Mengenal Batik Lokatmala Sukabumi

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

Dalam naskah Siksa Kanda ng Karesian nan berasal dari awal abad ke-16, disebut beberapa macam corak lukisan (tulis), ialah pupunjengan, hihinggulan, kekembangan alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata, kembang tarate dan disebut juga beberapa macam kain (boeh), antara lain kembang mu(n)cang, gagang senggang, anyam cayut, poleng re(ng)ganis, cecempaan, mangin haris, surat awi, parigi nyengsoh, dan hujan riris Hal tersebut menunjukkan bahwa pada masa naskah itu ditulis, orang Sunda telah mengenal beragam corak kain (samping) dan batik, walaupun tak ada peninggalan dari era tersebut (Kerajaan Sunda). (Ensiklopedi Sunda, 2000:107).

Pada abad ke-20, kegiatan membatik berkembang di beberapa daerah, seperti di Cirebon (Trusmi), Indramayu (Paoman), Ciamis, Tasikmalaya, Garut, nan masing-masing tempat mempunyai corak atau motif tersendiri nan unik sehingga memunculkan julukan nan unik pula. Begitu halnya dengan “Batik Lokatmala” Sukabumi. Dalam perkembangannya corak batik Sukabumi ini dilatarbelakangi kehidupan masyarakat dan lingkungan alam sekitar. Oleh lantaran itu, setiap goresan motif batik rupanya mempunyai maknanya tersendiri.

1. Motif Batik Sukabumi Masagi

batik sukabumi 1

Motif batik ini terinspirasi oleh ungkapan nan ada pada masyarakat Sukabumi mempunyai makna dan nilai filosofis bersuara “hirup mah kudu masagi”. “Masagi” berasal dari kata “pasagi” artinya segi empat sama sisi nan mengisyaratkan bahwa manusia mempunyai tanggungjawab untuk menuntut pengetahuan pengetahuan nan seimbang antara kehidupan bumi dan kehidupan kelak setelah kematian, di samping menjadi teladan dan berfaedah bagi masyarakat di sekitarnya.

2. Motif Batik Candramawat

batik sukabumi 2

Batik Candramawat, terinspirasi dari cerita alias dongeng Sunda “Nini Anteh”, adalah cerita nan mengisahkan seorang nenek sedang menenun ditemani seekor kucing berjulukan Candramawat. di atas sana. Anteh berasal dari kata kanteh alias benang, sedangkan nama kucing Candramawat berasal dari dua kata candra dan mawat. Candra berfaedah bulan dan mawat berfaedah berguna alias bermanfaat. Makna nan terkandung dari motif batik ini, mengisyaratkan kita manusia untuk selalu berupaya dan berupaya selama kehidupan di kandung badan dengan angan agar apa nan kita peroleh berfaedah dan berfaedah bagi nan lain.

3. Motif Batik Leungli

batik sukabumi 3

Motif batik Leungli ini terinspirasi dari cerita alias dongeng Sunda “si Leungli” nan mengisahkan persahabatan gadis bungsu nan malang dengan ikan mas ajaib berjulukan Leungli. Si gadis bungsu tersebut selalu mendapat perlakuan jelek dari kakak-kakak tiri perempuannya. Persahabatan keduanya terjalin ketika si gadis pergi ke sebuah tepi sungai saat meratapi derita dirinya akibat perlakuan kakak-kakaknya tersebut. Pada saat itu muncul seekor ikan mas nan juga bersisik mas berbisik dan berbincang kepada si Leungli untuk menghiburnya. Makna nan tersirat dari cerita dimaksud mengisyaratkan kepada kita bahwa suatu kebaikan, kerendahan hati pada akhirnya bakal mendapatkan ganjaran nan setimpal dengan apa nan kita perbuat, walaupun kudu melewati rintangan dan halangan, begitu juga sebaliknya.

4. Motif Batik si Leungli di Gunung Parang

Motif batik ini terinspirasi dari cerita alias legenda nan ada di sekitar Sukabumi, ialah sebuah gunung menyerupai perangkat pertanian berupa parang nan kemudian distilasi menjadi huruf “S” dan kendi sebuah wadah tempat menyimpan air dijadikan monument Kota Sukabumi terletak di tengah alun-alun Kota Sukabumi. Makna nan tersirat dari motif batik dimaksud mengisyaratkan bahwa seiring perjalanan waktu kiranya kita perlu mengevaluasi segala perihal nan pernah kita lakukan dan tentunya menuju ke arah nan lebih baik lagi. Kemudian “kendi”, wadah menyimpan air terbuat dari tanah mengisyaratkan penduduk masyarakat Kota Sukabumi untuk selalu menjaga air sebagai sumber kehidupan.

5. Motif Batik Gurilaps

Motif batik “gurilaps” merupakan akronim dari gunung, rimba, laut, pantai, dan sungai. Potensi alam dimaksud dimiliki Kota Sukabumi, seperti gunung dan rimba berada di wilayah Situgunung, dan Halimun; pantai berada di Pelabuhan Ratu dan Cibuaya; dan sungai diwakili oleh Sungai Citarik. Pengambilan potensi alam menjadi motif batik dimaksud memiliki makna nan mengisyaratkan kita manusia kudu mempunyai pendirian yang kuat dan kokoh, dijalani seperti air mengalir, dan riak gelombang kehidupan silih berganti. Namun demikian kita kudu selalu berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa bahwa semua nan terjadi semata atas kehendak-Nya.

6. Motif Batik Julang

Motif batik julang terinspirasi dari nama burung julang. Burung ini merupakan jenis burung pemakan buah-buahan, kepiting, kodok, nan mempunyai kediaman di rimba dataran rendah, perbukitan, tersebar sampai ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Kebiasan burung ini andaikan sudah mengepak sayap pantang untuk kembali andaikan yang diinginkannya belum tercapai. Penamaan motif batik julang mempunyai makna yang mengisyaratkan manusia mempunyai semangat, pantang menyerah dalam mencari ilmu pengetahuan sesuai dengan nan diinginkan.

7. Motif Batik Garuda Ngupuk

batik sukabumi 4

Motif batk Garuda Ngupuk terinspirasi dari langkah gimana burung garuda bersarang. Motif tersebut juga terinspirasi dari konsep pola pengembangan tata ruang pembangunan pusat pemerintahan. Hal dimaksud sesuai dengan konsep bahwa kondisi lahan nan baik untuk pusat pemerintahan nan diinginkan “Garuda ngupuk, bahe ngaler-ngetan, deukeut pangguyangan badak putih”. Makna ungkapan itu adalah letak dan kondisi lahan untuk ibukota kudu baik dari beragam segi, serta dekat dengan sumber air.

Filosofi batik Garuda Ngupuk adalah setiap manusia kudu mempunyai sumber-sumber kehidupan. Sumbernya itu adalah luas pengetahuan pengetahuan, lantaran pengetahuan adalah fondasi dari setiap kehidupan seseorang, kudu bergerak di setiap kondisi dan mempunyai hati nan kuat menerima apapun nan bakal dihadapi.

8. Motif Batik Penyu

batik sukabumi 5

Motif batik penyu terinspirasi dari Pusat Konservasi Penyu nan berada di Desa Pangumbahan Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi. Motif batik ini melambangkan bakal kesederhanaan dan kerendahan hati dengan menjalani hidup selaras dengan aliran alam semesta.

9. Motif Batik Ciwangi

batik sukabumi 6

Motif batik rereng Ciwangi terinspirasi dari cerita nan mengisahkan seorang wanita berjulukan Nyimas Ciwwangi nan bisa mengalahkan raksasa nan bermaksud merusak alam dengan menggunakan lembaran daun suji berwarna hijau. Raksasa kemudian kalah akibat tergulung kain suji, Karena ketakutan, sang raksasa berlari dan tercebur ke dalam kolam air panas hingga tubuhnya melepuh menyatu dengan air. Alkisah, beberapa minggu setelah kejadian itu, hutan, gunung dan pepohonan tumbuh asri sediakala.

Adapun Filosofi batik Rereng Ciwangi adalah motif nan mengandung nasihat alias peringatan ialah siapapun nan berselera melakukan perusakan terhadap alam, tidak lain mereka hanyalah sesosok raksasa jahat nan pada akhirnya bakal menerima hasilnya sendiri.

10. Motif Batik Elang Jawa Situgunung

batik sukabumi 7

Motif batik Elang Jawa ini terinspirasi dari burung elang Jawa nan gagah perkasa dan menjadi raja di udara, dengan angan motif batik ini menjadi industri batik nan dikenal lebih luas. Elang Jawa merupakan jenis elang berukuran sedang nan endemik di Pulau Jawa khususnya di area Gunung Gede Pangrango. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, ialah Garuda. Sejak tahun 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Filosofi motif elang Jawa Situgununung mengisyaratkan kita bisa melakukan sesuatu keputusan nan sangat berat untuk memulai proses perubahan. Artinya bisa meninggalkan kebiasaan lama nan tidak baik, walaupun perihal tersebut menyenangkan, dengan maksud menggapai tujuan nan lebih baik di masa depan.

11. Motif Batik Buah Pala dan Wijayakusumah

batik sukabumi 8

Motif batik Biji Pala dan Wijaya Kusumah terinspirasi dari latar sejarah bahwa pada era itu nilai biji pala dan fuli pala bisa lebih mahal dibanding nilai logam mulia seperti emas sehingga biji pala dan fuli pala menjadi komuditas nan mempunyai nilai tinggi saat itu. Lebih lanjut kata “Pahlawan” (bahasa Sansakerta), berasal dari kata “Phala” dan “wan” mengandung makna orang nan dari dirinya menghasilkan buah “phala” berbobot bagi bangsa, Negara, dan kepercayaan disertai keberanian dan pengorbanan. Sedangkan Wijayakusumah melambangkan penerang dalam kegelapan, keteladanan, dan kejujuran. Filosofi motif batik dimaksud mengisyaratkan manusia agar selalu menjadi orang nan berbobot dan menjadi penerang, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.

12. Motif Batik Cai

Motif batik “cai” air terinspirasi bakal kebutuhan air bagi kehidupan manusia. Karena pentingnya akan kebutuhan air bagi manusia pada umumnya dan pada khususnya masyarakat Sukabumi, toponimi dan penamaan tempat pun menggunakan awalan “Tji” alias “Ci” berasal dari kata “cai”. Hal tersebut terungkap dari ungkapan masyarakat Sukabumi bahwa “Sakali nginum cai Sukabumi pasti bakal kembali deui ka Sukabumi” yang menggambarkan konsep, harapan, cita-cita, dan angan mengalir seperti air.

Filosofi motif batik cai ini, mengisyaratkan bahwa dalam kehidupan tentunya kudu mempunyai keahlian untuk menyelesaikan sesuatu dengan ulet dan bisa menyelesaikannya dengan baik. Hal tersebut tercermin dari ungkapan “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”.

Sember : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/

Selengkapnya
Sumber Kebudayaan Indonesia
Kebudayaan Indonesia