Jakarta -
Masalah kesuburan tak hanya dialami perempuan, kaum laki-laki juga mengalaminya. Misalnya saja kondisi yang dikenal dengan oligoteratozoospermia. Meski laki-laki mengalaminya, bukan berfaedah laki-laki tak mempunyai kesempatan untuk menjadi Ayah.
Infertilitas umum terjadi di seluruh dunia, sekitar 1 dari 6 pasangan di seluruh bumi mengalaminya. Melansir Journal of Ayurveda and Integrative Medicine (J-AIM), sekitar 50 persen infertilitas disebabkan aspek pria, termasuk defek gametogenik. Salah satu defek yang timbul akibat spermatogenesis abnormal adalah oligoteratozoospermia.
Deformitas spermatogenik terutama muncul lantaran penyesuaian praktik style hidup yang tidak tepat alias bisa jadi berasal dari genetik.
Apa itu oligoteratozoospermia?
Oligoteratozoospermia adalah kelainan semen yang terdiri dari kombinasi perubahan konsentrasi dan morfologi spermatozoa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa sampel semen kudu mengandung setidaknya 15 juta sperma per mL ejakulat alias konsentrasi total lebih dari 39 juta. Selain itu, morfologi sperma kudu lebih dari 4 persen.
Sedangkan dalam pada kondisi oligoteratozoospermia, jumlah sperma sedikit (oligozoospermia) dan corak sperma abnormal (teratozoospermia). Ini berfaedah laki-laki mengalami dua masalah secara berbarengan sehingga proses pembuahan lebih sulit, bukan tida mungkin terjadi kehamilan.
Dalam kajian air mani diketahui laki-laki dengan oligoteratozoospermia mengalami:
- Oligozoospermia dengan jumlah sperma kurang dari 15 juta per ml sehingga mengurangi kesempatan sperma membuahi sel telur
- Teratozoospermia dengan morfologi sperma normal kurang dari 4 persen. Kondisi ini membikin sperma susah berenang alias menembus sel telur.
Jika sampel semen mempunyai jumlah sperma rendah dan juga corak sperma yang abnormal, kehamilan secara alami bakal menjadi rumit.
Penyebab oligoteratozoospermia
Penyebab oligoteratozoospermia ada beragam macam. Misalnya aspek genetik, kesehatan, serta lingkungan yang berkedudukan krusial dalam kondisi ini.
Berikut beberapa aspek penyebab utama oligoteratozoospermia yang dirangkum dari beragam sumber:
- Varikokel ialah kondisi ketika terjadi pelebaran pembuluh darah skrotum, yang mengganggu aliran darah ke testis serta mengakibatkan menurunknya produksi sperma.
- Infeksi pada testis. Infeksi ini terjadi pada saluran reproduksi laki-laki sehingga produksi sperma terganggu dan mengakibatkan jumlah sperma yang abnormal.
- Paparan panas berlebih. Pria waspada jika sering sauna, meletakkan laptop di pangkuan, hingga mengenakan busana ketat.
- Faktor style hidup. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, mengonsumsi narkoba, dan kelebihan berat badan dapat meningkatkan akibat terjadinya oligoteratozoospermia.
- Gangguan hormonal. Hormon laki-laki yang tidak seimbang dapat mengurangi produksi sperma serta meningkatkan jumlah sperma yang abnormal.
- Faktor genetik. Kondisi yang berkarakter bawaan dari family seperti sindrom Klinefelter dan abnormal bawaan dapat mempengaruhi produksi dan corak sperma.
- Faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia rawan seperti pestisida, logam berat, dan bahan kimia industri juga dapat merusak produksi sperma dan meningkatkan jumlah sperma abnormal.
Jenis-jenis kelainan sperma selain oligoteratozoospermia
Berikut beberapa jenis kelainan sperma selain oligoteratozoospermia:
- Azoospermia: Pada kondisi ini laki-laki tidak mempunyai sperma sama sekali sehingga kesempatan mengalami kehamilan sangat rendah.
- Asthenozoospermia. Jumlah sperma normal tapi mengalami kelainan lemah alias tidak bergerak sehingga sperma kesulitan mencapai sel telur.
- Necrozoospermia. Pria dengan kelainan ini sebagian besar spermanya mati. Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa membuahi sel telur.
- Teratozoospermia. Bentuk sperma abnormal yang berakibat ada celah mini bagi sperma untuk masuk ke ovum.
Apakah laki-laki yang didiagnosis Oligoteratozoospermia bisa membikin pasangannya hamil?
Pria dengan oligoteratozoospermia tetap bisa membikin pasangannya hamil, tetapi kesempatan kehamilan tergantung tingkat keparahan. Pada kasus yang ringan, pembuahan alami tetap mungkin terjadi. Terutama jika laki-laki mempunyai sperma yang normal sehingga cukup mencapai sel telur. Dokter mungkin menyarankan pada kondisi ringan IUI (Intrauterine Insemination).
Namun, pada kasus sedang hingga berat, master biasanya menyarankan program bayi tabung (IVF) alias Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) ialah teknik memasukkan satu sperma langsung ke dalam sel telur.
Penelitian dalam Human Reproduction Update pada 2021 menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ICSI secara signifikan meningkatkan kesempatan kehamilan hingga 40–50% pada pasangan dengan masalah morfologi sperma berat.
Cara mengatasi oligoteratozoospermia
Cara mengatasi oligoteratozoospermia itu tergantung pada penyebabnya. Beberapa langkah ini mungkin dapat dilakukan sesuai saran dokter.
1. Mengubah style hidup
Ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah seperti berakhir merokok dan hindari alkohol, cukup tidur sekitar 7–8 jam, mengonsumsi makanan tinggi antioksidan seperti buah beri, tomat, dan ikan berlemak.
2. Mengonsumsi suplemen penunjang kualitas sperma
Perhatikan kandungan yang dibutuhkan. Suplemen yang mengandung zinc, selenium, vitamin C, E, dan L-carnitine terbukti membantu memperbaiki morfologi sperma.
3. Terapi medis
Dokter dapat menberikan antibiotik alias tindakan operasi ringan jika oligoteratozoospermia disebabkan jangkitan alias varikokel.
4. Program kesuburan (ICSI alias IVF)
Dalam pengobatan barat, penanganan yang diadopsi untuk Oligoteratozoospermia ringan adalah IUI dan Oligo-teratozoospermia sedang hingga berat adalah IVF maupun teknik ICSI agar sperma dengan corak terbaik bisa dipilih secara langsung.
Dengan langkah apa pun, tindakan assisted reproductive technology (ART) diadopsi untuk membikin pasangan wanita hamil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·