Mengenal Gaya Komunikasi: Pasif, Agresif, Pasif-agresif Dan Asertif

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Apakah Grameds pernah mengalami kesulitan saat melakukan komunikasi dengan orang lain? Ada orang nan terkesan mendominasi, sebaliknya ada nan selalu mengikuti apa nan orang lain sampaikan. Gaya komunikasi tersebut perlu kita kenali agar tidak menimbulkan akibat negatif pada hubungan interpersonal kita dengan orang lain. Berikut style komunikasi nan perlu kita ketahui.

Pengertian Gaya Komunikasi

Gaya komunikasi adalah langkah seseorang berinteraksi, menyampaikan pesan, dan berkomunikasi dengan orang lain. Cara berkomunikasi ini mencakup kombinasi dari bahasa verbal, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan elemen-elemen komunikasi non-verbal lainnya nan membentuk langkah perseorangan berkomunikasi.

Setiap orang bisa saja mempunyai style komunikasi nan berbeda-beda dalam menyampaikan ide, perasaan, alias info kepada orang lain. Hal ini bisa mencakup komunikasi terbuka nan jelas dan tegas, komunikasi nan lebih tertutup alias tidak langsung, alias apalagi style komunikasi nan agresif. Dengan memahami dan mengenali style komunikasi, kita dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, membangun hubungan nan sehat, dan menghindari bentrok nan tidak perlu dalam hubungan interpersonal. Berikut adalah macam-macam style komunikasi:

1. Komunikasi Pasif

Komunikasi pasif mempunyai karakter enggan menyatakan kebutuhan alias pendapat dan condong menghindari konfrontasi dengan orang lain.

2. Komunikasi Agresif

Gaya komunikasi garang mempunyai ekspresi diri nan tegas, dominan, dan mendominasi tanpa memperhatikan alias merugikan hak-hak, perasaan, alias kebutuhan orang lain. Orang nan menggunakan style komunikasi garang condong mengejar kemauan dan kepentingan mereka dengan langkah nan mengintimidasi, mengkritik, alias merendahkan orang lain.

3. Komunikasi Pasif-Agresif

Komunikasi pasif garang merujuk pada style komunikasi di mana seseorang menyatakan kebutuhan alias pendapatnya dengan langkah tidak langsung alias menghindari konfrontasi, tetapi mungkin menyertakan unsur-unsur nan merendahkan alias merugikan. Gaya komunikasi ini sering kali mencerminkan ketidakpuasan alias ketidaksetujuan, tetapi perseorangan nan menggunakan pendekatan ini tidak secara definitif menyatakan kebutuhan alias kemauan mereka.

4. Komunikasi Asertif 

Komunikasi asertif adalah langkah berkomunikasi nan menunjukan ekspresii nan tegas, jelas, dan terbuka tanpa merugikan hak-hak alias emosi orang lain. Seseorang nan bersikap asertif dapat menyatakan kebutuhan, pendapat, dan perasaannya dengan jelas dan dengan menghormati hak-hak orang lain. Gaya komunikasi ini menciptakan keseimbangan antara menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain.

Ciri-Ciri Gaya Komunikasi

Gaya komunikasi seseorang dapat tercermin melalui beragam ciri-ciri nan mencakup elemen-elemen verbal dan non-verbal dalam hubungan mereka. Berikut adalah beberapa ciri-ciri umum dari style komunikasi:

Gaya Komunikasi Pasif

(Sumber foto: www.pexels.com)

  • Tidak Menyatakan Kebutuhan alias Pendapat

Individu nan menggunakan komunikasi pasif seringkali enggan alias tidak nyaman menyatakan kebutuhan alias pendapat mereka secara terbuka.

  • Menunda alias Menahan Pendapat

Orang nan berkomunikasi secara pasif mungkin menunda untuk menyampaikan pendapat alias kemauan mereka, apalagi jika itu penting.

  • Menghindari Konfrontasi

Individu nan komunikatif pasif condong menghindari konfrontasi alias pertengkaran lantaran mereka tidak suka berada di area konflik.

  • Penerimaan terhadap Perlakuan Tidak Adil

Orang nan bersikap pasif condong menerima perlakuan nan kurang adil, namun kesulitan untuk mengekspresikan emosi alias keberatan mereka.

  • Ekspresi Fisik alias Bahasa Tubuh nan Pasif

Ciri-ciri komunikasi pasif dapat tercermin dalam ekspresi bentuk alias bahasa tubuh nan kurang tegas.

  • Kurangnya Kepastian dalam Keputusan

Orang nan bersikap pasif mungkin susah untuk membikin keputusan alias menentukan pilihan, seringkali menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain.

  • Penerimaan terhadap Kritik Tanpa Respons

Saat mendapat kritik, perseorangan nan bersikap pasif mungkin menerima tanpa memberikan tanggapan alias memihak diri.

  • Kesulitan Menolak Permintaan

Kesulitan untuk menolak permintaan alias tawaran dari orang lain adalah karakter komunikasi pasif, apalagi jika mereka tidak mau alias tidak bisa melakukannya.

  • Rendahnya Kemandirian

Komunikasi pasif dapat mencerminkan kurangnya kemandirian dalam menyatakan kebutuhan alias mengambil inisiatif dalam berkomunikasi.

  • Mengandalkan Isyarat Tidak Langsung

Orang nan komunikatif pasif condong menggunakan isyarat tidak langsung alias kode untuk menyampaikan pesan mereka, seringkali menyebabkan kebingungan.

Gaya Komunikasi Agresif

Gaya komunikasi garang ditandai oleh ekspresi diri nan dominan, tegas, dan terkadang merendahkan, tanpa memperhatikan hak, perasaan, alias kebutuhan orang lain. Beberapa karakter unik dari style komunikasi garang meliputi:

  • Mendominasi Percakapan

Individu nan bersikap garang condong mendominasi percakapan, mengesampingkan pendapat alias kebutuhan orang lain.

  • Penggunaan Bahasa nan Tidak Hormat

Gaya komunikasi garang sering melibatkan penggunaan bahasa nan kasar, menantang, alias merendahkan.

  • Intimidasi dan Ancaman

Dalam kasus nan lebih ekstrem, komunikasi garang dapat mencakup intimidasi verbal alias ancaman.

  • Kritik Terbuka dan Menyalahkan

Orang nan bersikap garang condong memberikan kritik terbuka dan menyalahkan orang lain atas masalah alias kegagalan.

  • Kurangnya Kesediaan Mendengar

Individu garang seringkali tidak bersedia alias tidak bisa mendengar alias memahami pandangan alias pendapat orang lain.

  • Reaksi nan Emosional dan Intens

Respons emosional nan kuat dan intens, seperti kemarahan alias frustrasi, dapat mencirikan style komunikasi agresif.

  • Fokus pada Kepentingan Pribadi

Gaya komunikasi garang condong lebih konsentrasi pada memenuhi kemauan alias kepentingan pribadi daripada bekerja-sama dengan orang lain.

  • Kurangnya Kesadaran terhadap Dampak Psikologis

Orang nan bersikap garang mungkin kurang peduli terhadap akibat psikologis alias emosional nan bisa dirasakan oleh orang nan berinteraksi dengannya.

  • Ketidaksetujuan nan Menekan

Agresivitas dapat menciptakan ketidaksetujuan nan menekan dan menciptakan ketegangan dalam hubungan interpersonal.

Bicara itu Ada Seninya

Gaya Komunikasi Pasif-Agresif

(Sumber foto: www.pexels.com)

Gaya komunikasi pasif-agresif adalah campuran antara style komunikasi pasif dan agresif, di mana seseorang menyampaikan pesan secara tidak langsung alias tidak jelas, namun tetap memuat unsur-unsur nan merugikan alias merendahkan. Berikut adalah beberapa karakter style komunikasi pasif-agresif:

  • Non-verbal Disingenuousness (Tidak Jujur secara Non-verbal)

Menggunakan bahasa tubuh alias ekspresi wajah nan tidak sesuai dengan apa nan sebenarnya dirasakan.

  • Procrastination (Menunda-nunda)

Menunda tugas alias respons tanpa memberikan argumen nan jelas.

  • Sulking (Merajuk)

Menunjukkan ketidakpuasan alias kekesalan dengan langkah merajuk alias menjauh secara emosional.

  • Sarcasm (Sarkasme)

Menggunakan kata-kata alias ungkapan nan menyamarkan kritik alias kekesalan di kembali humor.

  • Indirect Complaints (Keluhan Tidak Langsung)

Menyampaikan keluhan alias ketidakpuasan melalui kode-kode tanpa mengatakannya secara terbuka.

  • Avoidance (Menghindari)

Menghindari konfrontasi langsung alias pembicaraan terbuka dengan orang lain.

  • Sabotage (Sabotase)

Melakukan tindakan nan merugikan alias menghancurkan tanpa menyatakan secara terbuka bahwa perihal tersebut disengaja.

Rahasia Jago Bicara

Gaya Komunikasi Asertif 

Gaya komunikasi nan melibatkan ekspresi diri nan tegas, jelas, dan terbuka tanpa merugikan hak-hak alias emosi orang lain. Seseorang nan bersikap asertif dapat menyatakan kebutuhan, pendapat, dan perasaannya dengan jelas dan dengan menghormati hak-hak orang lain. Gaya komunikasi ini menciptakan keseimbangan antara menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain. Berikut karakter dari komunikasi asertif:

  • Menyatakan Pendapat dengan Jelas

Individu asertif dapat menyampaikan pendapat alias pendapat mereka dengan langkah nan jelas dan tegas tanpa menggunakan agresivitas.

  • Menghormati Hak-hak Orang Lain

Seseorang nan bersikap asertif memerhatikan dan menghormati hak-hak dan emosi orang lain.

  • Menyatakan Keinginan dan Kebutuhan

Gaya komunikasi asertif melibatkan keahlian untuk menyatakan kemauan dan kebutuhan secara langsung tanpa rasa bersalah.

  • Bersedia Menerima Kritik dan Pendapat Lain

Individu asertif bersedia mendengar kritik alias pendapat orang lain tanpa merasa terancam alias terluka, dan mereka dapat memberikan tanggapan secara dewasa.

  • Menggunakan Bahasa Tubuh nan Mendukung

Gaya komunikasi asertif melibatkan penggunaan bahasa tubuh nan mendukung pesan verbal, seperti kontak mata nan mantap dan sikap tubuh nan tegap.

  • Menghindari Agresivitas alias Pasivitas

Seseorang nan bersikap asertif tidak menggunakan agresivitas dalam berkomunikasi, tetapi juga tidak bersikap pasif. Mereka menciptakan keseimbangan nan sehat.

  • Menetapkan Batas nan Jelas

Individu asertif mempunyai keahlian untuk menetapkan pemisah dan mengkomunikasikan apa nan dapat alias tidak dapat diterima bagi mereka.

  • Memiliki Kepastian dalam Keputusan

Orang nan bersikap asertif condong lebih percaya dan tegas dalam membikin keputusan alias membikin pilihan.

Dampak Gaya Komunikasi Pasif

(Sumber foto: www.pexels.com)

Gaya komunikasi pasif dapat mempunyai akibat nan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional. Berikut adalah beberapa akibat nan dapat muncul akibat style komunikasi pasif:

  • Ketidakpahaman dan Kesalahpahaman

Pesan nan disampaikan secara tidak langsung alias ambigu dapat menyebabkan ketidakpahaman dan kesalahpahaman antara individu, lantaran orang lain mungkin susah memahami apa nan sebenarnya mau disampaikan.

  • Ketidakpuasan Hubungan

Komunikasi pasif dapat menciptakan ketidakpuasan dalam hubungan interpersonal lantaran kebutuhan dan kemauan mungkin tidak terungkap dengan jelas, dan kesulitan dalam menyelesaikan konflik.

  • Peningkatan Konflik

Kurangnya ekspresi diri nan jelas dapat memicu alias memperburuk konflik, lantaran ketidakpuasan alias kekesalan mungkin tidak disampaikan dengan tepat waktu.

  • Rendahnya Kemandirian

Gaya komunikasi pasif sering kali mencerminkan rendahnya kemandirian, lantaran perseorangan mungkin kesulitan untuk menyatakan kebutuhan alias mengambil inisiatif dalam berkomunikasi.

  • Stres dan Frustasi

Menahan emosi alias kebutuhan tanpa menyatakan secara langsung dapat menyebabkan stres dan frustasi, baik bagi perseorangan nan bersikap pasif maupun bagi mereka nan berinteraksi dengannya.

  • Penumpukan Emosi

Gaya komunikasi pasif dapat menyebabkan penumpukan emosi nan tidak diungkapkan, nan pada akhirnya dapat meledak dalam corak ekspresi emosional nan tidak sehat.

  • Rendahnya Keterlibatan

Individu nan bersikap pasif mungkin condong terlibat dalam hubungan alias situasi dengan langkah nan kurang aktif, sehingga hubungan menjadi kurang memuaskan.

  • Rendahnya Efektivitas Komunikasi

Komunikasi pasif seringkali kurang efektif lantaran pesan nan disampaikan tidak selalu jelas, nan dapat menghalang kolaborasi, pemecahan masalah, dan pencapaian tujuan bersama.

  • Keterbatasan Pertumbuhan Pribadi

Gaya komunikasi pasif dapat menghalang pertumbuhan pribadi lantaran perseorangan mungkin kesulitan untuk menyatakan kebutuhan, mengambil risiko, alias menghadapi tantangan dengan sikap nan lebih aktif.

  • Keterbatasan Karier

Dalam konteks profesional, komunikasi pasif dapat membatasi kemajuan karier, lantaran perseorangan mungkin tidak secara efektif menyuarakan ide, aspirasi, alias kontribusi mereka.

Dampak Gaya Komunikasi Agresif

Gaya komunikasi garang dapat mempunyai akibat nan merugikan baik dalam hubungan individual maupun profesional. Berikut adalah beberapa akibat dari style komunikasi agresif:

  • Pertumbuhan Konflik

Gaya komunikasi garang dapat meningkatkan bentrok dalam hubungan interpersonal, lantaran seringkali menyertakan kritik, ancaman, alias intimidasi, nan dapat membikin orang lain merasa menyerang.

  • Pembatasan Kolaborasi

Orang nan bersikap garang mungkin condong mendominasi percakapan dan menghalang kerjasama lantaran kurangnya ruang untuk berkontribusi secara positif.

  • Ketidaknyamanan dan Kekhawatiran

Orang nan berinteraksi dengan perseorangan nan bersikap garang mungkin merasa tidak nyaman, khawatir, alias stres, lantaran atmosfer komunikasi nan tidak menyenangkan.

  • Kurangnya Kepercayaan dan Kedekatan

Komunikasi garang dapat merusak kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan, lantaran orang mungkin merasa tidak kondusif alias tidak nyaman berbincang terbuka.

  • Menurunkan Produktivitas

Di lingkungan kerja, style komunikasi garang dapat merugikan produktivitas lantaran menciptakan ketegangan dan distraksi, serta menghalang kerjasama nan efektif.

  • Reputasi nan Buruk

Orang nan sering bersikap garang dapat mendapatkan reputasi nan buruk, baik dalam konteks pribadi maupun profesional, nan dapat berakibat negatif pada hubungan dan pekerjaan mereka.

  • Isolasi Sosial

Gaya komunikasi garang dapat menyebabkan isolasi sosial lantaran orang mungkin enggan berinteraksi dengan perseorangan nan condong bersikap dominan alias menyerang.

  • Pertumbuhan Kecemasan dan Stres

Orang nan sering bersikap garang dapat menciptakan kekhawatiran dan stres di sekitar mereka, mengakibatkan akibat negatif pada kesejahteraan mental dan bentuk orang lain.

  • Penolakan Ide dan Saran

Orang nan bersikap garang mungkin condong menolak buahpikiran alias saran orang lain, nan dapat merugikan penemuan dan pembangunan tim.

  • Dampak Psikologis

Komunikasi garang dapat mempunyai akibat psikologis pada pihak nan bersikap agresif, seperti peningkatan tingkat stres, kesulitan dalam menjalin hubungan, dan kesulitan dalam menangani emosi.

Listen! Mewujudkan Komunikasi nan Efektif

Dampak Komunikasi Pasif- Agresif

Gaya komunikasi pasif-agresif, nan menggabungkan elemen-elemen komunikasi pasif dan agresif, dapat mempunyai akibat nan kompleks dan merugikan. Berikut adalah beberapa akibat dari komunikasi pasif-agresif:

  • Ketidakjelasan Pesan

Komunikasi pasif-agresif sering kali tidak jelas, mengarah pada ketidakpahaman dan kesalahpahaman antara pihak nan berkomunikasi.

  • Meningkatkan Ketegangan

Gaya komunikasi ini dapat meningkatkan ketegangan dalam hubungan, lantaran pesan nan tersirat alias tidak langsung dapat menciptakan rasa frustasi dan kebingungan.

  • Kesulitan Pemecahan Konflik

Komunikasi pasif-agresif dapat menyulitkan pemecahan konflik, lantaran kesulitan mengungkapkan ketidakpuasan alias kekesalan secara terbuka.

  • Menurunkan Kesehatan Hubungan

Hubungan interpersonal dapat berpengaruh secara negatif, lantaran pesan-pesan tidak langsung alias merendahkan dapat merusak keterbukaan dan kepercayaan.

  • Meningkatkan Stres

Komunikasi pasif-agresif dapat meningkatkan tingkat stres, baik bagi perseorangan nan bersikap pasif-agresif maupun bagi mereka nan berinteraksi dengannya.

  • Menurunkan Produktivitas

Di lingkungan kerja, style komunikasi pasif-agresif dapat merugikan produktivitas, lantaran menciptakan ketegangan dan menghalang kerjasama nan efektif.

  • Pemborosan Waktu

Kesulitan dalam menyampaikan pesan dengan jelas dapat menyebabkan pemborosan waktu, lantaran orang mungkin kudu mencari tahu maksud sebenarnya dari komunikasi tersebut.

  • Merugikan Kesejahteraan Mental

Komunikasi pasif-agresif dapat merugikan kesejahteraan mental individu, lantaran menciptakan lingkungan nan tidak nyaman dan menantang emosional.

  • Isolasi Sosial

Gaya komunikasi ini dapat menyebabkan isolasi sosial, lantaran orang mungkin enggan berinteraksi dengan perseorangan nan bersikap pasif-agresif.

  • Menurunkan Kejelasan Komunikasi

Pesan nan tidak langsung alias tersembunyi dapat mengaburkan tujuan komunikasi dan menghalang pencapaian hasil nan diinginkan.

  • Kurangnya Pertanggungjawaban

Individu nan bersikap pasif-agresif mungkin kesulitan untuk bertanggungjawab atas emosi alias tindakan mereka, nan dapat merugikan proses pemecahan masalah.

Dampak Komunikasi Asertif

Gaya komunikasi asertif mempunyai akibat positif dalam beragam aspek kehidupan. Berikut adalah beberapa akibat dari komunikasi asertif:

  • Peningkatan Keterbukaan

Komunikasi asertif mendorong keterbukaan dan kejujuran dalam menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan pendapat.

  • Hubungan Interpersonal nan Sehat

Gaya komunikasi asertif membantu menciptakan hubungan interpersonal nan lebih sehat dan positif lantaran melibatkan penghormatan terhadap hak-hak orang lain.

  • Pemecahan Konflik nan Efektif

Individu nan bersikap asertif lebih condong menangani bentrok secara konstruktif dengan mengungkapkan pendapat mereka tanpa melibatkan agresi alias pasifitas.

  • Peningkatan Kesejahteraan Emosional

Komunikasi asertif membantu meningkatkan kesejahteraan emosional dengan memberikan wadah untuk menyatakan emosi dan kebutuhan secara sehat.

  • Peningkatan Keterampilan Komunikasi

Gaya komunikasi asertif melibatkan keahlian komunikasi nan efektif, seperti mendengarkan dengan baik, menyampaikan pesan dengan jelas, dan menanggapi dengan tepat.

  • Peningkatan Kepemimpinan

Individu nan bersikap asertif sering kali lebih efektif dalam peran kepemimpinan lantaran dapat mengarahkan dan memotivasi orang lain tanpa menggunakan kekuatan alias dominasi.

  • Peningkatan Pengambilan Keputusan

Komunikasi asertif membantu perseorangan untuk secara aktif berperan-serta dalam proses pengambilan keputusan, menyuarakan ide, dan memperoleh keputusan nan lebih seimbang.

  • Peningkatan Diri

Gaya komunikasi asertif membantu perseorangan untuk mengembangkan rasa nilai diri nan sehat dan memahami nilai-nilai dan hak-hak mereka.

  • Kemampuan Menetapkan Batas

Orang nan bersikap asertif bisa menetapkan pemisah dengan jelas, sehingga dapat mencegah penyalahgunaan dan menjaga keseimbangan dalam hubungan.

  • Peningkatan Kerjasama dan Kolaborasi

Komunikasi asertif mendukung kerjasama dan kerjasama nan efektif, memungkinkan perseorangan untuk bekerja bersama-sama mencapai tujuan bersama.

  • Peningkatan Kepuasan Kerja

Di lingkungan kerja, komunikasi asertif dapat meningkatkan kepuasan kerja lantaran perseorangan merasa didengar dan dihormati.

  • Pengelolaan Stres nan Lebih Baik

Gaya komunikasi asertif membantu perseorangan untuk mengelola stres dengan langkah nan lebih positif lantaran mereka dapat menyatakan kebutuhan dan meminta dukungan.

Penutup

Gaya komunikasi terdiri dari beragam macam jenis dan macamnya. Terdapat empat jenis style komunikasi: pasif, agresif, pasif-agresif, dan asertif. Tiap style komunikasi mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, style komunikasi asertif dinilai sebagai style komunikasi nan paling ideal dalam berkomunikasi antar individu. Dengan mengetahui macam-macam style komunikasi, diharapkan masing-masing perseorangan bisa menghindari akibat dari style komunikasi nan sifatnya destruktif. Grameds bisa mempelajari bumi komunikasi lewat kitab terbaik di Gramedia.com.

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog