Langkah Menyederhanakan Hati (bag. 1)

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Makin hari, perputaran bumi ini rasanya terlalu cepat. Semua orang seolah saling membalap, seakan terburu-buru memenuhi tuntutan era nan sangat sigap berubah nan dipenuhi ketidakpastian. Alhasil, hanya tubuh kita nan berada di masa kini, sedangkan hati dan pikiran kita ada di mana-mana.

Kita tidak betul-betul menyadari, apalagi menikmati aktivitas nan sedang dilalui. Boleh jadi, di saat nan sama pikiran kita disandera oleh penyesalan masa lalu, alias dipenuhi kekhawatiran bakal masa depan baik mengenai nasib diri, keluarga, hingga prediksi standar sosial dan ekonomi beberapa tahun ke depan.

Hidup kita rasanya melangkah autopilot, bergerak sendiri tanpa ada nan mengemudi. Kita jalani hidup ini tanpa kesadaran penuh, hingga kosong dari pemaknaan. Alhasil, sangat lumrah jika akhirnya ada nan merasa capek bentuk maupun jiwa lantaran menjalani rutinitas seperti ini. Beberapa langkah nan dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi akibat negatif hidup autopilot bakal dibahas dalam catatan ini, tentunya dari perspektif pandang tuntunan Ilahi.

Menata hati, menata hidup

Secara ringkas, menyederhanakan hidup telah menjadi jurus nan marak digandrungi untuk menghindari akibat negatif hidup autopilot. Tidak hanya menyederhanakan peralatan dan konsumsi, namun juga menyederhanakan hati, karena menata hati = menata hidup. Banyak nan akhirnya merasa perlu menyederhanakan hati lantaran dia terbatas. Bagai bejana, hati adalah wadah nan tak bisa menampung semua masalah dan urusan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ ، وَآنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ , وَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا

“Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana di atas muka bumi, dan bejana-bejana Tuhan kalian adalah hati-hati hamba-hamba-Nya nan saleh, dan nan paling dicintai oleh Allah adalah nan paling lembut dan nan paling lembut.” [1]

Cobalah luangkan waktu sejenak saja, sekedar untuk mengobrol dengan diri sendiri. Tak ada nan boleh mendengarnya, selain Allah. Karena Allah mencintai hamba-Nya nan berkenan untuk mencintai dirinya sendiri dengan bermuhasabah. Mari merenung, apa kiranya penyebab riuhnya pikiran kita akhir-akhir ini?

Baca juga: Potret Kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam

Bahagia dengan menerima, mungkinkah?

Boleh jadi, salah satu (bukan satu-satunya) karena tidak tenangnya hati dan pikiran kita selama ini berangkaian dengan langkah kita mengatur ekspektasi. Lingkungan mendorong kita untuk meraih capaian tinggi. Alhasil, kita memasang standar maksimal, tapi tidak menentukan pemisah minimal. Benar bahwa bercita-cita tinggi itu terpuji, namun sering kali kita lupa menyiapkan hati kalau-kalau cita-cita itu tidak terpenuhi. Sejak saat itu, kita mulai capek dan kalah, diperbudak oleh ekspektasi diri sendiri. Kita lupa kapan terakhir kali menikmati hari-hari nan sedang dijalani, lantaran terus memandang ke arah angan nan entah kapan dapat betul-betul kita rasakan.

Melihat perihal ini, terlihatlah pentingnya peran qana’ah. Imam Suyuthi rahimahullah memaknai qana’ah dengan sebuah ungkapan nan indah,

ترك التشوف إلى المفقود، والاستغناء بالموجود

“Meninggalkan gairah pada perihal nan tiada, dan merasa cukup dengan nan ada.” [2]

Qana’ah dapat membantu kita untuk menyederhanakan hati dalam menilai makna kebahagiaan. Mari kita tilik sejenak gimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling bijak sepanjang sejarah, dalam menilai standar kebahagiaan. Beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa kondusif di rumahnya, diberikan kesehatan badan, dan mempunyai makanan pokok pada hari itu, maka seakan-akan bumi telah terkumpul pada dirinya.” [3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyadarkan bahwa rupanya kita bisa senang dengan hal-hal nan sering kali dianggap mini lagi sepele. Ternyata tidak selalu perlu capaian nan muluk-muluk untuk bisa berbahagia. Dengan qana’ah, kita dapat kembali menikmati masa sekarang nan selama ini terabaikan lantaran sibuknya pikiran membuntuti ekspektasi nan tak terkejar.

Perlu dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan standar minimal untuk bisa berbahagia, bukan melarang kita untuk mencari nan lebih dari tiga perihal di atas. Untuk merasa cukup, kita tidak selalu kudu menolak nan lebih. Justru dengan merasa cukup, kita bakal merasa lebih senang ketika mendapat nan lebih. Anggaplah kita merasa cukup saat mendapat 5000, bukankah kita bakal sangat senang tatkala mendapat 5 juta? Beda halnya jika sejak awal sangat mengidamkan 500 juta, mungkin tidak bakal terlalu senang ketika mendapat 50 juta.

Demikian sederhana konsep qana’ah, namun selalu saja ada nan salah mengerti menyangka bahwa qana’ah itu seolah racun nan menyebabkan kemalasan dalam meningkatkan taraf hidup. Mari kita ulas sejenak wasiat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu kepada buah hatinya,

يا بني، إذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة؛ فإنها مال لا ينفذ

“Nak, jika engkau mencari harta, carilah dengan qana’ah, lantaran qana’ah itu adalah kekayaan nan tak dapat ditebus (dengan apa pun).” [4]

Beliau sebut qana’ah itu tidak dapat ditebus, lantaran tak bakal ada nan bisa membeli isi hati nan bersih, beda halnya dengan kekuasaan alias saham mayoritas. Wasiat ini mengartikan bahwa ketika kita memilih untuk qana’ah, bukan berfaedah kita sedang mengikrarkan penolakan terhadap kekayaan dan kemakmuran. Qana’ah tidaklah menghalangi semangat mencari penghidupan. Inilah prinsip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Sesungguhnya nan namanya kaya adalah kayanya hati (yang qana’ah). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (yang tak pernah puas).” [5] Sebabnya itu ada di hati nan dipenuhi kelapangan, baik kala dia fakir maupun saat hidup berada.

Bukannya melarang kaya, tapi membujuk untuk menjadi kaya dengan hati nan layak nan layak untuk menerima kekayaan. Tidak seperti sebagian orang kaya (harta) nan mengorbankan waktu, kesehatan, apalagi agamanya lantaran terus menginginkan nan lebih, lebih, dan lebih! Demikianlah potret dia nan “terlihat” kaya, namun fakir tulen pada hakikatnya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah karuniakan kepada kita hati nan sederhana dengan qana’ah di dalam relungnya.

Catatan ini barulah awal, tetap ada sebab-sebab “hidup autopilot” nan lainnya. Sampai bertemu di catatan berikutnya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ وَسَلَّمَ، وَآخِرُ دَعوَانَا أَن الحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ

Baca juga: Kondisi Hati nan Dihuni oleh Tauhid

***

Penulis: Reza Mahendra

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. At-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyin, hal. 840.

[2] Mu’jamu Maqalidil Ulumi fil Hudud war Rusum, hal. 217.

[3] HR. Tirmidzi no. 2346, beliau menilainya hasan gharib.

[4] ‘Uyunul Akhbar, 3:207.

[5] HR. Ibnu Hibban, dinilai sahih oleh Syekh Syu’aib Al-Arnauth.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah