Kultum Ramadhan; Tetap Produktif Bekerja Saat Berpuasa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Berikut ini Kultum Ramadhan; tetap produktif bekerja saat berpuasa.  Menjaga produktivitas saat berpuasa memanglah sebuah tantangan. Namun, dengan persiapan dan strategi nan tepat, tetap bisa menjalankan pekerjaan dengan optimal di bulan Ramadhan. Berikut beberapa tips nan bisa membantu agar senantiasa tetap produktif.

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Kultum Ramadhan nan Dirahmati Allah

Puasa Ramadan bukan penghalang untuk bekerja produktif. Justru, dengan niat nan tulus dan perencanaan nan baik, ibadah puasa bisa menjadi pendorong semangat kerja. Disiplin dan pengendalian diri nan diperoleh saat berpuasa dapat diterapkan dalam mengatur waktu dan menyelesaikan tugas secara efisien.

Lantas kenapa Puasa Tidak Menghambat Produktivitas? Pertama, puasa melatih disiplin dan kontrol diri.  Selama berpuasa, kita dituntut untuk menahan lapar dan haus.  Disiplin ini terbawa ke dalam bumi kerja.  Kita jadi lebih bisa mengatur waktu, konsentrasi pada pekerjaan, dan menghindari hal-hal nan bisa mengganggu konsentrasi.

Jamaah Kultum Ramadhan nan Dirahmati Allah

Kedua, puasa  menyehatkan tubuh dan pikiran.  Dengan pola makan teratur saat sahur dan berbuka, asupan nutrisi menjadi lebih terjaga.  Hal ini berakibat positif pada kesehatan secara keseluruhan, sehingga kita tetap berenergi dan bisa bekerja secara optimal.  Selain itu, puasa juga diyakini dapat meningkatkan kejernihan pikiran dan ketenangan batin, nan tentunya bakal mendukung produktivitas.

Ketiga, puasa  menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian. Suasana Ramadan nan penuh kebersamaan dan kedermawanan bisa memotivasi kita untuk bekerja lebih giat.  Dengan niat beribadah, kita bakal merasa bahwa pekerjaan nan kita lakukan tidak hanya mendatangkan untung finansial, tetapi juga pahala.

Jamaah nan Berbahagia

Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan manusia bahwa bekerja untuk memenuhi nafkah family termasuk kewajiban. Pada surah at-Taubah ayat 105 Allah mengingatkan pentingnya bekerja serta larangan untuk bermalas-malasan. 

  وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ   

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin bakal memandang pekerjaanmu itu, dan Anda bakal dikembalikan kepada (Allah) nan Mengetahui bakal nan ghaib dan nan nyata, lampau diberitakan-Nya kepada Anda apa nan telah Anda kerjakan.

Jamaah nan Berbahagia

Pada sisi lain, dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun dengan pekerjaan nan kasar, lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain. Hal ini bertindak meskipun orang nan dimintai memberi alias menolak permintaan tersebut.

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Sungguh seorang dari kalian nan memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya alias menolaknya. [HR. Bukhari dan Muslim].

Mengomentari hadits tersebut Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini juga menganjurkan umat Islam untuk menyantap hasil kerja sendiri, bukan hasil mencuri alias menipu.  Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah, lantaran perihal ini dianggap sebagai corak ibadah. Rasulullah Muhammad SAW sendiri memberikan contoh dengan berupaya dan bekerja keras untuk menyediakan kebutuhan dirinya serta keluarganya.

Jamaah nan Berbahagia

Pun dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengingatkan umatnya agar tidak hanya berdoa, namun juga melakukan upaya nyata dalam mencari rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kerja keras sebagai salah satu langkah untuk mencapai keberkahan dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Selain menekankan pentingnya upaya dan kerja keras, Islam juga menganjurkan agar setiap orang bekerja dengan langkah nan halal. Konsep ini merujuk pada prinsip bahwa segala sesuatu nan diperoleh haruslah melalui langkah nan sah dan tidak melanggar patokan agama.

Dalam Islam, kehalalan dalam mencari nafkah dianggap sebagai bagian krusial dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Oleh lantaran itu, umat Islam diajarkan untuk menghindari segala corak pekerjaan alias praktik nan melibatkan penipuan, korupsi, alias pemanfaatan terhadap orang lain.

Jamaah nan dirahmati Allah

Imam Nawawi berbicara dalam kitab Shahih Muslim;

إنَّ فِي الْحَدِيثِ حَثًّا عَلَى الصَّدَقَةِ وَالأَكْلِ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَالِاكْتِسَابِ بِالْمَبَاحَاتِ.

Sesungguhnya dalam hadits tersebut terdapat rekomendasi untuk bersedekah, makan dari hasil kerja tangan sendiri, dan mencari penghasilan dengan langkah nan halal.

Dengan demikian, puasa bukan argumen untuk menjadi tidak produktif dalam bekerja. Justru sebaliknya, puasa melatih setiap orang untuk bisa lebih disiplin dan berdikari dalam kehidupannya.
—————–
*Konten ini berasal dari kitab _Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan: Materi Kuliah dan Khutbah di Masjid dan Musala selama Ramadan._, nan diterbitkan oleh Subdit Tim Layanan Syariah Subdirektorat (Subdit) Hisab Rukyat dan Syariah dan Badan Kesejahteraan Masjid.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah