Makna Kemerdekaan Bagi Seorang Muslim

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan Negara Indonesia, negara kita. Hari berhistoris nan selalu dikenang dan diingat oleh rakyat Indonesia. Dengan merdekanya Indonesia dari tangan penjajah, maka kita menjadi rakyat independen nan dapat bergerak bebas dan tidak terikat secara pemerintahan dengan negara lainnya.

Dalam Islam, makna kemerdekaan lebih jauh dari sekedar kemerdekaan sebuah negara dan bangsa. Dalam Islam, kemerdekaan adalah tatkala seorang hamba bebas melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala tanpa adanya suatu penghalang apa pun. Dalam Islam, kemerdekaan adalah tatkala seorang muslim tidak mempunyai penghalang antara dirinya dan surga Allah Ta’ala.

Kemerdekaan terbesar adalah berlepas diri dari kesyirikan

Dalam beragama dan melakukan ketaatan kepada Allah, seseorang muslim tidak bakal dikatakan merdeka, selain andaikan hanya beragama kepada Allah Ta’ala dan menjauhkan diri dari kesyirikan kepada-Nya. Karena di dalam penyelewengan dan pemberian ibadah kepada selain Allah Ta’ala sejatinya merupakan corak perbudakan kepada makhluk selain Allah Ta’ala. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai perihal ini. Beliau rahimahullah berkata,

العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابدا لغيره

“Menjadi hamba Allah adalah kemerdekaan nan hakiki. Barangsiapa nan tidak menghamba kepada Allah, dia bakal menjadi hamba kepada selain-Nya.” (Al-Majmu’ Al-Fatawa, 8: 306)

Saat seseorang melakukan kesyirikan, maka sejatinya dia berjuntai dan merasa butuh kepada selain Allah Ta’ala. Ketika bakal melakukan sesuatu, seringkali dia bakal meminta persetujuan terlebih dulu dari objek alias mahkluk nan dia sembah tersebut. Tidaklah dia memulai sebuah kegiatan, selain terlebih dulu memberikan persembahan kepada sesembahannya tersebut.

Bahkan, tidak jarang kita temukan, sebagian dari mereka nan mengaku muslim dan beragama kepada Allah Ta’ala justru datang dan meminta kesembuhan, kesuksesan, dan kekayaan kepada makhluk-makhluk selain Allah, nan lemah lagi tak mempunyai kuasa. Sungguh, ini menujukkan sungguh kebebasan dan kemerdekaan diri orang tersebut tersandera oleh kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Jiwanya tidak bebas dalam beragama dan bermunajat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan ketidakmampuan makhluk-makhluk tersebut di dalam mengabulkan angan dan kemauan para penyembah dan pemujanya,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ* وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah nan lebih sesat daripada orang nan menyembah sembahan-sembahan selain Allah nan tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari hariakhir dan mereka lalai dari (memperhatikan) angan mereka? Dan andaikan manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaf 5-6)

Ketahuilah wahai saudaraku, jiwa nan merdeka adalah jiwa nan bertauhid dan tunduk hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bebas dari kesyirikan dan peribadatan kepada selain Allah.

Merdeka dari hawa nafsu

Di antara corak kemerdekaan nan dituntut dan diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemerdekaan dari belenggu hawa nafsu. Karena muaranya hawa nafsu bakal menjerumuskan seorang kepada kesesatan dan kebatilan.

Lihatlah gimana Allah Ta’ala berbincang dan mewanti-wanti Nabi Daud ‘alaihis salam nan notabene-nya adalah seorang penguasa, seorang penguasa nan merdeka, dan tentu saja jauh dari ketundukan dan kehinaan. Allah peringatkan beliau agar jangan sampai dirinya tunduk dan menjadi sandera atas hawa nafsunya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ 

“Wahai Daud! Sesungguhnya Kami menjadikan Anda khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan setara dan janganlah Anda mengikuti hawa nafsu, lantaran dia bakal menyesatkan Anda dari jalan Allâh.” (QS. Shad: 26)

Di antara langkah nan paling efektif untuk menundukkan hawa nafsu dan menang darinya adalah dengan merasa takut kepada Allah Ta’ala, merasa takut juga bakal azab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang nan takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari kemauan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)

Mereka nan takut bakal kebesaran Allah Ta’ala dan hukuman-Nya, maka bakal mudah di dalam menundukkan hawa nafsunya. Sebaliknya, mereka nan tidak takut kepada Allah Ta’ala, merasa kondusif tatkala bermaksiat dan melakukan perbuatan dosa, maka bisa dipastikan dia bakal kalah dan tunduk kepada hawa nafsunya.

Baca juga: Kemerdekaan nan Hakiki Menjadi Hamba Allah

Merdeka dari tuduhan dunia

Di antara ujian nan Allah berikan kepada kita adalah tuduhan kehidupan dunia. Setiap dari kita pastilah diuji dengannya, entah itu berupa kekayaan kekayaan nan melimpah ataupun ketidakcukupan dalam memenuhi kebutuhan. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan kepada kita prinsip kehidupan bumi ini,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan bumi ini hanyalah permainan, suatu nan melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara Anda serta berbangga-banggaan tentang banyaknya kekayaan dan anak. Seperti hujan nan tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, dan Anda lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di alambaka (nanti) ada balasan nan keras dan pembebasan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan bumi ini tidak lain hanyalah kesenangan nan menipu.” (QS. Al-Hadîd: 20)

Seorang muslim nan merdeka adalah mereka nan terbebas dari tuduhan dan ujian tersebut. Ia bersabar tatkala diuji dengan kesempitan dan berterima kasih tatkala diuji dengan kelapangan. Sebagaimana disebutkan di dalam sabda nan sahih,

عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له.

“Alangkah mengagumkan keadaan orang nan beriman, lantaran semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bakal bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia bakal bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Jiwanya bebas dan merdeka, tidak mengutuk Allah dan menyalahkan keadaan tatkala sedang dalam keadaan sempit serta terbebas dan tidak diperbudak oleh hartanya tatkala Allah berikan kelapangan.

Kesimpulan

Momentum hari kemerdekaan Indonesia, selain tentunya membujuk kita untuk kembali berterima kasih kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat rasa kondusif dan kebebasan, hendaknya juga kita manfaatkan untuk memaknai kembali kemerdekaan diri kita sendiri. Di mana di dalam aliran Islam, tidaklah seseorang dikatakan merdeka dan bebas, selain setidaknya terbebas dari tiga perihal berikut:

Pertama: Terbebas dari kesyirikan dan hal-hal nan mengantarkan kepadanya. Sehingga jiwanya bebas di dalam beragama kepada Allah dan tidak menjadi sandera sesembahan-sesembahan selain-Nya.

Kedua: Terbebas dari belenggu hawa nafsu. Dalam kesehariannya, perbuatan nan dilakukannya jauh dari ketundukan kepada hawa nafsu, aktifitas kesehariannya jauh dari beragam macam corak bujukan nafsu syahwat dan nafsu syubhat. Karena rasa takutnya nan besar kepada Allah Ta’ala.

Ketiga: Bebas dari jerat-jerat tuduhan dunia. Tidaklah dirinya diuji dengan rasa susah, selain dia bersabar, dan tidaklah dia diuji dengan rasa lapang, selain dia berterima kasih kepada Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keamanan dan kedamaian di negeri kita, memberikan hidayah kepada para pemimpin kita, dan senantiasa memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada diri kita untuk beragama kepada-Nya,

اللَّهُمَّ إنِّي أسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَن يَمِينِي وَعَن شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allâh, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu pembebasan dan keselamatan di bumi dan akhirat. Ya Allâh, sungguh saya minta kepada-Mu pembebasan dan keselamatan untuk agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allâh, tutuplah auratku (aib celaku), berilah keamanan dari rasa takutku. Ya Allâh, perliharalah saya dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan dari arah atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu, agar saya terhindar kebinasaan dari bawahku (dibenamkan  ke dalam bumi).”

Wallahu A’lam bisshawab.

Baca juga: Menjadi Muslim Produktif di Era Disruptif

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah