Manfaatkan Harta Untuk Bekal Di Surga

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Harta adalah nikmat Allah SWT nan diberikan kepada manusia, dan dengan nikmat itu juga datang tanggung jawab untuk bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Cerdas dalam memanfaatkan kekayaan adalah perihal nan krusial dalam kehidupan seseorang, lantaran langkah kita mengelola kekayaan tidak hanya mempengaruhi kesejahteraan sendiri, tapi juga mempengaruhi kesejahteraan orang lain dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Memanfaatkan kekayaan dengan bijak bukan hanya tentang langkah kita menghabiskannya, tetapi juga tentang gimana kita memperolehnya dan apa nan kita lakukan dengan kekayaan tersebut setelah kita memilikinya. 

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidak ada seseorang nan menyantap satu makanan pun nan lebih baik dari makanan hasil upaya tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud menyantap makanan dari hasil usahanya sendiri. (H.R Bukhori).

Dari sabda ini, kita belajar bahwa mendapatkan kekayaan dengan langkah nan legal dan berupaya keras adalah nilai nan sangat dihargai dalam Islam. Bisa diibaratkan seperti tangan diatas lebih baik dari pada tangan nan dibawah. 

Dengan begitu, setiap kekayaan nan didapatkan oleh seseorang patutnya untuk disyukuri. Mulai dari berterima kasih menggunakan hati, ucapan, dan menggunakan kekayaan tersebut untuk hal-hal kebaikan. 

Ada beberapa etika nan kudu diperhatikan mengenai dengan harta.

Pertama, mencari kekayaan nan legal

Ini sesuai dengan rekomendasi Allah SWT. Dari Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

وَالقَلِيْلُ مِنَ الحَلاَلِ يُبَارَكُ فِيْهِ وَالحَرَامُ الكَثِيْرُ يَذْهَبُ وَيَمْحَقُهُ اللهُ تَعَالَى

Rezeki legal itu walaupun sedikit, itu lebih berkah daripada rezeki haram nan banyak. Rezeki haram itu bakal sigap lenyap dan Allah bakal menghancurkannya. (Majmu’ah Al-Fatwa). 

Pekerjaan nan legal adalah pekerjaan nan tidak melanggar prinsip-prinsip kepercayaan dan tidak melibatkan praktik-praktik nan meragukan alias tidak bermoral. Maka dari itu, sebanyak apapun hasil dari pekerjannya, jika itu dilakukan dengan jalan nan legal maka bakal berkah. 

Kedua, prioritaskan memenuhi nan wajib, mulai dari nafkah dan tanggungan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar nan engkau keluarkan di jalan Allah, lampau satu dinar nan engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lampau satu dinar nan engkau nan engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar nan engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar. (HR. Muslim, no. 995).

Lihat laman berikutnya >>>

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam