Membedakan Antara Fakir, Miskin, Dan Gharim

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pada asalnya, tidak ada perbedaan antara fakir dan miskin dalam perihal kebutuhan (sama-sama tetap membutuhkan) dan mereka berkuasa menerima zakat. Namun, perbedaannya terletak pada siapa nan lebih memerlukan lantaran beratnya dan besaran kebutuhannya.

Namun, jika digali lebih dalam, maka ada perbedaan antara fakir dan miskin. Orang fakir adalah orang nan memerlukan nan tidak mempunyai sesuatu apa pun dan tidak meminta-minta kepada manusia. Sedangkan orang miskin adalah orang nan membutuhkan, mempunyai beberapa kekayaan benda, tetapi tidak mencukupinya dan dia meminta-minta kepada manusia. Oleh karenanya, penyebutan orang fakir didahulukan dari semua golongan nan berkuasa menerima zakat. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Sesungguhnya amal itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, nan dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang nan berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang nan sedang dalam perjalanan, sebagai tanggungjawab dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”[1]

Karena mereka (fakir) lebih memerlukan dibandingkan orang lain dan keadaannya nan paling buruk. Mereka mungkin mempunyai halangan nan menghalangi mereka untuk mencari nafkah, alias mereka mungkin tidak dapat mencari nafkah lantaran alasan-alasan tertentu, sehingga orang nan tidak mengenal mereka menganggap bahwa mereka cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Allah Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir nan terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang nan tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya lantaran memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan memandang sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.”[2]

Adapun orang miskin sebagaimana nan disebutkan di atas, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ليسَ المِسْكِينُ الذي يَطُوفُ علَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ واللُّقْمَتَانِ، والتَّمْرَةُ والتَّمْرَتَانِ، ولَكِنِ المِسْكِينُ الذي لا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، ولَا يُفْطَنُ به، فيُتَصَدَّقُ عليه ولَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

“Orang miskin bukan nan berkeliling meminta-minta kepada orang lain, lampau mereka diberi makanan sesuap alias dua suap, alias sebiji-dua biji kurma. Namun, orang miskin adalah orang nan tidak mendapatkan kecukupan untuk menutupi kebutuhannya. Dan dia tidak menampakkan kemiskinannya sehingga orang-orang bersedekah kepadanya, dan dia juga tidak minta-minta kepada orang lain.”[3]

Hadis tersebut menjelaskan bahwa orang nan lebih berkuasa menerima amal adalah orang nan tidak meminta kepada manusia, nan tidak menampakkan kebutuhannya (kemiskinannya), dan tidak mendapati sesuatu nan dapat mencukupi dirinya. Adapun orang miskin adalah orang nan tetap mendapati sesuatu untuk mencukupinya dengan meminta-minta kepada manusia dan menampakkan kemiskinannya. Hal ini diperkuat dengan firman Allah Ta’ala,

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي البَحْرِ

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin nan bekerja di laut.”[4]

Allah Ta’ala menamakan mereka dengan orang-orang miskin, padahal mereka mempunyai kapal dan bekerja di dalamnya.

Adapun Gharim adalah orang nan mempunyai utang dan berat untuk bayar dan melunasinya. Bisa jadi statusnya tetap sebagai orang kaya dan bisa jadi pula statusnya tergolong fakir alias miskin. Maka, amal boleh diberikan kepada orang fakir, miskin, gharim, dan nan selainnya dari golongan nan berkuasa menerima amal selama dengan amal tersebut tidak membantu mereka di dalam kemaksiatan.

Oleh karenanya, orang-orang nan mau bayar alias menyalurkan amal lebih mengutamakan dan mendahulukan mereka (golongan penerima zakat) nan dikenal baik agamanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ولا ينبغي أَنْ يُعْطِيَ الزكاةَ لِمَن لا يستعين بها على طاعة الله؛ فإنَّ الله تعالى فَرَضَها معونةً على طاعته لِمَنْ يحتاجُ إليها مِن المؤمنين كالفقراء والغارمين، أو لمن يُعاوِنُ المؤمنين؛ فمَنْ لا يصلِّي مِن أهل الحاجات لا يُعطى شيئًا حتى يتوبَ ويلتزمَ أداءَ الصلاةِ في وقتها.

“Dan tidak boleh memberikan amal kepada seseorang nan tidak menggunakannya untuk menaati Allah. Karena Allah Ta’ala telah menitipkannya sebagai pertolongan ketaatan kepada-Nya bagi orang-orang mukmin nan membutuhkan, seperti orang-orang miskin dan orang-orang nan berutang, alias bagi orang-orang nan menolong orang-orang mukmin. Barangsiapa nan tidak salat di antara orang-orang nan membutuhkan, maka dia tidak diberi apa-apa sampai dia bertobat dan menunaikan salat tepat waktu.”[5]

Baca juga: Siapakah Orang nan Termasuk Fakir Miskin?

***

Penulis: Junaidi, S.H., M.H.

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

https://ferkous.com/home/?q=fatwa-726

Catatan kaki:

[1] QS. At-Taubah: 60.

[2] QS. Al-Baqarah: 273.

[3] HR. Bukhari no. 1479, Muslim no. 1039.

[4] QS. Al-Kahfi: 79.

[5] Ikhtiyarat Ibni Taimiyah oleh Al-Ba’li, perihal 103.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah