Memecah Salat Tarawih Untuk Salat Malam Lailatulqadar

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pada akhir Ramadan, kita biasa menyaksikan pemecahan salat tarawih. Salat nan sebelumnya hanya di awal saja (bakda Isya), dipecah menjadi dua waktu: sebagian di awal dan sebagian di akhir (menjelang sahur). Apakah perihal tersebut diperbolehkan oleh syariat? Sebagai makmum, gimana kita menyikapinya?

Berikut ini beberapa poin pembahasan, nan insyaAllah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jelas.

Keutamaan qiyam Lailatulqadar

Qiyam Lailatulqadar adalah suatu ibadah nan sangat dianjurkan dalam Islam, dan mempunyai keistimewaan nan luar biasa. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis,

مَن قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

“Barangsiapa nan melaksanakan qiyam Lailatulqadar lantaran ketaatan dan mengharap pahala dari Allah, niscaya dosa-dosanya nan telah lampau diampuni.” [1]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keistimewaan malam Lailatulqadar, bahwa siapa pun nan menghidupkan malam nan penuh berkah ini dengan melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an, Allah bakal mengampuni dosa-dosanya nan telah lalu, selain dosa-dosa nan berangkaian dengan kewenangan sesama manusia. Karena telah disepakati bahwa dosa-dosa tersebut tidak bakal diampuni, selain dengan rida mereka. Namun demikian, perihal ini kudu dilakukan dengan “iman dan mengharapkan pahala,” ialah dengan sungguh-sungguh meyakini keistimewaan malam tersebut dan melakukan kebaikan baik di dalamnya dan bermaksud mencari keridaan Allah dalam ibadah-ibadahnya.

Balasan dinyatakan dalam corak silam ( غُفِرَ) nan artinya “diampuni” , padahal pembebasan tersebut bakal terjadi di masa nan bakal datang. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepercayaan bahwa perihal tersebut pasti terjadi, dan merupakan hidayah dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. [2]

Hakikat qiyam Lailatulqadar

Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

من قام ليلة القدر

“Barangsiapa nan melakukan qiyam Lailatul Qadar,”

Syekh Shalih bin Abdullah bin Hamad Al-’Ushaimiy hafidzahullah mengatakan,

(هذا) دال على أن العبادة المستحبة في ليلة القدر هو قيام تلك الليلة، وإنما يكون قيامها بإطالة الصلاة، وكثرة قراءة القرآن في أثناء تلك الصلاة. وأما ما عدا ذلك من الأعمال فهو دون مرتبة الصلاة.

“Ucapan Nabi tersebut menunjukkan bahwa ibadah nan dianjurkan pada malam Lailatulqadar adalah melakukan qiyam (salat malam) pada malam itu. Qiyam Lailatulqadar tersebut hanyalah dengan memperpanjang salat dan memperbanyak membaca Al-Qur’an di dalam salat tersebut. Sedangkan amalan-amalan ibadah selainnya, maka ibadah tersebut di bawah tingkatan salat.

Kemudian, beliau hafidzahullah melanjutkan, “Namun, disunahkan bagi seorang hamba jika dia melakukan salat pada malam tersebut dan membaca Al-Qur’an, untuk bermohon kepada Allah. Karena dia melakukannya dengan angan lebih dikabulkan, bukan lantaran malam Lailatulqadar. Hal ini lantaran tidak ada bukti bahwasanya malam Lailatulqadar merupakan malam terkabulkannya doa. Malam Lailatulqadar nan menjadikan angan di dalamnya lebih terkabulkan adalah lantaran angan tersebut mengenai dengan ibadah nan baik, ialah qiyam (salat malam) pada waktu nan baik, ialah malam nan penuh angan untuk dijawab doanya.” [3]

Empat tingkatan qiyam Lailatulqadar

Setelah kita mengetahui bahwasanya qiyam Lailatulqadar hanya unik pada ibadah salat, maka kita dapat mengelompokkan tingkatan-tingkatan manusia dalam melaksanakannya.

Syekh Shalih Al-’Ushaimiy hafidzahullah menyebut bahwasanya ada empat tingkatan salat malam Lailatulqadar nan disunahkan:

Tingkatan pertama: Melakukan salat malam sepanjang malam.

Tingkatan kedua: Melakukan salat malam pada awal dan akhir malam, sehingga melakukan sebagian salat malam di awal malam, kemudian melanjutkan sebagian lainnya di akhir malam.

Tingkatan ketiga: Melakukan salat malam hanya pada akhir malam.

Tingkatan keempat: Melakukan salat malam hanya pada awal malam, setelah salat Isya.

Yang paling sempurna adalah jika seorang hamba bisa untuk mengisi sepuluh malam terakhir Ramadan dengan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan melakukan iktikaf di masjid (yaitu, tingkatan nan pertama). Namun, jika tidak mampu, disarankan untuk melakukan qiyam pada awal dan akhir malam, melakukan salat, membaca Al-Qur’an, dan bermohon sebisa nan bisa di awal malam, kemudian melanjutkannya di akhir malam (yaitu, tingkatan kedua). Jika tetap tidak mampu, maka dapat melakukan qiyam di salah satu sisi malam, dan lebih disarankan untuk mengakhirkan salat hingga akhir malam (yaitu, tingkatan ketiga) jika memungkinkan, lantaran melakukan salat malam di akhir malam lebih utama daripada di awal malam (yaitu tingkatan keempat). [4]

Baca juga: Memahami Istilah Salat Tarawih, Qiyamul Lail, Witir, dan Tahajud

Hukum memisahkan Tarawih antara awal dan akhir malam

Dari tingkatan-tingkatan di atas, kita mengetahui bahwasanya jika seseorang tidak bisa untuk salat malam semalam suntuk (sebagaimana praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), maka disarankan untuk melakukan qiyam pada awal dan akhir malam.

Oleh lantaran itu, jika salat Tarawih dipisah antara awal dan akhir malam, dan Witir dikerjakan di akhir malam, itu tidak masalah. Jika mereka menyelesaikan rakaat Tarawih dan menunda Witir hingga akhir malam, perihal ini juga tidak ada masalah. Salat nan mereka kerjakan sebelum Witir dihitung sebagai salat malam.

Jika mereka menunda beberapa rakaat Tarawih untuk salat Witir berbareng di akhir malam, itu juga diperbolehkan. Bahkan, jika mereka memisahkan salat Witir dengan Tarawih di awal malam dan kemudian mau menambah nafilah (salat sunah) setelahnya, itu juga tidak dilarang.

Dengan demikian, norma memisahkan Tarawih antara awal dan akhir malam adalah boleh, apalagi disarankan bagi sebagian keadaan, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Wallahu a’lam. [5]

Bagaimana kita, sebagai makmum menyikapinya?

Berikut ini beberapa catatan krusial tentang salat Tarawih nan dipecah, khususnya dari sisi makmum:

Pertama: Tidak ada dua Witir dalam satu malam

Berdasarkan hadis,

لا وِترانِ في ليلةٍ

“Tidak ada dua Witir dalam satu malam.” [6]

Oleh lantaran itu, jika Witir sudah dikerjakan pada awal malam, maka tidak perlu dikerjakan kembali pada akhir malam, dan sebaliknya.

Kedua: Salat Witir merupakan salat terakhir pada malam tersebut

Berdasarkan hadis:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ وِتْرًا

“Jadikanlah Witir sebagai salat terakhir kalian.” [7]

Maka, salat Witir sebaiknya dikerjakan pada akhir malam.

Oleh lantaran itu, lebih utama bagi kita untuk menjadikan salat Witir di akhir malam sesuai dengan sunah Nabi Muhammad ﷺ.

Demikian penjelasan ringkas tentang salat malam Lailatulqadar dan pemecahan salat tarawih karenanya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan pengikut beliau.

Baca juga: Mengapa Disebut “Salat Tarawih”?

***

10 Ramadhan 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen.

Penulis: Prasetyo, S.Kom.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Syarh Maqashid Shaum li ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Abdis Salam As-Sulamiy, Shalih bin Abdillah Al-’Ushoimiy, Nuskhah ke-1.

Fii Rihabi Lailatil Qadr, Shalih bin Abdillah Al-’Ushoimiy, Nuskhah ke-1.

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760

[2] Lihat https://dorar.net/hadith/sharh/10254

[3] Lihat https://youtube.com/watch?v=En_4e4bASoY

[4] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=X6zb7_rIP6I

[5] Lihat https://www.islamweb.net/ar/fatwa/141589

[6] HR. Abu Dawud, lihat Sahih Abi Dawud no. 1439.

[7] HR. Bukhari no. 472.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah