Mengapa Islam Agama Yang Benar? (bag. 1)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Dalam perjalanan mencari kebenaran, setelah seseorang mengetahui dan mengakui keberadaan Tuhan nan menciptakan alam semesta ini, maka langkah selanjutnya adalah mencari tahu petunjuk Tuhan manakah nan benar? Sebab, seseorang bakal dihadapkan pada kebenaran banyaknya jumlah kepercayaan di bumi ini. Hal itu seringkali membikin orang nan sedang mencari kebenaran kebingungan.

Apalagi ditambah dengan banyaknya aliran -isme, semacam liberalisme, sekulerisme, nihilisme, ateisme, feminisme, dan lain sebagainya nan turut memperkeruh terangnya sinar kebenaran. Oleh lantaran itu,  jika seseorang lengah, dia bakal dengan mudah jatuh ke dalam salah satu kepercayaan alias aliran kepercayaan tersebut, dan menghabiskan sepanjang umurnya memperdalam, mengkaji, apalagi memihak kepercayaan nan keliru.

Agar perihal tersebut tidak terjadi, maka kita perlu memahami apa nan membikin Islam sebagai satu-satunya kepercayaan nan betul dan satu-satunya jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla.

Alasan pertama: Sumber nan valid

Dalil-dalil nan digunakan kaum muslimin untuk membuktikan kebenaran Islam tidak dapat dibandingkan dengan dalil-dalil nan digunakan umat Kristen, Yahudi, ataupun umat berakidah lainnya. Bahkan, salah satu perihal nan bisa dibanggakan kaum muslimin adalah keahlian mereka dalam membuktikan validitas sumber setiap hukum kepercayaan mereka.

Sebagai contoh, kita mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, Bibel adalah kitab umat Kristen, dan Taurat adalah kitab umat Yahudi. Hal nan membedakan Al-Qur’an dengan kitab-kitab samawi lainnya adalah keahlian umat Islam untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an, dengan setiap surat dan ayatnya, jalur periwayatannya bersambung sampai ke Nabi Muhammad ﷺ.

Periwayatan Al-Qur’an merupakan periwayatan nan mutawātir, artinya periwayatannya tidak dilakukan oleh satu orang dari satu orang dari satu orang, tetapi Al-Qur’an diriwayatkan oleh sekelompok orang dari sekelompok orang dari sekelompok orang dan seterusnya hingga bersambung kepada Nabi ﷺ nan menerima wahyu lewat perantara Jibril ‘alaihissalām nan bekerja menyampaikan wahyu dari Allah ‘Azza Wajalla.

Sementara itu, agama-agama lainnya tidak mempunyai jalur periwayatan nan bersambung ke nabi-nabi mereka, nan dalam bahasa Arab disebut sanad. Sanad adalah rantai transmisi info dari satu person ke person nan lain. Setiap person dalam rantai transmisi tersebut paling tidak kudu dikenal identitasnya, sehingga dapat diteliti lebih lanjut kredibilitasnya dalam meriwayatkan.

Pada kitab-kitab kepercayaan selain Islam terdapat keterputusan sanad nan sangat jelas, apalagi pada beberapa bagian tidak diketahui penulisnya. Sebagai contoh, salah satu peneliti Perjanjian Baru (salah satu bagian dari Bibel) Stephen L. Harris[1] mengatakan bahwa keempat Injil, ialah Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes adalah hasil karya orang-orang nan tidak dikenal. Demikian pula, menurut Bart D. Herman, peneliti Bibel Universitas North Carolina, menyatakan bahwa tidak ada satu pun dari penulis Injil menyaksikan dan mendengar Yesus alias mengaku menyaksikan alias mendengar ucapan Yesus secara langsung, serta nama Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes bukanlah nama penulisnya, melainkan nama nan diberikan Bapa-Bapa Gereja.[2] Bagi nan mau mengetahui lebih lanjut topik ini, dapat merujuk buku-buku nan ditulis peneliti-peneliti tersebut.

Baca juga: Karakteristik Fundamental Al-Quran

Alasan kedua: Mukjizat isi Al-Qur’an

Selain ketersambungan periwayatan Al-Qur’an, salah satu keistimewaan Al-Qur’an juga terletak pada isinya. Dr. Muhammad ‘Abdullāh Darrāz menyusun sebuah kitab nan membahas mukjizat isi Al-Qur’an secara unik nan berjudul Al-Naba’ Al-‘Aẓīm. Di dalam kitab tersebut, dijelaskan beragam argumen kenapa Al-Qur’an merupakan firman Allah, dan Nabi Muhammad ﷺ tidak mungkin mengarang Al-Qur’an. Salah satunya kutipannya sebagai berikut,

“Kitab nan mulia ini dengan karakteristiknya mustahil berasal dari buatan manusia. Ayat-ayatnya memanggil seakan sebuah suratan takdir. Bahkan, seandainya dia ditemukan tergeletak di padang pasir, orang nan menemukan dan menelaahnya bakal percaya bahwa dia bukan berasal dari bumi ini, melainkan diturunkan dari langit.”[3]

Salah satu corak mukjizat isi Al-Qur’an adalah tidak adanya kontradiksi, baik pertentangan antar ayat maupun pertentangan dengan kebenaran ilmiah alias sejarah. Allah Subhānahu Wa Ta‘āla berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَـٰفًۭا كَثِيرًۭا

“Maka, tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur`ān? Sekiranya (Al-Qur`ān) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak perihal nan bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

Sedangkan dalam kitab-kitab kepercayaan lainnya, terdapat banyak sekali kontradiksi. Sebagai contoh, pertentangan di dalam Bibel nan berbincang tentang seseorang berjulukan Ahazia. Ayat nan pertama mengatakan bahwa umurnya 22 tahun, sedangkan ayat nan kedua menyebut bahwa umurnya 42 tahun. Berikut ayatnya:

“Ia, Ahazia, berumur dua puluh dua tahun pada waktu dia menjadi raja dan setahun lamanya dia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya adalah Atalya, cucu Omri raja Israil.” (Kitab 2, Raja-raja, 8:26)

“Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu dia menjadi raja dan setahun lamanya dia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya adalah Atalya, cucu Omri.” (Kitab 2, Tawarikh, 22:2)

Tanggapan umat Kristen terhadap pertentangan kedua ayat tersebut biasanya menyatakan bahwa penyalin manuskrip keliru saat menulis di kedua tempat tersebut. Semudah itukah respons mereka? Masalahnya, kekeliruan ini bukanlah kekeliruan penerjemahan, tetapi kekeliruan pada naskah aslinya. Bayangkan, jika kesalahan semacam ini terjadi pada Al-Qur’an, lampau kita katakan “Para sahabat keliru saat menulis ayat.” Apakah kita bakal percaya terhadap Al-Qur’an?

Lanjut ke bagian 2: [Bersambung]

Baca juga: Kebahagiaan di Balik Ahli Quran

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Understanding the Bible (1985), California: Mayfield.

[2] Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faiths We Never Knew (2003), Oxford University Press.

[3] An-Naba’ul-Aẓīm, hal. 106.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah