Makna Simbol Haji Menurut Profesor Quraish Shihab

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Kincaimedia– Praktik dalam haji terdiri dari beberapa rukun nan memerlukan mobilitas badan, seperti tawaf, sa’i dan seterusnya. Setiap mobilitas dalam haji ini merupakan simbol-simbol nan mengandung pelajaran bagi pelaku haji. Puncak dari tujuan haji ini adalah melakukan perjanjian dengan Allah. Apa isi perjanjian manusia dengan Allah ini? Dan apa makna simbol dalam haji itu?

Haji adalah ibadah hati dan badan; badan ada gerak-gerak tertentu dan tempat-tempat tertentu. Itu sebabnya, kata ustadz haji itu adalah simbol-simbol. Semua pergerakan Anda nan diajarkan oleh ibadah haji adalah simbol. Simbol itu lebih dalam dan luas jangkauan maknanya daripada ucapan.

Tentang simbol haji. Misalnya busana saat ihram. Kata Quraish Shihab, busana tidak boleh nan berjahit. Kenapa demikian? Karena antara penjahit satu dengan nan lain bisa berbeda seperti penjahit A lebih mahal daripada si B. Dan salah satu kegunaan busana adalah menjadi pembeda dengan nan lain.

Akan tetapi dalam konteks haji, Allah Swt mau semua orang bisa menjadi sama rata, tidak ada perbedaan. Itu artinya, busana nan selama ini Anda pakai maka Anda kudu tidak memakainya, melainkan pakailah busana nan tidak berjahit dengan langkah tertentu. Misalnya kapan dibuka dan kapan juga diselempangkan.

Demikian juga dengan Ka’bah nan berbentuk kubus alias segi empat. Dengan demikian, maka kemanapun Anda menghadap untuk shalat maka boleh. Itulah lambang kehadiran Tuhan; bahwa Tuhan ada dimana-mana. Allah Swt berfirman:

وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun Anda menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 115).

Di Ka’bah kita berkeliling tentu saja bertentangan dengan jalannya jarum jam. Dikatakan, bahwa sebenarnya alam raya ini berkeliling tidak juga sesuai dengan langkah Anda tawaf. Jadi ketika tawaf simbol kita masukkan dalam diri kita ke dalam golongan orang-orang alias makhluk-makhluk nan alim kepada Allah Swt.

Sekali lagi lambang dari kehadiran Tuhan, dan Anda memasukkan diri ke dalam golongan alim seperti ke dalam Hajar Aswad. Hajar Aswad ini oleh Nabi dikatakan lambang tangan Tuhan. Kata Quraish Shihab, orang jika sudah melakukan perjanjian dengan seseorang biasanya berjabatan tangan. Demikian juga kita setelah tawaf maka kudu jabat tangan dengan Tuhan.

Begitu selesai berjanji, baru kemudian melakukan sa’i, lantaran sa’i juga termasuk lambang. Sa’i itu berarti usaha, dan upaya ini kudu bertitik tolak dengan kesucian. Itu sebabnya, sa’i kudu bermulai dari Shafa (suci) dan kudu berhujung di Marwah (puas hati). Tak terkecuali juga kudu tujuh kali lantaran melambangkan banyak.

Jadi, berusahalah sekuat tenaga dan sebisa serta sungguh-sungguh Anda. Yakinlah jika Anda belum sukses maka Allah bakal memberikan sesuatu nan menyenangkan hati Anda. Persis seperti Siti Hajar nan hanya mengharap segelas air untuk anaknya. Demikian halnya dengan mencukur rambut nan merupakan lambang. Rambut hitam melambangkan dosa, lantaran cukurlah agar dosa-dosanya luntur.

Allah Swt menghendaki bahwa, setelah Anda melaksanakan Haji dengan tulus, tulus dan dengan baik maka diampuni dosa Anda. Bukti diampuni dosa Anda adalah disuruh mencukur rambutnya sebagai lambang sudah gugur, tanamkan di dalam hati Anda bahwa sekarang bersih. Inilah nan Allah kehendaki.

Kenapa demikian? Jika Anda tetap merasakan tetap ada dosa, otomatis Anda bakal terganggu. Jelasnya, semua lambang-lambang Haji bukan sekedar dari jalan kiri dan ke kanan, melainkan gerakn Anda kudu melambangkan sesuatu. Itulah Haji.

Simbol Haji dan janji kepada Allah

Orang nan melaksanakan Haji itu ibaratkan berjanji kepada Allah. Segala ibadah prosesi haji tidak lepas dari perjanjian pada Allah. Misalnya, saat Tawaf, “saya janji ya Allah bahwa mulai sekarang saya masuk lingkungan-Mu”. Baru setelahnya jabat tangan dengan langkah mencium Hajar Aswad.

Saat melaksanakan Sa’i, “ya Allah saya janji mau berupaya bersungguh-sungguh dari Shafa ke Marwah”.

Begitupun ketika Melontar Jamrah, “saya berjanji mulai sekarang memusuhi setan”. Sementara di Arafah, kita mendekatkan diri dengan Allah seraya berjanji “saya berjanji tidak bakal mengulangi dosa-dosa nan sudah diperbuat”.

Lalu gimana dengan Haji Mabrur. Quraish Shihab mengatakan, bahwa Haji Mabrur adalah bukanlah Haji nan sah, melainkan Haji nan oleh pelakunya menepati janjinya; apakah Anda menepati janjinya alias tidak? Oleh lantaran itu, terlalu murah orang nan menafsirkan Haji Mabrur dengan istilah Haji nan sah.

Dalam al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 28, Allah Swt berfirman:

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْۤ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَارَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ ۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ 

Artinya: “Agar mereka menyaksikan beragam faedah untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari nan telah ditentukan atas rezeki nan Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang nan sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj [22]: 28).

Jelasnya, berangkatlah Haji agar Anda menyaksikan manfaat-manfaat duniawi dan ukhrawi dalam perjalanan dan penyelenggaraan ibadah Haji. Salah satu faedah nan diperoleh dari ibadah Haji adalah pengenalan terhadap Nabi Ibrahim As. Misalnya, Nabi Ibrahim hatinya bersih. Itu sebabnya, orang nan berhaji hatinya kudu bersih.

Di ka’bah ada nan dinamai maqam Ibrahim, dan di dalam kaca ada jejak kakinya. Jadi, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggikan Ka’bah. Sebenar dia sudah cukup melaksanakan tugasnya andaikan tingginya Ka’bah setinggi jangkauan tangannya, bakal tetapi Nabi Ibrahim tidak begitu. Justru menginginkan nan lebih tinggi, makanya Nabi Ibrahim mengambil batu lampau diletakkan di gedung Ka’bah, baru berdiri disitu untuk ditinggikan.

Tuhan mengabadikan perihal ini “Hai manusia! Lihat ini orang nan melaksanakan tugasnya lebih baik daripada apa nan diperintahkan”. Tak heran jika di dalam kepercayaan bahwa niat seseorang itu bisa lebih baik dari amalnya. Bisa jadi ada orang nan amal-amalnya lebih sedikit, bakal tetapi ada satu amalnya nan dia lakukan begitu tulus sehingga Allah mengampuni dia, walaupun amalnya kecil.

Alkisah, suatu waktu ada orang nan bermimpi Al-Ghazali lampau bertanya, “bagaimana keadaanmu?” Al-Ghazali menjawab, “saya sehat sekali dan mendapatkan kedudukan nan sangat bagus di alam saya sekarang.”

Orang itu berkata, “wajar dong, lantaran Anda banyak pengabdiannya buat Islam.” Al-Ghazali berbicara lagi, “bukan itu. Melainkan, saya pernah membiarkan seekor lalat nan hinggap diujung pena saya untuk mengisap tinta saya, dan inilah nan menyebabkan saya mendapatkan kedudukan tinggi.” Jadi kucinya ikhlas.

Keistimewaan lain Nabi Ibrahim adalah qalb salim awwahum halim, suka berbicara “aduh kok bisa begitu”, pengiba. Juga senang berlapang dada. Hingga Allah menyatakan “Nabi Ibrahim adalah ummat, satu orang ini ummat”. Maknanya, dia punya sifat-sifat nan begitu banyak nan tidak bisa disandang selain oleh ummat dan banyak orang.

Sebagai penutup, semua mobilitas dalam praktik Haji merupakan simbol-simbol pelajaran, dan inti dari Haji adalah perjanjian kepada Allah Swt. Segala perjanjian itu jika dilaksanakan ketika pulang, maka itulah nan disebut Haji Mabrur. Dan jangan khawatir, jika belum bisa berjamu ke rumah Allah, maka undanglah Allah ke rumah dan hati Anda.

Wallahu a’lam bisshawab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah