Melihat Jejak Awal Kemunculan Radikalisme

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Radikalisme, ibaratkan api dalam sekam, diam-diam membakar dan merambat, menakut-nakuti keselarasan dan stabilitas. Memahami jejak awal kemunculannya ibaratkan membuka kotak Pandora, menyingkap sejarah kelam nan mewarnai perjalanan peradaban manusia. Berikut memandang jejak awal kemunculan radikalisme.

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah kekerasan dan jejak radikalisme seringkali membawa nama-nama apalagi mengatasnamakan agama. Tentu saja, perihal ini dapat dipahami lantaran kepercayaan mempunyai kekuatan nan ampuh-mampu menggerakkan massa, apalagi kepercayaan nan melampaui kekuatan politik, sosial, dan budaya.

Agama apalagi bisa mengangkat sampai pada tingkat supranatural. Itu sebabnya, atas nama agama, kemudian radikalisme diabsahkan dan direlevansikan dalam beragam wacana hingga tindakan.

Misalnya, mulai dari mengkafirkan orang-orang nan tak sepaham hingga timbul kekerasan, kekacauan bagi golongan nan tidak sepaham. Di dalam umat Islam sendiri, sejak dulu seperti ini, kita mengenal namanya kaum Khawarij nan membawa kekerasan bagi golongan nan tidak sepaham dengan golongan mereka sampai melakukan pembunuhan terhadap musuh nan tidak seideologi dengannya.

Sejarah telah berkali-kali mengatakan, pada awal munculnya peradaban Islam pun, beragam teror dan anarkisme telah muncul seiring dengan munculnya kelompok-kelompok seperti Khawarij. Sebagai contoh, misalnya seruan salah tokoh Khawarij berjulukan al-Mustaurid bin Sa’ad, salah seorang tokoh Khawarij kepada Sammak Bin Ubaid Al-Abasi, tokoh Khawarij tersebut berkata;

“kami membenci kepada siapa saja nan tidak bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kami meminta agar semua orang melepaskan diri dari kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, lantaran mereka telah keluar dari tahkim Allah”.

Hingga akhirnya, pada dasawarsa abad ke 20 hingga abad 21, muncul istilah baru nan menunjukan corak fundamentalisme antara lain Neo-Khawarij, berakar pada kondisi masa lampau di dalam tubuh umat Islam sejak 1300 tahun lalu, pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw., kemunculan beragam golongan nan disebut sebagai golongan Khawarij.

Memaknai Khawarij 

Jika ditelisik, Khawarij dalam bahasa Arab artinya adalah “keluar”. Definisi tersebut mengenai dengan golongan nan memisahkan diri dengan golongan pendukung Ali. Serangkaian kekerasan, anarki, hingga upaya pembunuhan kerap dilakukan oleh golongan ini hingga membikin terbunuhnya tokoh tokoh Islam pada masanya. Kita juga mengenal peristiwa dalam sejarah, pada suatu Subuh, 14 Ramadan 40 H.

Adalah tiga orang nan merencanakan pembunuhan terhadap tiga orang tokoh krusial kaum muslim di Makkah ketika itu, berupaya mencari saat nan tepat untuk melakukan pembunuhan.

Mereka adalah tokoh Khawarij berjulukan Amr bin Bakr, dan Abdurrahman bin Muljam dan Barak bin Abdullah nan semuanya merupakan personil dari kaum Khawarij, golongan nan keluar dan memisahkan diri dari muslim, nan tidak puas dengan kepemimpinan umat ketika itu.

Mereka pada awalnya adalah pengikut dari salah seorang dari tiga pemimpin nan sedang mereka rencanakan pembunuhannya itu, ialah Ali bin Abi Thalib, khalifah nan sah pada saat itu memimpin umat, tetapi mereka tidak setuju pada kesediaan sang khalifah untuk menerima tahkim (arbitrase) antara sang khalifah dengan musuhnya, Mu’awiyah, melalui orang nan ditunjuknya, ialah Amr bin Ash.

Tak hanya itu, mereka juga menilai Mu’awiyah sebagai pemberontak terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Hingga akhirnya melalui tindakan radikal nan dilancarkan oleh mereka membikin kepemimpinan khalifah ke 4 tersebut berakhir. Rasulullah Saw. pernah menerangkan bahwa “Akan muncul di kemudian hari (setelah era rasul) keturunan-keturunan orang-orang nan melampaui agama.”

Dalam kaitannya dengan itu, para ustadz menafsirkannya dengan golongan Khawarij. Rasulullah pernah menerangkan dan menggambarkan ciri-ciri golongan ini, yakni;

“Sesungguhnya bakal keluar suatu kaum nan membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka bakal keluar sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Sekiranya saya menemuinya pasti saya bakal membunuhnya sebagaimana membunuh kaum Ad. (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ustadz memberikan penafsiran bahwa hadits nan dimaksud adalah golongan Khawarij tersebut. Karena seperti penggambaran dalam sejarah, kaum Khawarij tidak takut jika menumpahkan darah sesama muslim, hanya lantaran perbedaan dalam perihal pemikiran dan ibadah. Para peneliti barat menyatakan golongan ini sebenarnya melakukan protes terhadap sistem sosial. Bukan hanya nan berkenaan dengan masalah akidah, ibadah dan pemikiran.

Akan tetapi, mereka sebenarnya mempunyai kekecewaan nan mendalam terhadap sistem sosial dan kondisi masyarakat, sehingga golongan mereka condong tidak terikat dengan sistem sosial nan ada dan menginklusifkan golongan mereka. Kelompok Khawarij juga tidak mengedepankan cara-cara musyawarah dalam menyelesaikan suatu perkara.

Padahal Nabi dan para sahabat pada masa dulu mengedepankan jalan musyawarah dan perundingan dalam memecahkan suatu perkara. Bahkan ketika dalam suasana perang sekalipun dengan kafir Quraisy dan orang-orang kafir, Nabi tetap berupaya menyelesaikannya dengan langkah berunding. Seperti tampak pada Perjanjian Hudaibiyah dan sebagainya.

Tetapi kaum Khawarij lebih memilih langkah nan radikal dalam menyelesaikan suatu perkara. Pembunuhan terhadap sahabat Nabi pada era awal peradaban Islam adalah contoh konkretnya. Kaum Khawarij hanya percaya pada kelompoknya saja dan membantah bahwa, para ustadz nan tidak sejalan dengan mereka adalah kafir. Bahkan legal daranya boleh dibunuh. Hal itu tampak sejak kemunculan pemahaman golongan ini pada masa khulafaurrasyidin.

Munculnya Neo-Khawarij

Hingga memasuki abad ke 21 ini muncul istilah terminologi Neo-Khawarij, artinya adalah Khawarij dengan style baru tetapi dengan pemahaman fundamentalisme nan sama. Gerakan Neo-Khawarij tersebut mirip dengan aktivitas nan ada sejak awal kemunculan Islam, ialah mengkafirkan golongan nan berbeda dari mereka, apalagi mengatakan bahwa golongan nan berbeda dengan mereka adalah legal darahnya.

Ideologi takfiri ini seperti kemunculan golongan nan disebut ISIS. Kelompok ISIS termasuk daftar nan mengkafirkan semua golongan nan enggan untuk menerima otoritas ISIS. Menurut ISIS, muslim nan melakukan baiat terhadap mereka bakal terselamatkan dan nan enggan bakal diidentifikasikan murtad dan boleh dibunuh.

Dan, sesungguhnya pemahaman Khawarij bukan berasas pada “kelompok” semata. Tetapi juga termasuk pada pribadi pemikiran seseorang. ISIS bukanlah salah satunya, sejarah telah membuktikan banyaknya golongan lainnya nan juga berada mempunyai pola aktifitas dan pemikiran nan sama.

Faktor utama munculnya jejak radikalisme dalam berakidah adalah kurangnya pemahaman nan betul dan mendalam atas prinsip aliran kepercayaan Islam itu sendiri dan pemahaman literalistik atas teks-teks agama. Al-Qur’an telah digunakan muslim untuk menunjukkan perilaku, menjustifikasi tindakan melalui peperangan.

Menurut Yusuf Qardhawi, bahwa radikalisme dikaitkan dengan sikap berlebihan seseorang terhadap agama, antara perilaku dan kepercayaan tidak sesuai, antara kepercayaan dan politik, antara kepercayaan dengan politik, antara norma nan dicanangkan oleh Allah Swt. dengan produk norma manusia itu sendiri.

Munculnya beragam macam golongan Islam adalah pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. Karena, pada saat itu, tidak ada wacana untuk mempertanyakan suatu peristiwa. Jika Nabi Muhammad eksis dan datang di tengah umat tentu umat Islam langsung menanyakan perihal suatu peristiwa kepada Nabi. Menggambarkan bahwa radikalisme merupakan corak ekstrem dari revivalisme.

Revivalisme dalam keislamian nan lebih berorientasi ke dalam alias inward oriented, dengan artian pengaplikasian dari sebuah kepercayaan hanya diterapkan untuk diri pribadi. Adapun corak revivalisme nan condong berorientasi keluar alias kadang mengharuskan golongan lain agar sesuai dengan kepercayaan mereka disebut sebagai “Tindakan Radikalisme”.

Jejak Radikalisme di Indonesia 

Syahdan. Di Indonesia kejadian radikalisme semakin terlihat nyata. Sidney Jones dalam analisisnya bahwa jumlah mereka minoritas, dan lebih sedikit dari mereka nan menggunakan kekerasan. Demikian juga Greg Barton juga menambahkan bahwa radikalisme kepercayaan terjadi pada dasawarsa 1950 nan ditandai dengan munculnya aktivitas Darul Islam.

Tumbuhnya aktivitas radikalisme di Indonesia tidak hanya dari dalam, melainkan juga dibarengi dengan adanya penyelundupan dari luar ialah nan ditunjukkan oleh Barton bahwa aktivitas Wahabi tumbuh tidak lepas dari peran Muhammad Natsir.

Melalui aktivitas organisasi nan dibangun Natsir ialah majelis dakwah Islam Indonesia sukses memberikan danasiwa kepada mahasiswa untuk melanjutkan jenjang pendidikan di Universitas Ibn Saud.

Penting dicatat, bahwa radikalisme tidak bisa disamakan dengan terorisme, karena radikalisme dan terorisme sangatlah berbeda. Radikalisme adalah mengerti nan merupakan fase menuju terorisme, sedangkan terorisme sendiri adalah corak aksinya.

Berbeda dengan Buya Syafi’i Maarif nan mengatakan bahwa, radikalisme lebih mengenai dengan model sikap dan langkah pengungkapan keagamaan seseorang, sedangkan terorisme secara jelas mencangkup tindakan pidana untuk tujuan-tujuan politik.

Sejatinya, radikalisme adalah satu tahapan alias satu langkah sebelum terorisme, pada umumnya para terorisme nan banyak melakukan tindakan destruktif dan peledak bunuh diri mempunyai pemahaman nan radikal terhadap beragam hal, terutama soal keagamaan.

Demikian penjelasan mengenai memandang jejak awal kemunculan radikalisme. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawaab. [Baca juga: Gerakan Wahabisme Sumber Radikalisme Islam Modern]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah