Mencari Kebahagiaan Sejati

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Banyak di antara kita mencari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah cita-cita semua orang. Ada nan mendefinisikan kebahagiaan dengan uang, harta, jabatan, alias kesenangan duniawi. Namun, kita bisa memandang bahwa kebahagiaan itu tidak berbanding lurus dengan kekayaan. Seandainya kebahagiaan itu berbanding lurus dengan kekayaan, maka seharusnya, semakin kaya, semakin bahagia. Namun lihatlah kenyataannya, sungguh banyak orang kaya, namun hidupnya terasa sempit, susah, stres, dan tidak bahagia.

Sebagian orang mengira bahwa kebahagiaan adalah dengan ketenaran. Bahkan sebagian orang rela melakukan hal-hal nan asing agar bisa tenar dan viral. Betapa banyak kita lihat orang-orang nan berada di puncak ketenaran, namun dia akhiri hidupnya dengan bunuh diri, terjerat narkoba, dan sebagainya. Orang-orang tenar itu pun stres lantaran banyak orang nan mau tahu urusan hidupnya. Semua ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu bukanlah dicapai dengan ketenaran.

Lalu apakah kebahagiaan sejati itu? Kebahagiaan sejati itu letaknya di hati, ialah dengan mengesakan Allah Ta’ala, beragama kepada-Nya, serta beramal saleh untuk menyempurnakan keimanannya. Dengan demikian, kebahagiaan itu berbanding lurus dengan keimanan. Semakin sempurna ketaatan seseorang, dia bakal semakin bahagia. Apabila keagamaan seorang hamba melemah, maka melemah pula porsi kebahagiaan nan dia peroleh. Apabila keagamaan itu lenyap sama sekali, niscaya kebahagiaan pun bakal menghilang secara totalitas. Keimanan itulah nan bakal membahagiakan, menenangkan, dan melapangkan hatinya. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ  

“… (yaitu) orang-orang nan beragama dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang nan beragama dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali nan baik.” (QS. Ar-Ra’du: 28-29)

Donasi Operasional YPIA

Keimanan dan kebaikan saleh itu bakal mendatangkan kebahagiaan, kelapangan, dan ketenangan. Sebaliknya, setiap orang nan menyia-nyiakan keimanan, justru membawa kesengsaraan bagi diri sendiri dan orang nan berada di sekelilingnya. Dadanya bakal sempit dan sesak dengan maksiat nan dia lakukan. Memang, maksiat mengandung kelezatan. Lihatlah orang-orang kafir, ketika mereka menyalurkan syahwat sebebas-bebasnya dan melakukan segala perihal nan mereka kehendaki. Secara zahirnya mereka di puncak kemewahan dan kelezatan, namun belum tentu mereka bahagia. Tidak perlu jauh-jauh, marilah kita renungkan keadaan diri sendiri ketika tenggelam dalam maksiat. Memang ada kelezatan nan kita rasakan, tapi yakinlah bahwa itu bukan kebahagiaan. Selesai dari maksiat, hati kita rupanya kering, sengsara, dan sesak.

Patut dicatat, seorang hamba kudu meminta kepada Allah Ta’ala dalam upaya mencari kebahagiaan. Karena kebahagiaan berada di tangan-Nya. Dalam hadis, Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَصَابَ أَحَدًا قَطٌّ هَمٌّ وَلاَ حَزَنٌ فَقَالَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ إِلاَّ أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحاً قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ قَالَ:بَلَى، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا

“Jika hamba tertimpa suatu kegelisahan dan kesedihan, kemudian dia berdoa, ‘Ya Allah, sungguh saya adalah hamba-Mu, anak hamba (laki-laki)-Mu, anak hamba (perempuan)-Mu, kendali ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketentuan-Mu bertindak pada diriku, takdirmu-Mu setara terhadapku. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama nan Engkau miliki, nan Engkau namakan diri-Mu sendiri, alias Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, alias Engkau turunkan dalam kitab-Mu, alias nan Engkau khususkan dalam pengetahuan gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Quran sebagai penyejuk hatiku, sinar dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegalauanku’; niscaya kegalauan terangkat dan kesedihan tergantikan dengan kegembiraan.” (HR. Ahmad no. 4318, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 199)

Baca juga: Bahagianya Menjadi Perempuan nan Terjaga

Dalam angan nan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, terkandung empat perihal pokok nan andaikan dilaksanakan, niscaya bakal mendatangkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan. Empat perihal pokok itu adalah:

Pertama, melaksanakan peribadatan kepada Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh, menundukkan diri, dan mengakui bahwa dia adalah makhluk nan dimiliki Allah. Dia adalah hamba-Nya, begitu pula dengan nenek moyangnya, semua adalah hamba Allah. Itulah makna ucapan doa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ

“Ya Allah, sungguh saya adalah hamba-Mu, anak hamba (laki-laki)-Mu, dan anak hamba (perempuan)-Mu.”

Kedua, keagamaan hamba terhadap takdir Allah Ta’ala; bahwa segala sesuatu itu terjadi dan tidak terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada satu pun nan bisa mendahului ketentuan-Nya dan menolak takdir-Nya. Oleh lantaran itu, dalam angan ini terdapat kalimat,

نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ

“Kendali ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketentuan-Mu bertindak pada diriku, takdir-Mu setara terhadapku.”

Ketiga, ketaatan terhadap nama Allah nan bagus dan sifat-Nya nan mulia, ialah dengan mengenal makna dan kandungan-Nya. Dia memenuhi hatinya dengan pengenalan tersebut dan bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan nama dan sifat-Nya. Itulah kandungan ucapan,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama nan Engkau miliki, nan Engkau namakan diri-Mu sendiri, alias Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, alias Engkau turunkan dalam kitab-Mu, alias nan Engkau khususkan dalam pengetahuan gaib di sisi-Mu.”

Keempat, memperhatikan Al-Quran. Karena Al-Quran bakal menyejukkan hati, menerangi dada, dan menyinari jiwa. Setiap kali hamba meningkatkan porsi perhatian terhadap Al-Quran, niscaya dia bakal memperoleh kebahagiaan dan kelapangan jiwa. Seorang hamba meningkatkan hubungan dengan Al-Quran, baik dengan membaca, menghafalkan, menelaah, merenungkan, dan mengamalkan Al-Quran. Kesedihan dan kegelisahan hatinya bakal lenyap sesuai dengan porsi perhatian nan dia berikan terhadap Al-Quran. Itulah kenapa dalam angan di atas terdapat ucapan,

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Agar Engkau jadikan Al-Quran sebagai penyejuk hatiku, sinar dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegalauanku.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan,

فَلَيْسَ شَيْءٌ أنْفَعَ لِلْعَبْدِ في مَعاشِهِ ومَعادِهِ، وأقْرَبَ إلى نَجاتِهِ مِن تَدَبُّرِ القُرْآنِ، وإطالَةِ التَّأمُّلِ فِيهِ، وجَمْعِ الفِكْرِ عَلى مَعانِي آياتِهِ، فَإنَّها تُطْلِعُ العَبْدَ عَلى مَعالِمِ الخَيْرِ والشَّرِّ بِحَذافِيرِهِما، وعَلى طُرُقاتِهِما وأسْبابِهِما وغاياتِهِما وثَمَراتِهِما، ومَآلِ أهْلِهِما، وتَتُلُّ في يَدِهِ مَفاتِيحَ كُنُوزِ السَّعادَةِ

“Tidak ada perihal nan lebih berfaedah bagi seorang hamba dalam urusan bumi ataupun akhirat, dan tidak ada perihal nan lebih dekat kepada keselamatan, selain dengan mentadabburi, sering merenungkan kandungan, dan memfokuskan pikiran agar bisa memahami makna ayat Al-Quran. Dengan melakukan perihal itu, bakal diketahui rambu-rambu kebaikan dan keburukan dengan seluruh sisinya; dan bakal diketahui beragam jalan, sebab, akhir tujuan, alias akibat jika melakukan kebaikan dan keburukan; serta bakal diketahui pula tempat kembali bagi para pelakunya; dan bakal terbaca bahwa di tangan-Nya terdapat kunci-kunci perbendaharaan nan mengantarkan pada kebahagiaan.” (Lihat Madarij as-Salikin, 2: 84)

Inilah empat perihal pokok nan menjadi pintu utama kebahagiaan nan bisa menyingkirkan kegelisahan, menghilangkan dan menjauhkan kegundahan dan kesedihan. Dan juga bisa mendatangkan kelapangan hati, ketenangan jiwa, serta kebahagiaan di bumi dan akhirat. Semoga Allah Ta’ala menetapkan kita semua dalam peribadatan orang-orang nan berbahagia dan meneguhkan kita di jalan kebahagiaan.

Baca juga: Emptiness: Perasaan Kosong, Hampa dan Tidak Bahagia

***

@Puri Gardenia, 22 Syawal 1445/ 1 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 52; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr; dengan beberapa penambahan dari penulis.

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id