Kultum Singkat; Keutamaan Menyiapkan Makan Sahur

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia- Menyiapkan makan sahur bukan hanya tentang mengisi perut sebelum berpuasa, tetapi juga mengandung banyak keutamaan, baik secara kepercayaan maupun kesehatan. Berikut “Kultum Singkat; Keutamaan Menyiapkan Makan Sahur

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ فِي شَهْرِ رَمَضَان الْقُرْآنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي خُلُقُهُ الْقُرْآنُ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِي الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Pendengar Kultum Singkat nan dimuliakan Allah

Ibadah puasa kudu dijalankan dengan penuh ketulusan. Sebagai corak ketulusan tersebut, kita kudu mempersiapkan ibadah dengan sebaik-baiknya. Persiapan ini dapat berfaedah persiapan sebelum memasuki bulan puasa. Atau ketika sudah berada di bulan puasa.

Islam mengajarkan agar kita menyiapkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa dengan melakukan makan sahur. Makan sahur tidak hanya merupakan persiapan nan berkarakter lahiriah, untuk menyimpan daya selama menjalankan puasa. Tetapi, ada nilai keistimewaan tersendiri di luar faedah jasadiyah. Nilai-nilai itu telah dijelaskan dalam sejumlah sabda Nabi SAW dan penjelasan para ustadz terhadap sabda tersebut.

Hadirin Pendengar Kultum Singkat nan dimuliakan Allah

Dalam konteks menjelaskan nilai keistimewaan sahur ini, Rasulullah SAW menyabdakan:

تَسَحَّرُوا؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah. Karena, dalam makan sahur terdapat keberkahan (HR. al-Bukhari).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari. Karenanya, kesahihan sabda tersebut tidak perlu dipertanyakan. Berdasarkan perintah dalam sabda tersebut, para ustadz bermufakat disunnahkannya makan sahur. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim, jilid 7 laman 206, mengatakan;

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ

Para ustadz bermufakat bakal kesunnahan makan sahur, dan bahwa makan sahur bukan perkara nan diwajibkan.

Hadirin Pendengar Kultum Singkat nan dimuliakan Allah

Arti keberkahan dalam sabda adalah dia mengandung banyak sekali kebaikan. Di antara corak kebaikan makan sahur adalah dia dapat membikin orang kuat menjalankan ibadah puasa dan membikin lebih bersemangat. Dengan seperti itu, berpuasa menjadi terasa lebih ringan dijalankan.

Ketika puasa terasa ringan, ada kemauan untuk berpuasa lagi. Berbeda dengan orang nan tidak makan sahur, dia bakal merasa berat menjalankan puasa. Mungkin dia bakal menganggapnya sebagai ibadah nan berat. Demikian penjelasan Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Hadirin Pendengar Kultum Singkat nan dimuliakan Allah

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menulis beragam corak keberkahan makan sahur:

الْبَرَكَةَ فِي السُّحُورِ تَحْصُلُ بِجِهَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ ، وَهِيَ : اتِّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَمُخَالَفَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ ، وَالتَّقَوِّي بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ ، وَالزِّيَادَةُ فِي النَّشَاطِ ، وَمُدَافَعَةُ سُوءِ الْخُلُقِ الَّذِي يُثِيرُهُ الْجُوعُ ، وَالتَّسَبُّبُ بِالصَّدَقَةِ عَلَى مَنْ يَسْأَلُ إِذْ ذَاكَ ، أَوْ يَجْتَمِعُ مَعَهُ عَلَى الْأَكْلِ ، وَالتَّسَبُّبُ لِلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَقْتَ مَظِنَّةِ الْإِجَابَةِ ، وَتَدَارُكُ نِيَّةِ الصَّوْمِ لِمَنْ أَغْفَلَهَا قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

Berkah dalam sahur dapat diperoleh dengan beberapa bentuk; mengikuti sunnah Nabi, menyelisihi mahir kitab, mengambil kekuatan untuk ibadah, menambah semangat, menolak perilaku jelek nan timbul akibat rasa lapar, mendorong infak kepada orang nan meminta sahur pada waktu sahur, berkumpul untuk makan sahur bersama, mendorong dilaksanakannya zikir dan angan pada waktu nan mustajab, membaca niat bagi orang nan lupa membaca niat sebelum tidur (Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, jilid 4, laman 140)

Hadirin Pendengar Kultum Singkat nan dimuliakan Allah

Ada poin nan menarik dalam penjelasan Imam Ibnu Hajar di atas. Yaitu, sahur menjadi karena kita berbagi infak kepada orang lain nan memerlukan makan sahur pada waktu sahur. Poin ini penting, tidak hanya bagi orang nan bersahur, tetapi bagi orang nan mau menyediakan makan sahur bagi orang lain. Poin ini sering dilupakan masyarakat kita. Memberi alias menyiapkan makan sahur untuk orang lain adalah suatu ibadah nan utama.

Amalan menyiapkan makan sahur untuk orang lain sering dianggap remeh. Padahal, dia merupakan ibadah sosial nan utama. Karena, ibadah tersebut merupakan ibadah sosial nan dilakukan di bulan Ramadan untuk membantu orang nan bakal menjalankan tanggungjawab agama. Dalam sebuah norma fikih dikatakan, al-muta’addi afdhalu min al-qashir.

Artinya, ibadah nan dapat berfaedah untuk orang lain lebih utama dibanding ibadah nan hanya kembali kepada pelakunya. Menyiapkan makan sahur adalah corak saling tolong-menolong dalam kebaikan. Al-Qur’an mengatakan, wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan).

Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang lain nan bakal menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah corak tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sedekah nan paling utama adalah infak di bulan Ramadan.

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan, afdhalu as-shadaqah shadaqah fi Ramadan. Artinya, infak nan paling utama adalah infak di bulan Ramadan. Berbagi makan sahur alias menyiapkan makan sahur merupakan corak infak di bulan Ramadan.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah