Dalam kondisi umat yang terpecah dan munculnya beragam kelompok yang menyimpang, setiap muslim membutuhkan pegangan yang jelas supaya tidak menyimpang dari jalan yang lurus. Mengetahui Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah menjadi penting agar seorang muslim dapat mengikuti petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut.
Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?
Ahlus Sunnah menunjuk pada mereka yang berusaha meneladani ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Al-Jama’ah merujuk pada kaum yang tetap bersatu di atas kebenaran tanpa terpecah-belah. Kedua istilah itu menggambarkan kelompok yang berpegang pada sunnah dan kebersamaan.
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan berpegang pada jalan yang lurus dalam firman-Nya di akhir sepuluh wasiat pada surah Al-An’am,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), lantaran jalan-jalan itu bakal mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Istilah "jalan lurus" menunjuk pada petunjuk yang setiap muslim mohonkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditetapkan di atasnya. Permohonan ini kerap diungkapkan dalam doa yang diulang dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)
Dari kedua ayat tersebut terlihat perintah tegas untuk berpegang pada jalan yang lurus dan menjauhi jalan yang menyimpang. Jalan itulah yang Allah sebutkan identitas para pengikutnya dalam firman-Nya,
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَغَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُكَمْ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيمًا
“Dan peralatan siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bakal berbareng orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, ialah para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan pentingnya berpegang pada sunnah beliau dan manhaj para Khalifah yang mendapat petunjuk,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِالْدْجَلُهُمْلَبِكُمْ الشُّهَدَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَدَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka dia bakal memandang banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, lantaran setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)
Dalam sabda tersebut, Rasulullah memberi peringatan bahwa perselisihan akan muncul setelah wafat beliau. Oleh karena itu, umat diperintah untuk tetap teguh pada sunnah beliau dan manhaj para Khulafaur Rasyidin sebagai pedoman ketika perbedaan timbul.
Kebenaran yang dimaksud adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—cara hidup dan petunjuk yang beliau amalkan—lalu diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin dan generasi salaf yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah telah menjelaskan keutamaan generasi awal umat ini,
وَالسَّابِقُونَ ائْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُكَ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Karena itu mereka disebut Ahlus Sunnah, yakni orang yang berjalan di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut pula al-Firqah an-Najiyah—golongan yang selamat—karena pegangan mereka menuntun kepada keselamatan, sesuai sabda Nabi,
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْفِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَأَصْحَابِي
“‘Umatku bakal terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka selain satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)
Mereka disebut selamat karena berpegang pada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Pengikut yang benar adalah mereka yang mengikuti generasi Muhajirin dan Anshar serta para penerus salaf dengan pemahaman yang benar dan konsisten.
Perintah mengikuti para sahabat tidak cukup sekadar klaim; harus diwujudkan melalui pemahaman yang benar tentang apa yang mereka amalkan, melalui pembelajaran ilmu yang bermanfaat. Tanpa ilmu, seseorang tak mungkin meneladani mereka dengan baik meski ia berniat mengikuti.
Oleh karena itu mempelajari metode atau manhaj generasi salaf adalah keharusan agar pengikut dapat menapaki jalan mereka secara tepat. Mengikuti mereka harus bebas dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw), menganggap remeh (tafrith), atau ceroboh. Manhaj para sahabat bersifat pertengahan (wasathiyyah): tidak meremehkan ajaran, dan tidak melampaui batas dalam beragama.
Ketidaksikapan meremehkan berarti tidak menyimpang dari jalan lurus sambil mengklaim kebenaran semata. Tidak berlebihan berarti menolak ekstremisme dan menjaga keseimbangan dalam praktik agama. Sikap ini berbeda jauh dari kelompok yang berlebih-lebihan atau yang mengambil mudah urusan agama sampai mengabaikannya.
Inilah jalan yang ditempuh Muhajirin dan Anshar. Seseorang disebut mengikuti mereka dengan baik jika ia benar-benar memahami manhaj mereka, terhindar dari ekstremisme, serta bukan orang yang meremehkan atau bermudah-mudahan. Dengan demikian ia telah berjalan di atas manhaj mereka secara benar.
Manhaj inilah yang menjadi ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berbeda dengan beberapa aliran sufi atau kelompok bid’ah yang menjadikan ideologi atau pendapat pemimpin sebagai dasar utama beragama. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan tentang perpecahan dan kesesatan golongan-golongan semacam itu,
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Mereka memecah-belah urusan kepercayaan mereka menjadi beragam golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)
Ayat ini mengingatkan agar muslim menjadikan Al-Qur’an, sunnah, dan pemahaman generasi terbaik umat (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap golongan atau tokoh tertentu.
[Bersambung]
Catatan kaki:
Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.