Malapetaka Akhir Zaman Dengan Hilangnya Ilmu Agama

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan, ‘Umar bin Hafsh menuturkan kepada kami. Dia berkata, ayahku menuturkan kepada kami. Dia berkata, Al-A’masy menuturkan kepada kami. Dia berkata, Syaqiq menuturkan kepada kami. Dia berkata, suatu saat Abdullah (bin Mas’ud) dan Abu Musa duduk-duduk bersama. Mereka berdua pun berbincang-bincang. Abu Musa pun berkata,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya menjelang hari hariakhir kelak bakal ada hari-hari di mana pengetahuan itu diangkat, kegoblokan turun/merebak di mana-mana, dan banyak terjadi al-harj.”

Yang dimaksud dengan al-harj adalah pembunuhan. (Lihat Shahih Al-Bukhari berbareng Fath Al-Bari tahqiq Syaibatul Hamd, Juz 13, hal. 16.)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu. Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut pengetahuan secara langsung dengan melenyapkan pengetahuan itu dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut pengetahuan dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga andaikan Allah tidak menyisakan orang berilmu lagi, orang-orang pun mengangkat para pemimpin nan bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.’” (HR. Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedudukan dan kekuasaan tidak bisa mengubah orang nan bukan berilmu mujtahid menjadi berilmu mujtahid. Seandainya kewenangan berbincang tentang urusan pengetahuan dan kepercayaan diperoleh dengan karena kekuasaan dan kedudukan, niscaya khalifah dan raja adalah orang nan paling berkuasa berbincang tentang pengetahuan dan agama. Sehingga orang-orang merujuk kepadanya dalam mencari solusi bagi masalah pengetahuan maupun kepercayaan nan mereka hadapi. Apabila rupanya khalifah dan raja tidak mendakwakan perihal itu ada pada dirinya, demikian juga rakyat tidak wajib menerima pendapatnya tanpa memandang pendapat lain, selain andaikan selaras dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang-orang nan lebih rendah kedudukannya daripada raja lebih layak untuk tidak melampaui kapabilitas dirinya …” (Lihat Qawa’id fi At-Ta’amul ma’al ‘Ulama, karya Syekh Abdurrahman bin Mu’alla, hal. 28.)

Syekh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah berkata, “… Bahwasanya salah satu pokok manhaj salaf adalah keterkaitan erat dengan pengetahuan dan para ulama. Dan bahwasanya perihal ini termasuk perkara nan diwasiatkan Allah. Di dalamnya terkandung kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatan dari segala fitnah. Karena sesungguhnya dengan perginya para ustadz alias tidak adanya jalinan dengan mereka menyebabkan lenyapnya pengetahuan dan agama. Itu pula nan menyebabkan merebaknya kegoblokan dan tuduhan (kekacauan), sehingga manusia setelah mereka bakal mengangkat pemimpin-pemimpin nan bodoh, nan mereka itu sesat lagi menyesatkan.” (Lihat Haqiqah Al-Manhaj As-Salafi, hal. 14.)

Suatu ketika, ada seorang laki-laki nan menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu. Lelaki itu bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, kebaikan apakah nan paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah nan paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu.” Lantas laki-laki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang kebaikan nan paling utama, lantas Anda menjawab ilmu?!” Ibnu Mas’ud menimpali perkataannya, “Aduhai sungguh malangnya dirimu, sesungguhnya pengetahuan tentang Allah merupakan karena bermanfaatnya amalmu nan sedikit maupun nan banyak. Dan kegoblokan tentang Allah bakal menyebabkan kebaikan nan sedikit maupun nan banyak menjadi tidak berfaedah bagimu.” (Lihat Syarh Shahih Al-Bukhari, karya Ibnu Baththal, 1: 133)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ilmu tentang Allah adalah pokok dari segala ilmu. Bahkan, dia menjadi pondasi pengetahuan setiap hamba guna menggapai kebahagiaan dan kesempurnaan diri, bekal untuk meraih kemaslahatan bumi dan akhiratnya. Sementara tolol tentang pengetahuan ini menyebabkan dia tolol tentang dirinya sendiri dan tidak mengetahui kemaslahatan dan kesempurnaan nan kudu dicapainya, sehingga dia tidak mengerti apa saja nan bisa membikin jiwanya suci dan beruntung. Oleh lantaran itu, pengetahuan tentang Allah adalah jalan kebahagiaan hamba, sedangkan tidak mengetahui pengetahuan ini adalah sumber kebinasaan dirinya.” (Lihat Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 98.)

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ

“Janganlah kalian seperti orang-orang nan melupakan Allah sehingga Allah pun membikin mereka lupa bakal diri-diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa nan melupakan Allah, niscaya Allah bakal membikin dirinya lupa bakal prinsip dan kemaslahatan dirinya. Sehingga orang itu pun bakal lupa tentang hal-hal nan membawa kebaikan bagi bumi dan akhiratnya. Oleh karena itu, hidupnya berubah laksana style hidup binatang. Bahkan, bisa jadi hewan jauh lebih baik keadaannya daripada dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Allah adalah pokok segala ilmu. Ilmu tentang Allah merupakan pondasi pengetahuan seorang hamba mengenai kebahagiaan, kesempurnaan, dan kemaslahatan bumi dan akhiratnya. Adapun kegoblokan tentang Allah (baca: tidak mengerti tauhid) adalah sumber kehancuran dirinya. (Lihat Miftah Dar as-Sa’adah, 1:312.)

Baca juga: Mengembangkan Dakwah di Zaman Fitnah

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa nan rusak di antara mahir ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa nan rusak di antara mahir pengetahuan kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” (Lihat Ighatsat Al-Lahfan, hal. 36.)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih banyak memerlukan pengetahuan daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan (untuk dikonsumsi) dalam sehari sekali alias dua kali saja. Adapun ilmu, maka dia dibutuhkan (untuk dipahami, pent) sebanyak hembusan nafas.” (Lihat Miftah Daris Sa’adah, 1: 248-249.)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian menuntut pengetahuan sebelum dia dicabut. Dan dicabutnya pengetahuan itu adalah dengan meninggalnya orang nan membawanya.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 196.)

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Senantiasa ada orang berilmu nan meninggal dan lantaran itulah bekas-bekas kebenaran semakin luntur dan hilang. Hingga banyaklah orang nan tolol dan lenyaplah mahir ilmu. Maka, mereka pun beramal dengan dasar kebodohan. Mereka berakidah tidak dengan aliran nan benar. Dan mereka pun tersesat dari jalan nan lurus.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 199.)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Ilmu nan tertancap di dalam hati dan pengetahuan nan sekedar berakhir di lisan. Ilmu nan tertancap di hati itulah pengetahuan nan bermanfaat, sedangkan pengetahuan nan hanya berakhir di lisan itu merupakan hujah/bukti bagi Allah untuk menghukum hamba-hamba-Nya.” (Lihat Al-Iman, takhrij Al-Albani, hal. 22.)

Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya pengetahuan bukanlah semata-mata dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang nan berilmu adalah nan mengikuti pengetahuan dan sunah, meskipun pengetahuan dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa nan menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun pengetahuan dan kitabnya banyak.” (Lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163.)

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Dahulu ibuku berpesan kepadaku, ‘Wahai anakku, janganlah Anda menuntut ilmu, selain jika Anda beriktikad mengamalkannya. Kalau tidak, maka dia bakal menjadi musibah bagimu di hari kiamat.’” (Lihat Ta’thir Al-Anfas, hal. 579.)

Ubay bin Ka’ab berkata, “Pelajarilah pengetahuan dan beramallah dengannya. Janganlah kalian mencari pengetahuan untuk hanya berdandan diri. Sesungguhnya hampir-hampir saja muncul andaikan umur kalian tetap panjang ketika pengetahuan dijadikan sebagai perhiasan seperti halnya seorang nan berdandan diri dengan pakaiannya.” (Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 247.)

Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata, “Barangsiapa menimba pengetahuan sabda sebagaimana datangnya (apa adanya, pen), maka dia adalah pembela sunah. Dan barangsiapa nan menimba pengetahuan sabda untuk memperkuat pendapatnya semata, maka dia adalah pembela bid’ah.” (Lihat Mukadimah Tahqiq Kitab Az-Zuhd, hal. 69.)

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang berilmu (ahli ilmu) orang nan mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, sesungguhnya orang nan berilmu adalah nan mengetahui kebaikan lampau mengikutinya dan mengetahui keburukan lampau berupaya menjauhinya.” (Lihat Min A’lam As-Salaf, 2: 81.)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Hendaknya Anda disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah Anda sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa nan senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain, maka sungguh dia telah terpedaya.” (Lihat Ar-Risalah Al-Mughniyah fi As-Sukut wa Luzum Al-Buyut, hal. 38.)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “… Seandainya pengetahuan bisa berfaedah tanpa amalan, niscaya Allah nan Mahasuci tidak bakal mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya ibadah bisa berfaedah tanpa adanya keikhlasan, niscaya Allah juga tidak bakal mencela orang-orang munafik.” (Lihat Al-Fawa’id, hal. 34.)

Syekh Shalih Al-Fauzan berkata, “Ikhlas itu adalah seorang insan beriktikad dengan amalnya untuk mencari wajah Allah. Dan dia tidak bermaksud untuk mencari kepentingan bumi apapun alias mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Dia tidak mendengarkan hinaan mereka ketika mencelanya. Seperti perkataan mereka, ‘Si fulan mutasyaddid (keras)’ alias ‘si fulan itu begini dan begitu’ selama dia berada di atas jalan nan betul dan di atas sunnah, maka tidak membahayakan dirinya apa nan diucapkan oleh orang-orang. Dan tidak menggoyahkannya dari jalan Allah hinaan dari siapa pun juga.” (Lihat I’anatul Mustafid, 1: 104.)

Ada nan berbicara kepada Sa’id bin Jubair, “Apakah tanda kebinasaan umat manusia?” Maka, beliau menjawab, “Yaitu, tatkala para ustadz meninggal di antara mereka.” (Disebutkan oleh Al-Baghawi dalam tafsirnya.)

Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, Aku mendengar Qutaibah berkata, “(Sufyan) Ats-Tsauri telah meninggal, maka matilah wara’ (sifat kehati-hatian). Syafi’i telah meninggal pula dan matilah sunah-sunah (hadis). Dan Ahmad bin Hanbal meninggal, sehingga merebaklah bid’ah-bid’ah.” (Lihat Tarajim Al-A’immah Al-Kibar, hal. 49; dan Manaqib Al-A’immah Al-Arba’ah, hal. 115.)

Muhammad bin Abi Hatim rahimahullah mengatakan, Aku mendengar Yahya bin Ja’far Al-Baikandi berkata, “Seandainya saya bisa menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku, niscaya bakal saya lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang laki-laki biasa. Adapun kematiannya berfaedah lenyapnya pengetahuan (agama).” (Lihat Tarajim Al-A’immah Al-Kibar, hal. 118.)

Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali rahimahullah berkata, “Demi Allah! Sungguh kematian seorang ‘alim/ahli pengetahuan lebih dicintai Iblis daripada kematian tujuh puluh orang mahir ibadah.” (Lihat Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 78.)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berbicara kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para ulamanya tetap banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan bakal datang suatu masa setelah kalian di mana tukang ceramahnya banyak, namun ulamanya banget sedikit.” (Lihat Qawa’id fi At-Ta’amul ma’al ‘Ulama)

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, “Ilmu tidak diukur semata-mata dengan banyaknya riwayat alias banyaknya pembicaraan. Akan tetapi, dia adalah sinar nan ditanamkan ke dalam hati. Dengan pengetahuan itulah seorang hamba bisa memahami kebenaran. Dengannya pula, seorang hamba bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Orang nan betul-betul berilmu bakal bisa mengungkapkan ilmunya dengan kata-kata nan ringkas dan tepat sasaran.” (Dinukil dari Qawa’id fi At-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 39)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“ ما من إنسان في الغالب أعطي الجدل إلا حرم بركة العلم ؛ لأن غالب من أوتي الجدل يريد بذلك نصرة قوله فقط ، وبذلك يحرم بركة العلم ..

أما من أراد الحق ؛ فإن الحق سهل قريب ، لا يحتاج إلى مجادلات كبيرة ؛ لأنه واضح ..

ولذلك تجد أهل البدع الذين يخاصمون في بدعهم علومهم ناقصة البركة لا خير فيها ، وتجد أنهم يخاصمون ويجادلون وينتهون إلى لا شيء ! .. لا ينتهون إلى الحق . ”

“Tidaklah ada seorang insan (pada umumnya) nan diberikan kegemaran debat (berbantah-bantahan), selain dia pasti terhalang dari keberkahan ilmu. Karena kebanyakan orang diberi kepandaian mendebat (suka membantah) hanya mau dengan debatnya itu untuk memihak pendapatnya sendiri. Dengan karena itulah dia terhalang dari keberkahan ilmu.

Adapun orang nan menginginkan kebenaran, maka sesungguhnya kebenaran itu mudah dan dekat (tidak susah diperoleh), dia tidak butuh kepada banyak perdebatan nan besar; lantaran kebenaran itu gamblang. Oleh karena itu Anda dapati bahwa mahir bid’ah nan suka memihak kebid’ahan mereka dengan segala corak perdebatan (bantahan), pengetahuan mereka itu minim keberkahan, ialah tidak ada kebaikan padanya sama sekali. Dan Anda bisa jumpai bahwa mereka suka mendebat dan membantah hingga pada akhirnya mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa [yang bermanfaat]! … Artinya mereka tidak menggapai kebenaran.” (Tafsir Surat Al-Baqarah, 2: 444.)

Abu Abdillah Ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa nan berangkat menimba pengetahuan sementara nan dia inginkan semata-mata ilmu, maka ilmunya tidak bakal berfaedah baginya. Dan barangsiapa nan berangkat menimba pengetahuan dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya pengetahuan nan sedikit pun bakal berfaedah baginya.” (Lihat Al-Muntakhab min Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq, hal. 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menimba pengetahuan (agama) untuk bersikap lancang (membanggakan diri) kepada para ulama, alias untuk mendebat (melecehkan) orang-orang dungu, alias demi memalingkan wajah-wajah manusia kepada dirinya (mencari ketenaran), maka Allah bakal masukkan dia ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi, Al-Albani mengatakan sabda ini sahih lighairihi.) (Lihat Al-’Ilmu, Wasa’luhu wa Tsimaruhu, hal. 18)

Hal ini mengisyaratkan bahwa penimba pengetahuan kudu membersihkan hatinya dari segala perihal nan merusak berupa tipu daya (sifat curang), kotoran dosa, iri, dan dengki, ataupun keburukan iktikad dan kejelekan akhlak. Ilmu adalah ibadah hati, dan tidak mungkin pengetahuan bisa diserap dengan baik, selain andaikan hati itu bersih dari segala perihal nan mengotorinya. Sahl rahimahullah berkata, “Haram bagi hati nan memendam sesuatu nan dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk dimasuki sinar (ilmu).” (Lihat kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah, halm. 86.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa nan mencari pengetahuan (agama) nan semestinya dia pelajari demi mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla sedangkan rupanya dia justru mempelajarinya untuk mencari suatu corak kesenangan (perhiasan) dunia, maka dia tidak bakal mendapatkan aroma wangi surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain, dan dinyatakan sahih lighairihi oleh Al-Albani) (Lihat Fiqh Da’wah wa Tazkiyatun Nafs, hlm. 11.)

Baca juga: Wasiat Penting bagi Kaum Beriman di Zaman Fitnah

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah