Jakarta -
Si Kecil tanpa sadar sering buang air besar tak tertahankan, Bunda? Jangan dianggap sepele, ya. Cari tahu penyebab kondisi yang dikenal sebagai encopresis ini.
Ya, sering kali penyebabnya bukan semata-mata lantaran anak malas ke toilet alias sengaja. Namun, bisa juga menjadi tanda adanya masalah yang disebut encopresis.
Kondisi ini umumnya dialami oleh anak usia di atas 4 tahun dan sering kali berangkaian dengan konstipasi kronis alias aspek emosional seperti stres.
Apa itu encopresis?
Encopresis adalah kondisi ketika anak yang sudah lulus toilet training secara tidak sadar mengeluarkan kotoran di celana. Umumnya tak hanya satu kali, melainkan bisa terjadi berulang kali.
Ketika konstipasi, tumpukan feses yang mengeras di usus besar dapat membikin kotoran baru yang lebih lembek keluar tanpa disadari oleh anak.
Di sisi lain, tekanan emosional alias perubahan lingkungan juga bisa memperparah kondisi ini, terutama pada anak yang sensitif terhadap stres. Dikutip dari Medical News Today, encopresis bukanlah penyakit, melainkan indikasi dari kondisi lain.
Jangan langsung dimarahi ya, Bunda. Kondisi ini juga dapat menimbulkan emosi cemas, malu, dan bersalah pada anak.
Penyebab encopresis
Penyebab encopresis dapat dipicu oleh beberapa faktor, termasuk aspek biologis, perkembangan, psikososial, dan lingkungan. Penyebab paling umumnya termasuk:
1. Sembelit
Dokter paling sering mengaitkan encopresis dengan sembelit kronis dan kebiasaan menahan buang air besar. Menurut beberapa penelitian, 90–95 persen anak dengan kondisi ini juga mengalami sembelit dan penumpukan tinja.
Tinja yang keras dan susah dikeluarkan dapat tersumbat di rektum dan usus besar (fecal impaction). Akhirnya, tinja cair bakal merembes di sekitar tinja keras tersebut, menyebabkan 'kebocoran'.
Anak juga mungkin menghindari buang air besar lantaran merasa sakit saat melakukannya, yang kemudian memperburuk sembelit dan memicu encopresis.
2. Penyebab bentuk lainnya
Beberapa penyebab bentuk lain dari sembelit kronis dan encopresis meliputi:
- Hipotiroidisme
- Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease)
- Kerusakan saraf yang menyebabkan otot sfingter anus tidak dapat menutup dengan benar
- Infeksi pada rektum
- Luka robek pada rektum
3. Penyebab emosional dan psikososial
Selain masalah fisik, masalah emosional dapat memicu encopresis. Peristiwa apa pun yang dapat memicu stres pada anak, bisa juga meningkatkan akibat encopresis.
Beberapa kondisi tersebut misalnya toilet training yang terlalu dini, fase memulai sekolah, pindah rumah, berita duka, alias apalagi perpisahan orang tua.
Anak dengan masalah kesehatan mental alias bentrok lingkungan family juga lebih berisiko mengalami encopresis.
Penelitian dalam jurnal Gastroenterology Research and Practice menunjukkan bahwa anak dengan encopresis lebih mungkin memiliki:
- Gejala kekhawatiran dan depresi
- Prestasi belajar yang buruk
- Masalah sosial
4. Penyebab dan aspek akibat lainnya
Beberapa aspek lain yang dapat meningkatkan akibat encopresis dan sembelit antara lain:
- Jenis kelamin: Encopresis dua kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.
- Gangguan perkembangan saraf: Anak dengan ADHD alias autisme mempunyai akibat lebih tinggi.
- Obat-obatan tertentu: Beberapa obat yang menyebabkan sembelit dapat meningkatkan akibat encopresis.
- Kebiasaan makan: Pola makan tinggi lemak dan gula meningkatkan akibat sembelit kronis. Kurangnya asupan cairan juga bisa menjadi pemicu.
- Kurang aktivitas: Anak yang jarang bergerak berisiko lebih tinggi mengalami sembelit.
Gejala encopresis
Beberapa tanda dan indikasi encopresis yang perlu menjadi perhatian orang tua di antaranya:
- Tiba-tiba mau buang air besar dengan sedikit 'sinyal'
- Sering menghindari buang air besar
- Tekstur tinja cair menyerupai diare
- Sembelit
- Nyeri perut
- Nyeri di area anus
- Penurunan nafsu makan
- Anak tampak stres, cemas, alias merasa bersalah
Pengobatan encopresis
Pengobatan encopresis sebenarnya berjuntai pada tingkat keparahan kondisi dan usia anak. Semakin awal pengobatan dimulai, semakin baik hasilnya.
Biasanya, pengobatan yang diberikan oleh master bakal mencakup satu alias lebih perihal berikut:
1. Mengeluarkan tinja yang mengeras
Dokter biasanya memulai pengobatan dengan mengeluarkan tinja keras yang menumpuk di usus besar. Untuk melakukannya, master mungkin bakal meresepkan obat pencahar.
2. Mendorong kebiasaan buang air besar teratur
Anak perlu belajar kebiasaan sehat untuk rutin buang air besar, agar proses pembuangan menjadi lancar. Hal ini juga membantu mencegah kekambuhan sembelit alias encopresis.
Untuk proses ini, Bunda bisa membantu memberikan anak menu makanan seimbang dengan banyak serat dan cairan. Pastikan juga anak cukup kegiatan bentuk setiap hari untuk mencegah sembelit.
Atur kenyamanan toilet di rumah, agar anak terbiasa dan bisa segera buang air besar setelah merasa ingin. Jika perlu, Bunda juga bisa berkonsultasi dengan master untuk memeriksa kemungkinan alergi, seperti alergi susu, yang dapat menyebabkan sembelit.
3. Psikoterapi
Jika penyebab encopresis adalah masalah emosional, anak mungkin memerlukan psikoterapi.
Dalam terapi, anak dapat membahas faktor-faktor yang memicu encopresis serta belajar langkah mengatasi rasa takut dan malu dengan lebih profesional.
4. Dukungan dari orang tua dan pengasuh
Dukungan dari orang tua alias pengasuh berkedudukan krusial dalam membantu anak mengatasi encopresis.
Oleh karena itu, krusial untuk tidak memarahi, mempermalukan, alias menghukum anak atas situasi yang mungkin terjadi akibat encopresis.
Sebaliknya, berikan support positif dan kesabaran untuk membantu anak membangun kebiasaan baru dan mengelola tekanan emosional yang dirasakannya.
Pencegahan encopresis
Dikutip dari Harvard Health Publishing, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah encopresis akibat sembelit kronis. Salah satunya pastikan anak cukup asupan serat. Berikan cukup sumber serat seperti buah, sayur, dan biji-bijian.
Pastikan juga anak minum cukup cairan, terutama dari konsumsi air putih. Dorong anak untuk tetap aktif, karena kegiatan bentuk membantu ususnya bekerja lebih lancar. Hindari penggunaan laksatif setiap hari selain atas petunjuk dokter.
Kapan kudu konsultasi ke dokter?
Pastikan untuk segera menghubungi master jika:
- Anak berumur lebih dari 4 tahun dan terus-menerus mengalami 'kebocoran' buang air besar.
- Anak mulai kembali mengotori celana setelah lama bersih.
- Anak sering sembelit, meski tidak mengalami encopresis.
Jika Bunda berprasangka Si Kecil mengalami encopresis alias sembelit kronis, konsultasikan dengan dokter. Nantinya master dapat melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, rontgen perut untuk memandang jumlah tinja di usus, serta pertimbangan psikologis jika indikasi bentuk dipicu oleh aspek emosional.
Demikian ulasan tentang encopresis pada anak. Ingat, sebagian besar anak dengan encopresis dapat pulih sepenuhnya dengan pengobatan dan support dari orang tua.
Namun butuh waktu beberapa bulan hingga kegunaan usus kembali normal dan kekambuhan mungkin tetap bisa terjadi selama masa pemulihan. Penting untuk tidak mempermalukan alias menyalahkan Si Kecil ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·