Mengenal Tradisi Odalan: Pengertian, Sejarah, Makna, Hingga Tahapan Ritual

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Haii, Grameds! Indonesia terkenal dengan banyaknya suku dan kepercayaan nan membentang dari Sabang sampai Merauke. Hal itu nan membikin Indonesia juga mempunyai beragam tradisi dari suku nan ada, termasuk tradisi Odalan. Odalan adalah salah satu tradisi keagamaan nan sangat krusial dalam budaya Bali. Tradisi ini biasanya dirayakan dengan beragam upacara keagamaan nan melibatkan seluruh penduduk desa, mempersembahkan sesaji, angan bersama, dan beragam corak kesenian tradisional seperti tari dan gamelan. Bagi Grameds nan semakin penasaran tentang tradisi unik satu ini, yuk kita menyelam lebih jauh!

Pengertian Tradisi Odalan

Sebelum menyelam lebih jauh, kita perlu mengetahui apa itu tradisi odalan. Tradisi Odalan adalah sebuah upacara keagamaan dan budaya nan sangat krusial dalam masyarakat Hindu Bali. Odalan merujuk pada seremoni nan dilakukan untuk memperingati hari lahir alias pemberkatan (pemeliharaan) sebuah pura. Tradisi ini dilakukan dengan langkah mengadakan upacara-upacara keagamaan, seperti sembahyang bersama, pemberian sesaji, tarian, musik gamelan, dan beragam aktivitas keagamaan lainnya.

Odalan biasanya dilakukan berasas almanak Hindu dan sering kali diselenggarakan setiap 210 hari. Pada hari Odalan, umat Hindu berkumpul di pura untuk beragama berbareng dan memberikan penghormatan kepada dewa-dewa. Selain itu, Odalan juga menjadi momen krusial untuk mempererat hubungan sosial dalam masyarakat Bali lantaran biasanya disertai dengan aktivitas gotong royong dan pertemuan antar penduduk desa.

Sejarah dan Asal-usul Tradisi Odalan

Grameds perlu tahu bahwa Odalan merupakan tradisi keagamaan nan telah ada sejak era dulu kala dan menjadi bagian integral dari kehidupan spiritual masyarakat Bali. Asal-usul Odalan berangkaian erat dengan penyebaran kepercayaan Hindu di Bali nan dimulai sekitar abad ke-8 Masehi. Ketika kepercayaan Hindu mulai berkembang di pulau ini, masyarakat Bali mengangkat beragam praktik keagamaan dan ritus nan kemudian disesuaikan dengan budaya lokal. Pada awalnya, seremoni Odalan muncul sebagai corak penghormatan kepada dewa-dewa nan dianggap melindungi desa dan alam sekitar. Setiap pura (tempat ibadah umat Hindu) di Bali mempunyai hari ulang tahunnya sendiri nan disebut “Odalan,” dan seremoni ini dilakukan setiap 210 hari sesuai dengan almanak Pawukon Bali. Kalender Pawukon terdiri dari siklus 210 hari nan dibagi menjadi 30 minggu, masing-masing terdiri dari 7 hari.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Odalan mengalami beragam perubahan dan penyesuaian. Pada masa kerajaan Bali kuno, seremoni Odalan mulai mendapat perhatian unik dari para raja dan bangsawan. Mereka memandang Odalan sebagai momen krusial untuk menunjukkan kesalehan dan support terhadap kepercayaan Hindu, serta untuk memperkuat hubungan antara kerajaan dan rakyatnya. Pada masa kolonialisme Belanda, meskipun ada tekanan dan tantangan dari pihak penjajah, masyarakat Bali tetap berupaya mempertahankan tradisi Odalan. Bahkan, dalam beberapa kasus, Odalan menjadi simbol perlawanan budaya terhadap penjajahan. Tradisi ini terus bersambung dan berkembang hingga saat ini, menjadi salah satu seremoni keagamaan nan paling dinantikan dan dihormati di Bali.

Makna serta Filosofi Tradisi Odalan

Oh ya Grameds, setiap tradisi tentu terdapat makna serta filosofi di dalamnya, begitu pun juga dengan Odalan. Berikut makna serta filosofi tradisi Odalan:

1.     Penghormatan kepada Dewa dan Leluhur

Odalan adalah corak penghormatan kepada dewa-dewa nan diyakini melindungi desa dan lingkungan sekitar. Setiap pura didedikasikan untuk dewa tertentu, dan seremoni Odalan adalah momen untuk mempersembahkan rasa syukur dan penghormatan kepada mereka. Selain itu, Odalan juga merupakan waktu untuk menghormati arwah leluhur nan diyakini selalu datang dan melindungi keturunan mereka.

2.     Penyucian Diri dan Lingkungan

Salah satu tujuan utama dari seremoni Odalan adalah penyucian diri dan lingkungan. Masyarakat Bali percaya bahwa melalui ritual-ritual nan dilakukan selama Odalan, mereka dapat membersihkan diri dari daya negatif dan mendapatkan berkah dari dewa-dewa. Penyucian lingkungan dilakukan dengan membersihkan area pura dan sekitarnya, serta mempersembahkan sesaji sebagai simbol kesucian dan keselarasan.

3.     Keseimbangan Kosmis

Konsep keseimbangan kosmis alias “Tri Hita Karana” merupakan filosofi dasar nan mendasari tradisi Odalan. Tri Hita Karana mengajarkan tentang tiga hubungan nan kudu dijaga agar kehidupan harmonis, ialah hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Melalui seremoni Odalan, masyarakat Bali berupaya menjaga keseimbangan ketiga hubungan ini.

4.     Kebersamaan dan Solidaritas Sosial

Odalan juga mempunyai makna sosial nan kuat. Perayaan ini melibatkan seluruh personil komunitas, mulai dari persiapan hingga penyelenggaraan ritual. Keterlibatan berbareng dalam aktivitas ini mempererat ikatan sosial dan solidaritas antarwarga desa. Gotong royong dalam persiapan dan penyelenggaraan Odalan menjadi bentuk nyata dari nilai-nilai kebersamaan nan dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali.

Dengan memahami makna dan filosofi di kembali tradisi Odalan, kita dapat lebih menghargai sungguh pentingnya seremoni ini bagi masyarakat Bali loh Grameds! Odalan bukan hanya sebuah ritual keagamaan, tetapi juga gambaran dari nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya nan dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali.

Tahapan Pelaksanaan Tradisi Odalan

sumber: shutter stock

Pelaksanaan tradisi Odalan terdiri dari beragam tahapan nan dimulai dari beberapa hari sebelum puncak seremoni hingga hari-H. Setiap tahapan mempunyai makna dan tujuan tersendiri dalam rangkaian upacara ini loh! Berikut tahapan penyelenggaraan tradisi Odalan:

1.     Matur Piuning

Beberapa hari sebelum puncak Odalan, umat Hindu di Bali melakukan upacara Matur Piuning. Ini adalah angan permohonan izin dan berkah kepada dewa-dewa agar rangkaian upacara melangkah lancar. Matur Piuning dilakukan di pura dengan mempersembahkan sesaji dan mengucapkan doa-doa tertentu.

2.     Ngider Bhuana

Sebelum hari Odalan, biasanya dilakukan upacara Ngider Bhuana. Ini adalah ritual mengelilingi pura dengan membawa sesaji sebagai simbol perjalanan spiritual dan keselarasan antara manusia, alam, dan dewa-dewa.

3.     Melasti

Sebelum upacara puncak juga dilakukan upacara Melasti nan bermaksud untuk menyucikan pratima (arca) dan perangkat suci pura. Pratima dan perangkat suci dibawa ke laut alias sumber air suci untuk dibersihkan. Melasti melambangkan pembersihan diri dan lingkungan dari segala kekotoran.

4.     Mecaru

Upacara Mecaru dilakukan untuk menyelaraskan hubungan antara manusia dengan alam dan makhluk halus. Sesaji unik disiapkan dan dipersembahkan kepada bhuta kala (makhluk halus) untuk menghindari gangguan dan menciptakan keharmonisan.

5.     Piodalan

Piodalan adalah upacara utama dalam seremoni Odalan. Pada tahap ini, umat Hindu berkumpul di pura untuk melakukan sembahyang bersama, mempersembahkan sesaji, dan mendengarkan dharma wacana (khotbah agama). Piodalan melibatkan banyak persembahan seperti banten, canang sari, dan beragam jenis sesaji lainnya nan disusun dengan indah.

6.     Tarian Sakral dan Tabuhan Gamelan

Selama Piodalan, beragam tarian sakral seperti Tari Rejang, Tari Baris, dan Tari Topeng Sidakarya dipentaskan. Tarian-tarian ini dianggap sebagai persembahan kepada dewa-dewa dan juga bagian dari ritual penyucian. Para penari biasanya mengenakan kostum tradisional nan unik dan melakukan aktivitas nan telah diturunkan secara turun-temurun. Musik gamelan juga merupakan bagian krusial dari upacara Odalan. Tabuhan gamelan mengiringi seluruh rangkaian upacara, mulai dari awal hingga akhir. Musik ini diyakini dapat menciptakan suasana sakral dan mendukung kekhusyukan dalam beribadah.

7.     Doa Penutup dan Pengembalian Perangkat Suci

Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, dilakukan angan penutup untuk memohon berkah dan perlindungan dari dewa-dewa. Pemangku (pemimpin upacara) memberikan tirta (air suci) kepada umat sebagai simbol berkah dan pemurnian. Umat kemudian membawa pulang sesaji nan telah diberkati sebagai tanda berkah nan diterima. Setelah itu, perangkat suci dan pratima nan telah disucikan dikembalikan ke tempatnya di pura. Ini menandai berakhirnya rangkaian upacara dan kembalinya kesucian serta berkah ke pura dan lingkungan sekitarnya.

Ternyata kompleks sekali ya, Grameds. Dengan mengetahui sungguh kompleks dan kaya bakal makna spiritual, sosial, dan budaya, kita diharapkan untuk selalu menghormati budaya dan ritual nan ada di Indonesia ya!

Kesimpulan

Itu dia pembahasan seputar Odalan, Grameds! Dengan memahami lebih dalam tentang Odalan, kita dapat menghargai sungguh pentingnya tradisi ini dalam menjaga identitas budaya Bali dan gimana tradisi tersebut berkedudukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat nan majemuk untuk saling menghargai dan ikut melestarikan budaya nan ada di Indonesia. Semoga tulisan ini dapat membuka wawasan Anda lebih luas lagi tentang budaya nan ada di Indonesia ya Grameds! Sampai bertemu di tulisan selanjutnya!

Gramin juga sudah menyiapkan buku-buku mengenai di bawah ini, lho. Yuk langsung saja dapatkan bukunya hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Hafizh

Rekomendasi Buku

Istilah Hindu

Istilah Hindu

button cek gramedia com

Kitab suci Veda sebagai kitab suci kepercayaan Hindu memuat pedoman-pedoman nan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Weda digolongkan menjadi dua jenis, ialah Veda Sruti dan Veda Smrti. Pengelompokan ini didasarkan pada jenis serta ruang lingkup dari kitab-kitab tersebut. Veda Sruti memuat dan menguraikan tentang wahyu Tuhan. Sementara Veda Smrti disusun berasas ingatan dan tafsiran nan dilakukan oleh para Maha Rsi atas wahyu nan telah diterima dari Tuhan. Di dalamnya memuat tentang kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara nan dikelompokkan secara sistematis menurut bagian profesi. Secara garis besarnya Veda Smerti dapat digolongkan ke dalam dua bagian alias golongan besar, ialah Vedangga dan Upaveda. Buku Istilah Hindu memuat perbendaharaan kata dalam kitab-kitab Smrti Veda. Di dalamnya juga dilengkapi dengan Nama-nama Dewata Hindu. Buku ini diperuntukkan bagi kalangan generasi muda untuk mempelajari Agama Hindu lebih jauh, oleh karenanya maka kitab ini disusun dengan bahasa nan sederhana dengan angan bahwa materi nan disajikan di dalamnya dapat diserap dengan lebih mudah.

Sistem Sosial Budaya Indonesia

Sistem Sosial Budaya Indonesia

button cek gramedia com

Berbagai persoalan dan indikasi sosial budaya di masyarakat nyaris tidak dapat dipisahkan. Permasalahan sosial dengan persoalan budaya menjadi dua perihal nan saling berpengaruh dan berasosiasi sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Sistem sosial budaya itu sendiri berisi semua unsur tata nilai, sosial, dan tingkah laku manusia nan bekerja sendiri maupun bersama-sama sehingga dapat mencapai tujuan hidup manusia di masyarakat. Buku Sistem Sosial Budaya Indonesia ini merupakan kitab pengantar perkuliahan, nan ditujukan untuk dapat mengembangkan kesadaran para pembaca, dalam menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia sebagai perseorangan dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, kitab nan merupakan teks perkuliahan ini dapat menjadi pegangan wajib bagi mahasiswa dan juga dosen.

Bhinneka: Enam Belas Karangan Tentang Agama, Sastra, dan Bahasa di Inonesia

 Enam Belas Karangan tentang Agama, Sastra, dan Bahasa di Indonesia

button cek gramedia com

Kenapa Bhinneka? Karena kitab ini merupakan persembahan kepada kebhinekaan kebudayaan Indonesia dalam bagian kepercayaan (dalam perihal ini kepercayaan Islam dan Konghucu), bagian sastra (di sini empat karangan tentang sastra Indonesia lama, bumi hikayat, dan teks sejarah), dan bagian bahasa (tata bahasa Indonesia nan baik dan betul di samping beberapa jenis kode kacau dan gokil milik anak-anak muda). Kebhinekaan bukan saja pembahasan beragam bagian berbeda, tapi juga berada di tengah setiap bagian itu jika norma dan ortodoksi bersanding dengan perilaku nan menyimpang alias marjinal. Ziarah makam menimbulkan beragam pertentangan, seperti juga bahasa sandi berantem dengan upaya pembakuan bahasa. Pertentangan jenis itu menimbulkan macam-macam perdebatan dan perselisihan, kaum baku dan ortodoks merasa terancam oleh setiap langkah menyimpang dari norma standar, tetapi bangsa Indonesia tunggal ika selalu.

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog