Mendidik Keluarga Dengan Adab Syariat, Bolehkah Memukul Anak? 

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Ulama bergelar Sulthanil Ulama, Syekh Izzuddin bin Abdussalam (w 660 H), dalam kitabnya mengungkapkan langkah mendidik family dengan etika syariat. Dia mengawali penjelasannya dengan mengutip beberapa ayat Alquran sebagai berikut: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) berfirman: 

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ  

Artinya: "Perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan bersabarlah denganz sungguh-sungguh dalam mengerjakannya ... (QS Thaha [20]: 132).

Allah SWT berfirman: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: "Wahai orang-orang nan beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka nan bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS At tahrim [66]:6).

Syekh Izzuddin menjelaskan, menjaga family dari neraka tiada lain adalah memerintahkan mereka untuk bertakwa dan mendorong mereka untuk taat. Seperti disampaikan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda, 

“Suruhlah mereka mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka lantaran meninggalkan shalat ketika berumur 10 tahun." 

Menurut Syekh Izzuddin, mendidik tata krama terhadap family adalah memberi nikmat dan melakukan baik kepada mereka. Keutamaan membujuk kepada etika tergantung pada keistimewaan etika itu sendiri. 

"Pendidikan paling mulia adalah pendidikan adab, sehingga menjadi taqarrub nan paling utama dan alim nan paling mulia. Demikian pula nan paling utama kemudian nan lebih utama, nan paling ideal kemudian nan lebih ideal," kata Syekh Izzuddin dalam kitabnya nan berjudul Syajaratul Ma’arif terbitan Qaf laman 558. 

Lalu, gimana mendidik anak? Bolehkah memukul anak? 

Syekh Izzuddin mengatakan, jika anak telah belajar apa nan mesti dipelajari tanpa diperintah maka tidak perlu diperintah. Dan jika tidak mau belajar tanpa diperintah maka perlu diperintah. 

"Apabila perintah tidak mempan terhadap anak, maka perlu dipukul dengan pukulan nan dapat ditanggung oleh si anak sepertinya, dan pada umumnya tidak membahayakan," ujar Syekh Izzuddin. 

Namun, tambah dia, jika tidak mempan selain dengan pukulan nan melukai, maka haram melakukan pukulan nan melukai lantaran bisa menyebahkan kematian.

"Tidak boleh juga menggunakan pukulan nan tidak melukai lantaran pukulan itu diperbolehkan tiada lain sebagai perangkat untuk memperbaiki dan jika tidak terjadi perbaikan maka haram hukumnya lantaran berfaedah membahayakan nan tidak bermanfaat," kata dia.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam