuasa dan qadha di bulan lain.
  2. Jarak safarnya telah mencapai dua marhalah, ialah 4 burud alias 16 farsakh, jika dikonversikan sekitar 88 KM (Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuh, Wahbah Az-Zuhaili). Jakarta-Jogja misalnya, tentu sudah melampaui 88 KM dan sudah masuk kriteria boleh mengambil rukhshah.
  3. Berangkat safarnya (mudik) kudu dilakukan sebelum masuk waktu subuh dan sudah berada di luar kampung alias kelurahan dimana musafir tersebut berdomisili. Jika berangkatnya setelah shalat subuh, maka saat itu, calon pemudik belum dikatakan musafir. Statusnya saat itu tetap mukim dan tentunya wajib puasa di hari itu. Selama perjalanan, pemudik wajib dalam keadaaan berpuasa. Namun jika di tengah perjalanan mengalami sakit, maka pemudik boleh saja untuk memilih tidak berpuasa dan menggantinya di hari nan lain.
  4. Jika musafir alias pemudik sudah sampai di kampung laman sebelum maghrib dan beriktikad mukim, maka:
  5. Jika pemudik dalam keadaaan tidak berpuasa lantaran rukhshah, sedangkan dia tiba siang hari alias sebelum maghrib, maka dianjurkan untuk tidak makan, minum alias melakukan hal-hal nan membatalkan puasa, Singkatnya, seakan-akan dia berpuasa di sisa waktu siang itu (baqiyyatun nahar). Hal ini dilakukan semata-mata untuk menghormati waktu siang hari Ramadan (lihurmatil waqti).
  6. Jika pemudik tetap dalam keadaan berpuasa, maka pemudik wajib meneruskan puasanya tersebut.

Hadirin pendengar kultum Ramadhan Rahimakumullah!

Sekalipun pemudik sudah masuk kriteria boleh untuk tidak puasa, namun tetap dianjurkan untuk berpuasa jika memang bisa melakukannnya.

Selamat mudik dan persiapkan fisik, mental dan manajemen finansial dengan baik. Jangan lupa mengkondisikan rumah sebelum berangkat mudik. Sebaiknya koordinasikan dengan pihak mengenai demi kenyamanan dan keamanan rumah kita saat ditinggal mudik. Selamat berjumpa dengan keluaga tercinta.

Hadirin pendengar kultum Ramadhan Rahimakumullah!

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah