Mengapa Ulama Berbeda Pendapat Dalam Menentukan Hukum?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Katanya Islam adalah umat nan satu, lantas kenapa ustadz berbeda pendapat dikalangan ustadz Islam? Pertanyaan ini seringkali muncul ketika terjadi putusan alias fatwa nan kontroversial mengenai suatu norma Islam. Seperti contoh penetapan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Banyak perbedaan dalam menentukan perihal tersebut.

Mengapa Ulama Berbeda

Dalam kitab Ngaji Fikih karya Nadirsyah Hosen menjelaskan secara rinci kenapa para ustadz Islam berbeda pendapat dalam menentukan suatu norma Islam.

Meskipun ustadz Islam berasosiasi dalam ranah syariat, ialah dasar-dasar pokok kepercayaan Islam, mereka mempunyai perbedaan pendapat dalam ranah fikih, ialah penerapan hukum dalam kehidupan sehari-hari. Syariat dalam dalam kajian norma Islam adalah patokan nan bermuara dari nash nan qath’i. Sedangkan fikih adalah patokan norma Islam nan bermuara dari nas nan berkarakter zhanni.

Nash Qath’i 

Istilah qath’i itu terbagi menjadi dua: dari segi datangnya (wurud) dan dari segi teks (lafalnya). Seluruh ayat Al Qur’an dari segi datangnya dia berkarakter qath’i as tsubut. Artinya berkarakter pasti dan dan tidak mengalami perubahan.

نصوص القرآن جميعها قطعية من جهة ورودها وثبوتها ونقلها عن الرسول ﷺ إلينا، أي نجزم ونقطع بأن كل نص تتلوه من نصوص القرآن هو نفسه النص الذي أنزله الله على رسوله ، وبلغه الرسول المعصوم  إلى الأمة من غير تحريف ولا تبديل

Artinya:” Semua teks Al-Qur’an berkarakter qath’i dari segi kemunculannya, penegasannya, dan transmisinya dari Rasulullah SAW epada kita umat Islam. Artinya, kita percaya bahwa setiap teks Al-Qur’an adalah sama dengan teks nan diturunkan Allah kepada Rasul, dan nan disampaikan oleh Rasul nan ma’shum kepada umat manusia tanpa distorsi alias perubahan.” (Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fikih laman 32)

Akan tetapi tidak semua ayat Al Qur’an berkarakter qath’i al dalalah. Qath’i ad-dalalah adalah ayat nan lafalnya tidak ada kemungkinan terjadinya penafsiran lain. Oleh lantaran itu ayat nan berkategori qath’i ad dalalah tidak bisa dilakukan penafsiran dan ijtihad sehingga pada ranah ini tidak mungkin terjadi perbedaan pendapat ulama. 

Seperti contoh ayat nan menjelaskan tanggungjawab shalat ialah “aqimus shalah”. Ayat ini berkarakter qath’i, sehingga tidak dapat dilakukan aktivitas ijtihad dan ustadz dari semua ajaran sepakat bakal tanggungjawab shalat.

Begitu pula dengan hadis. Ia juga berkarakter qath’i al wurud dan qath’i ad dalalah. Namun tidak semua sabda berkarakter qath’i al wurud (hanya sabda mutawatir) dan juga tidak semua sabda mutawatir berkarakter qath’i ad dalalah. Jika disimpulkan sebagai berikut: 

Qath’i as tsubut alias Qath’i al wurud: Semua ayat Al Qur’an dan Hadis Mutawatir

Qath’i Al Dalalah: Tidak semua ayat Al Qur’an dan tidak semua Hadis Mutawatir.

Nash Zhanni 

Nash zhanni juga sama dengan nas qath’i, dia terbagi menjadi dua: Dari segi datangnya dan lafalnya. Beberapa ayat Al Qur’an terdapat sejumlah ayat nan lafalnya membuka kesempatan terjadinya beragam macam penafsiran. Misalnya dalam soal batas iddah bagi wanita dalam surah Al Baqarah ayat 228. Ulama berbeda pendapat dalam perihal ini. 

Penyebabnya adalah perbedaan memahami lafal “quru”, ada nan memaknai lafal quru adalah menstruasi ada nan mengartikan suci. Ini nan dinamakan zhanni ad dalalah. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Wahab Khalaf dalam kita karyanya Ilmu Ushul Fiqih halaman 34 berikut:

  أما دل على معنى لكن يحتمل أن يؤول ويصرف من هذا المعنى ويراد منه معنى غيره، مثل قوله تعالى: “وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِالْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ” فلفظ القرء في اللغة العربية مشترك بين معنيين يطلق لغة على الظهر ويطلق لغة على الحيض. والنص دل على أن المطلقات يتربصن ثلاثة قروء، فيحتمل أن يراد ثلاثة أظهار ويحتمل أن يراد ثلاث حيضات، فهو ليس قطعي الدلالة على معنى واحد من المعنيين، ولهذا اختلف المجتهدون في أن عدة المطلقة ثلاث حيضات أو ثلاثة أطهار

Artinya: “Adapun nan menunjukkan atas suatu makna namun, namun bisa saja dapat diartikan dan dibelokkan dari makna tersebut dan dimaksudkan untuk mengartikan makna nan lain, seperti firman Allah Swt: “Dan wanita nan dicerai kudu menunggu tiga kali haid.” Kata “quru’” dalam bahasa Arab mempunyai dua arti, ialah suci dan haid. 

Ayat tersebut menyatakan bahwa wanita nan dicerai menunggu tiga quru’, maka boleh jadi nan dimaksudkan adalah tiga masa haid, dan boleh juga nan dimaksud adalah tiga masa haid. Hal ini bukanlah qath’i ad dalalah lantaran satu lafadz mempunyai dua makna. Para mahir norma berbeda pendapat mengenai apakah masa tunggu bagi wanita nan dicerai adalah tiga masa menstruasi alias tiga masa suci.”

Selain sabda mutawatir sabda lainnya juga berkarakter zhanni al wurud. Hal ini menunjukkan bahwa boleh jadi ada satu ustadz nan memandang sahih suatu hadis, dan ustadz lain tidak memandang sabda itu sahih. Bahkan sabda nan zhanni al wurud rupanya juga banyak nan lafalnya berkarakter zhanni ad dalalah.

Dengan demikian sudah terbuka potensi perbedaan pendapat dalam menafsirkan suatu hadis. Jika nash zhanni dipetakan, maka sebagai berikut:

Zhanni al wurud: Selain Hadis Mutawatir

Zhanni al dalalah: Lafal dalam Hadis Mutawatir dan lafal sabda nan lain (Masyhur,Ahad).

Dari penjelasan diatas sudah ditegaskan bahwa hukum tersusun dari nash qath’i, sedangkan fikih tersusun dari nash zhanni. Berikut contoh produk norma antara hukum dan fikih:

  1. Kewajiban puasa Ramadhan. (Nashnya qath’i dan ini syariat. Tak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama)
  2. Kapan mulai puasa, dan kapan Ramadhan?. (Nashnya zhanni, hadistnya mengatakan kudu memandang bulan, tetapi kata “melihat” mengandung penafsiran dan ini fikih. maka lumrah terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal puasa ramadhan) 
  3. Membasuh kepala dalam berwudhu itu wajib. (Nashnya qath’i dan ini syariat)
  4. Sampai mana batas membasuh kepala? (Nashnya zhanni, lantaran pada kata “bi” pada “wamsahu biruusikum” terbuka penafsiran dan ini fikih).

Demikian jawaban atas pertanyaan kenapa ustadz berbeda pendapat dalam menentukan norma Islam. Semoga berfaedah Wallahu a’lam bishawab. [Baca juga: Biografi Al-Barqani;  Ulama Minta Diwafatkan di Bulan Rajab].

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah