Mana Yang Didahulukan, Bayar Utang Atau Qurban?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pedagang Hewan Qurban.

KINCAIMEDIA,MEDAN -- Berqurban merupakan ritual ibadah nan dilakukan oleh umat Islam nan hukumnya adalah sunnah muakkad. Sunnah muakkad artinya ibadah nan dianjurkan dengan penekanan nan kuat alias nyaris mendekati wajib. Tetapi jika kita mempunyai hutang dan mau berqurban apa nan kudu kita dahulukan?. 

“Membayar utang jatuh tempo hukumnya wajib maka lebih mana didahulukan prioritasnya, lebih didahulukan bayar hutang jatuh tempo daripada berqurban,” kata Ustadz Abdul Somad dikutip dari akun Youtube Pribadinya, Ustadz Abdul Somad Official.

Menurutnya, semua tergantung pada jatuh temponya, jika jatuh tempo hutangnya lebih dulu daripada hari raya Qurban, maka dibayarkanlah dulu hutangnya baru boleh berqurban jika tetap ada sisa. Karena hutang merupakan perkara nan berat tanggung jawabnya dalam Islam.

Dalam sabda riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Barangsiapa nan meninggal dalam keadaan tetap mempunyai utang satu dinar alias satu dirham, maka utang tersebut bakal dilunasi dengan kebaikannya [di hari hariakhir nanti] lantaran di sana [di akhirat] tidak ada lagi dinar dan dirham,” (H.R. Ibnu Majah).

Dijelaskan juga pada surat Al Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Arab-Latin: Maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab'a sanābila fī kulli sumbulatim mi`atu ḥabbah, wallāhu yuḍā'ifu limay yasyā`, wallāhu wāsi'un 'alīm

Artinya: Perumpamaan (nafkah nan dikeluarkan oleh) orang-orang nan menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir bibit nan menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa nan Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam tafsir Wajiz menjelaskan, Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya menghidupkan makhluk nan telah mati, Allah beranjak menjelaskan permisalan mengenai jawaban nan berlipat dobel bagi orang nan berinfak di jalan Allah. Perumpamaan keadaan nan sangat mengagumkan dari orang nan menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan tulus untuk ketaatan dan kebaikan, seperti keadaan seorang petani nan menabur benih. Sebutir biji nan ditanam di tanah nan subur menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji sehingga jumlah keseluruhannya menjadi tujuh ratus. Bahkan Allah terus melipatgandakan pahala kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat alias lebih bagi siapa nan Dia kehendaki sesuai tingkat keagamaan dan keikhlasan hati nan berinfak. Dan jangan menduga Allah tidak bisa memberi sebanyak mungkin, karena Allah Mahaluas karunia-Nya. Dan jangan menduga Dia tidak tahu siapa nan berinfak di jalan-Nya dengan tulus, karena Dia Maha Mengetahui siapa nan berkuasa menerima karunia tersebut, dan Maha Mengetahui atas segala niat hamba-Nya. (mgrol150)

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam