Jakarta -
Memiliki anak yang sehat dan ceria tentu menjadi angan bagi setiap orang tua. Namun, ada kalanya Bunda menghadapi tantangan saat Si Kecil mengalami kesulitan bicara sejak dini.
Pasangan artis Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Abdullah merasakan perihal ini saat putra bungsu mereka, Sulaiman Ali Abdullah, mengalami kondisi genetik yang membuatnya susah berbincang di usianya yang sekarang menginjak lima tahun.
Kondisi ini muncul lantaran Prader Willi Syndrome (PWS) yang diidapnya dan membawa beberapa tantangan lain. Salah satu indikasi dari sindrom ini adalah apraxia yang berfaedah gangguan bicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oki diketahui sekarang menetap di Mesir dan memboyong anak-anaknya, termasuk Sulaiman. Belum lama ini, kakak Youtuber Ria Ricis ini mendaftarkan Sulaiman ke sekolah di Mesir.
"Hari ini Umma memberanikan diri untuk mendaftarkan Sulaiman ke sekolah Mesir yang menggunakan bahasa Inggris dan Arab," ungkap Oki, dikutip dari akun IG @okisetianadewi.
"Untuk sindromnya Sulaiman yang salah satu gejalanya adalah apraxia (Kesulitan bicara), tentu Sulaiman punya perjuangannya sendiri dalam memahami bahasa lainnya," jelasnya.
Lantas, sebenarnya apa itu gangguan bicara apraxia pada anak, Bunda? Mari kita simak selengkapnya berikut ini.
Mengenal gangguan bicara apraxia pada anak
Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, apraxia alias gangguan bicara termasuk masalah kesehatan yang jarang terjadi. Kondisi ini muncul ketika anak kesulitan menggerakkan mulutnya dengan tepat saat mencoba berbicara.
Apraxia pada anak merupakan gangguan saraf di otak yang membikin koordinasi otot-otot bicara menjadi sulit. Kondisi ini berpengaruh pada aktivitas rahang, lidah, dan bibir saat anak mau mengucapkan kata.
Anak yang mengalami apraxia sebenarnya tahu apa yang mau diungkapkan, Bunda. Namun, mereka kesulitan dalam mengatur aktivitas mulut sehingga kata-kata yang diucapkan tidak terdengar jelas.
Biasanya pada usia sekitar 2 tahun, anak sudah bisa menyusun kata-kata, misalnya 'mau makan' alias 'minum susu'. Jika Bunda memandang anak kesulitan mengucapkan kata-kata ini, ada kemungkinan dia mengalami gangguan bicara apraxia.
Gejala apraxia pada anak
Perlu diketahui bahwa apraxia biasanya mulai terlihat saat anak tetap batita, ialah di bawah usia 3 tahun. Bunda juga bisa memperhatikan beberapa tanda yang mungkin muncul pada Si Kecil seperti dikutip dari Kemenkes RI:
- Bayi tampak jarang mengoceh alias bersuara.
- Anak kesulitan menggerakkan mulut untuk kegiatan seperti mengunyah, mengisap, alias meniup.
- Sulit mengucapkan huruf konsonan di awal alias akhir kata, contohnya saat mengatakan 'makan', 'minum', alias 'tidur'.
- Kesulitan mengucapkan kata-kata yang terdengar mirip, misalnya 'buku', 'kuku', alias 'susu'.
- Lebih sering memakai aktivitas tubuh untuk menyampaikan keinginannya, misalnya mengulurkan tangan alias menangis saat mau makan alias minum.
- Anak kesulitan mengulang kata yang sama untuk kedua kalinya.
Penyebab apraxia pada anak
Apraxia pada anak biasanya muncul lantaran gangguan genetik alias masalah metabolisme. Bunda perlu tahu bahwa kelahiran prematur dan penggunaan obat-obatan tertentu oleh Bunda saat mengandung turut memicu kondisi ini.
Gangguan ini bisa terjadi pada anak di usia berapapun, tidak selalu terlihat sejak lahir. Beberapa anak memang sudah mengalaminya sejak lahir, sementara yang lain baru menunjukkan indikasi kemudian.
Selain aspek bawaan, apraxia juga bisa dipicu oleh cedera pada kepala alias stroke. Hal ini yang membikin koordinasi otot bicara anak menjadi terganggu meskipun sebelumnya normal.
Komplikasi apraxia pada anak
Dikutip dari laman Mayo Clinic, banyak anak yang mengalami apraxia bicara pada masa kanak-kanak alias dikenal juga sebagai Childhood Apraxia of Speech (CAS). Anak ini biasanya mempunyai kondisi lain yang memengaruhi keahlian mereka saat berkomunikasi.
Kondisi tambahan ini tidak disebabkan oleh CAS secara langsung. Namun, indikasi CAS bisa muncul berbarengan dengan masalah lain seperti:
- Perkembangan bahasa yang terlambat, misalnya anak kesulitan memahami kata-kata, mempunyai kosakata terbatas, alias belum bisa menyusun kata dan kalimat dengan benar.
- Perkembangan keahlian motorik yang lambat, termasuk kesulitan dalam membaca, mengeja, dan menulis.
- Tantangan dalam mengendalikan aktivitas motorik alias koordinasi tubuh.
- Kesulitan menggunakan bahasa alias komunikasi saat berinteraksi dengan orang lain.
Cara mengatasi apraxia pada anak
Jika Si Kecil menunjukkan indikasi yang sudah disebutkan sebelumnya, ada kemungkinan dia mengalami apraxia. Namun untuk memastikan perihal ini, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, ya.
Biasanya master bakal menilai keahlian anak dalam mengucapkan kata yang sama secara berulang. Menilik dari Kemenkes RI, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak yang mengalami apraxia.
1. Terapi wicara
Terapi wicara menjadi langkah paling efektif untuk membantu anak dengan apraxia. Biasanya terapi ini dilakukan rutin, ialah sekitar dua kali seminggu sampai terlihat perkembangan keahlian bicara anak.
Jika Bunda memandang tanda-tanda keterlambatan alias masalah bicara pada Si Kecil yang sesuai dengan indikasi apraxia, terapi wicara bisa segera dimulai. Terapi ini biasanya difokuskan pada empat kategori, yaitu:
- Kelainan bicara
- Kelainan bahasa
- Kelainan suara
- Kelainan irama alias kelancaran bicara
Terapi wicara berfokus pada latihan suku kata, kata, dan frasa. Untuk kasus apraxia yang cukup berat, anak mungkin memerlukan terapi yang lebih intensif.
Selain itu, terapi wicara biasanya lebih efektif jika dilakukan langsung dengan terapis. Anak jadi punya lebih banyak kesempatan untuk berlatih bicara, Bunda.
Selama sesi terapi, anak biasanya dilatih untuk mengucapkan suku kata, kata, alias frasa. Terapis bisa menggunakan beragam isyarat saat melakukan terapi wicara.
Misalnya, anak diminta memandang dan mendengar saat terapis mengajarkan kata alias frasa. Terapis juga biasanya menyentuh wajah anak untuk membantu mengucapkan huruf tertentu, seperti huruf 'o'.
2. Terapi musik
Beberapa studi menunjukkan bahwa terapi musik bisa membantu anak mengucapkan lebih banyak suku kata dan ragam bunyi. Cara ini sekaligus juga membantu anak lebih lancar berkomunikasi dalam kegiatan sehari-hari.
Oleh lantaran itu, Bunda dan Ayah boleh membujuk Si Kecil mendengarkan alias menonton video musik di gadget. Namun, waktunya perlu dibatasi agar anak tidak terlalu sering menatap layar dan terhindar dari kecanduan.
3. Bermain mengucapkan kata
Selanjutnya, Bunda bisa membujuk Si Kecil bermain dengan mengucapkan satu kata yang sederhana secara berulang, misalnya 'makan', 'malam', 'minum', alias 'mandi'.
Cobalah lakukan permainan ini di depan cermin, agar Si Kecil bisa memandang bagian mulut mana yang kudu digerakkan saat mengucapkan kata.
4. Bahasa isyarat
Terakhir, menggunakan bahasa isyarat juga bisa menjadi salah satu langkah membantu anak dengan gangguan bicara apraxia. Dengan langkah ini, Si Kecil tetap bisa berlatih menggerakkan mulutnya saat mau mengucapkan kata.
Itulah info seputar gangguan bicara apraxia pada anak seperti yang dialami putra Oki Setiana Dewi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·