Lima Penyakit Hati Yang Paling Membinasakan

Oct 17, 2025 11:00 AM - 5 bulan yang lalu 183031

Hati mempunyai kedudukan yang sangat agung dan mulia, lantaran dia merupakan pusat kehidupan seseorang sekaligus sumber penggerak bagi seluruh kebaikan seorang manusia. Hati bukan sekadar segumpal daging di dalam dada, tetapi dia adalah tempat bersemayamnya iman, niat, keikhlasan, serta dorongan yang menentukan baik buruknya setiap perbuatan. Para ustadz menyebut hati sebagai malikul a‘dha (rajanya personil tubuh), karena dia berkedudukan sebagai pemimpin dan pengendali bagi seluruh personil badan. Jika hati lurus dan sehat, maka semua personil tubuh bakal tunduk kepada kebaikan. Sebaliknya, jika hati rusak, maka seluruh kebaikan personil tubuh pun bakal ikut rusak. Ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika dia baik, maka seluruh tubuhnya bakal baik. Dan jika dia rusak, maka seluruh tubuhnya bakal rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,

القلب ملك الأعضاء، والأعضاء جنوده. فإذا طاب الملك طابت جنوده، وإذا خبث خبثت جنوده

“Hati adalah raja bagi seluruh personil tubuh, dan personil tubuh adalah tentaranya. Apabila sang raja baik, maka tentaranya juga bakal baik; dan andaikan dia rusak, maka tentaranya pun bakal rusak.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210)

Dengan demikian, menjaga hati dari segala penyakit yang membinasakan dirinya adalah tanggungjawab bagi setiap hamba Allah. Di antara penyakit hati yang paling rawan menurut para ustadz adalah syirik, bidah, syahwat, ghaflah (lalai), dan ghil (hasad).

Syirik, menyekutukan Allah

Syirik adalah penyakit hati paling rawan dan apalagi pelakunya diancam dengan kekal di dalam neraka. Definisi syirik itu sendiri adalah mempersekutukan Allah dalam ibadah, baik dengan menyembah kepada selain-Nya alias menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمٗا عَظِيمٗا

“Sesungguhnya Allah tidak bakal mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa melakukan syirik kepada Allah, maka sungguh dia telah melakukan dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

وأعظم أنواع الظّلْم الشّرك، وهو جعل المخلوق ندّا للخالق

“Kezaliman yang paling besar adalah syirik, ialah menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Sang Pencipta.” (Madarij As-Salikin, 1: 340)

Syirik bakal menghancurkan keikhlasan (tauhid), menghancurkan amal, dan menjadikan hati berjuntai kepada selain Allah Ta’ala. Oleh lantaran itu, dia disebut sebagai penyakit hati paling rawan di antara penyakit hati yang lainnya.

Bidah, perkara baru dalam agama

Bidah secara bahasa berfaedah membikin sesuatu yang baru. Adapun secara istilah, bidah adalah perbuatan mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, sesuatu yang tidak ada tuntunannya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membikin suatu perkara baru dalam kepercayaan kami ini yang tidak ada asal usulnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

كلّ من أدْخل في الدّين ما ليس منه فقد بدّله

“Setiap orang yang memasukkan sesuatu ke dalam kepercayaan yang bukan darinya, maka sungguh dia telah mengubah kepercayaan itu.” (Al-I’tisham, 1: 37)

Penyakit hati ini (bidah) rawan lantaran biasanya pelakunya merasa betul dalam beribadah, padahal sebenarnya mereka menyelisihi sunah. Hal ini membuatnya susah untuk kembali, lantaran dia merasa berada di jalan yang benar.

Syahwat terhadap keburukan

Kecenderungan jiwa terhadap hal-hal yang disenangi, tetapi jika tidak dibimbing dengan keimanan, dia menjadi penyakit hati yang berbahaya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah Anda memandang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, lampau Allah membiarkannya sesat berasas ilmu-Nya, menutup pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kalian (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah saat seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.” (HR. Ibnu Najjar dari Abu Dzarr, sahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

أعظم الجهاد جهاد النّفس والهوى

“Jihad yang paling agung adalah jihad melawan diri dan hawa nafsu.” (Zadul Ma’ad, 3: 10)

Ibrahim bin Adham rahimahullah juga mengatakan,

أشد الجهاد جهاد الهوى من منع نفسه هواها فقد استراح من الدنيا وبلائها وكان محفوظًا ومعافى من أذاها

“Jihad yang paling berat adalah jihad memerangi hawa nafsu. Barang siapa yang mencegah dirinya dari hawa nafsunya, maka sungguh dia bisa beristirahat dari kepayahan bumi dan bala tentaranya. Dia bakal terjaga dan diselamatkan dari gangguannya.” (Al-Hilyah, 2: 484)

Ketika syahwat menguasai hati seseorang, dia bakal menutup jalan seseorang dalam melakukan ketaatan kepada Rabbnya, menghalangi seseorang dari pengetahuan yang kewenangan dan ibadah yang dituntunkan, serta menyeretnya kepada kesesatan dan dosa besar.

Ghaflah, lalai dari ketaatan kepada Allah

Ghaflah adalah penyakit hati yang juga sangat berbahaya, dia bisa membikin seseorang lalai dari mengingat Allah, sibuk dengan dunianya, dan lupa tujuan hidupnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

“Dan janganlah Anda seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

أكثر ما يفسد الإنسان غفلته ونسيه لمعاده

“Hal yang paling banyak merusak manusia adalah kelalaiannya dan lupanya terhadap hari akhirat.” (Shaidu al-Khatir, hal. 37)

Lalai membikin hati seorang hamba menjadi keras, ibadah menjadi tidak khusyuk, angan tidak terijabah, lebih memprioritaskan bumi dibandingkan akhirat, serta menjadikan hidup sunyi meskipun dipenuhi kesenangan dunia.

Ghil, tidak suka dengan kebahagiaan orang lain

Salah satu penyakit hati yang juga perlu diwaspadai adalah ghil. Ghil alias hasad adalah merasa hatinya tidak senang dan iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, apalagi dia berambisi nikmat itu lenyap dari orang tersebut. Penyakit ini membikin hati dipenuhi dengan kebencian, kedengkian, dan permusuhan tersembunyi terhadap sesama orang beriman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling menipu, jangan saling membenci, dan jangan saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim no. 2564)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النّار الحطب

“Hasad bakal melahap kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 270)

Dampak yang sangat nyata dari penyakit hati ini (ghil) membikin hati menjadi sakit, selalu merasa gelisah, merusak ukhuwah sesama muslim, dan apalagi menimbulkan permusuhan di tengah kaum muslimin.

Inilah lima penyakit hati yang paling rawan dan menjadi ancaman terbesar terhadap keagamaan seorang muslim. Syirik bakal menghancurkan tauhid, bidah merusak kemurnian dan kesempurnaan agama, syahwat menghalangi jalan ketaatan, ghaflah membikin hati keras, dan ghil menghancurkan tali persaudaraan.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat Yang Maha Mengetahui segala isi hati hamba-hamba-Nya, senantiasa melindungi kita dari beragam penyakit hati yang berbahaya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, membersihkan jiwa kita dari kotoran syirik, bidah, syahwat, lalai (ghaflah), dan hasad (ghil), serta menggantikannya dengan sinar keimanan, keikhlasan, dan ketakwaan. Kita memohon kepada-Nya agar meneguhkan hati kita di atas agama-Nya yang lurus, menghidupkan jiwa kita dengan kebaikan saleh, menjadikan lisan kita basah dengan zikir, dan menjaga langkah kita agar senantiasa berada di jalan kebenaran hingga akhir hayat. Dan semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan kita kelak di alambaka berbareng para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, sebagaimana firman-Nya,

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقًا

“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bakal berbareng orang-orang yang Allah anugerahi nikmat, ialah para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga: Apakah Setiap Penyakit (Kerasnya) Hati Menunjukkan Tanda Kemunafikan?

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Kincai Media

Selengkapnya