Kincai Media, Hati manusia mempunyai sinar yang membuatnya bisa memandang kebenaran dan membedakan jalan kebaikan. Namun, sinar itu dapat tertutup oleh maksiat. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menjelaskan bahwa semakin kuat kegelapan maksiat dalam hati, semakin bingung seseorang hingga dapat terjerumus dalam bidah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa disadarinya.
Dalam Ad-Da' wa ad-Dawa, dijelaskan bahwa kegelapan dalam hati bakal dirasakan oleh seseorang seperti gelapnya malam. Bila dia diberi petunjuk, kegelapan maksiat masuk menutupi hatinya, seperti kegelapan emosi menutupi penglihatannya. Ketaatan seumpama cahaya.
Setiap kali kegelapan menguat, makin bingunglah dia hingga jatuh ke dalam bidah, kesesatan, dan hal-hal yang membinasakan, di mana dia sendiri tidak merasakannya. Ia ibaratkan orang buta yang keluar di kegelapan malam sendirian. Kegelapan itu bakal bertambah, sehingga membikin apapun yang berada di sekelilingnya tak tampak oleh mata.
Abdullah bin Abbas berkata, "Kebaikan mempunyai sinar di wajah, sinar di hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan jelek menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, kekurangan rezeki, dan rasa tidak suka kepadanya di hati banyak orang."
Maksiat Melemahkan Hati dan Badan
Kelemahan pada hati akibat maksiat adalah kebenaran nyata. Maksiat bakal terus menerus melemahkannya hingga akhir hidupnya. Kekuatan orang mukmin itu terletak pada hati. Setiap kali hatinya menguat, badannya menjadi kuat. Sedangkan orang jahat bakal rusak. Walaupun berbadan kuat, sesungguhnya dia paling lemah. Saat memerlukan kekuatan, dia dikhianati dan dikelabui oleh kekuatannya sendiri yang sangat dia perlukan.
Bayangkan, kekuatan bentuk orang-orang Persia dan Romawi dapat mengelabui mereka. Kekuatan bentuk itulah yang paling mereka andalkan. Namun mereka dihancurkan oleh orang-orang yang beragama dengan kekuatan hati.
Maksiat Menghalangi Ketaatan
Hukuman bagi pendosa adalah terhalangnya dia dari menaati Allah dan terputusnya jalan kebaikan lainnya. Setiap ketaatan lebih baik daripada bumi dan seisinya. Ibaratnya, seorang laki-laki mengonsumsi suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang lama sembuhnya, yang akhirnya mencegahnya dari beragam macam makanan yang lezat dan baik. Allah Maha Suci dan Maha Penolong. Hanya Dia yang dapat dimintai pertolongan.