Menjaga Agama Di Tengah Maraknya Penyimpangan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Saudaraku, andaikan kita mencoba menelusuri beragam penyimpangan manusia terhadap kepercayaan nan mulia ini, maka bakal kita dapati bahwa kelompok-kelompok penyimpang tersebut amatlah banyak. Mulai dari penyimpangan terhadap prinsip dasar Islam, iman, akidah, tauhid, dan perkara-perkara kepercayaan nan telah jelas hukumnya.

Meski demikian, dari generasi ke generasi, tetap saja ada manusia nan condong kepada kekeliruan dalam memahami kepercayaan nan mulia ini. Bahayanya, manusia-manusia seperti itu dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang nan semula lurus dan betul kemudian terjerumus dalam kesesatan nan nyata. Wal-‘iyadzubillah.

Jumlah dan jenis mereka sangat beragam. Tidak sedikit dari mereka nan berani menghalalkan apa nan telah Allah Ta’ala haramkan seperti zina, khamar, sutera, dan alat-alat musik. Sungguh benarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh bakal ada sekelompok umatku nan menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari no. 5590)

Selain itu, ada pula dari mereka nan menyamakan antara kewenangan dan batil dalam perkara jual beli dan perkara riba. Allah Ta’ala berfirman terhadap kaum nan menyamakan dua perkara tersebut.

ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡبَیۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰا۟ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ

“Keadaan mereka nan demikian itu, adalah disebabkan mereka berbicara (berpendapat), ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.’ Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Perkara furu’iyyah

Tentu, kita sepakat bahwa dalam perkara furu’iyyah dalam kepercayaan ini, kita mengakui beragam pendapat. Contohnya, berangkaian dengan persoalan fikih seputar jumlah rakaat tarawih, perbedaan penetapan hari raya, persoalan qunut subuh, dan beragam persoalan fikih di mana masing-masing pendapat merujuk pada ulama-ulama ahlisunah waljamaah seperti 4 (empat) Imam Mazhab.

Namun, banyak pula pendapat beragam pada perkara ushuliyyah nan tidak dapat ditoleransi lagi lantaran menyentuh persoalan iktikad dan tauhid nan merupakan pondasi keislaman kita nan satu. Seperti perdebatan terhadap eksistensi Allah Ta’ala, kebenaran hari Akhir, siksa kubur, penafsiran terhadap Al-Qur’an nan nyeleneh, dan beragam aspek nan telah jelas hukumnya dalam agama.

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dia berbicara bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya nan legal itu jelas, sebagaimana nan haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (yang tetap samar) nan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa nan menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka dia telah menyelamatkan kepercayaan dan kehormatannya. Barangsiapa nan terjerumus dalam perkara syubhat, maka dia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala nan menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan nan nyaris menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja mempunyai tanah larangan, dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara nan diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Perbedaan pada persoalan ushuliyyah ini tidak dapat dimaklumi sebagai sesuatu nan mainstream. Karena perkara legal dan haram telah sangat jelas dapat dipahami dari aliran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan metode dan praktik nan dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabiin, dan tabiut tabiin rahimahumullah.

Oleh karenanya, berkaca pada diri sendiri nan sangat memerlukan pertolongan dan petunjuk dari Allah Ta’ala agar tidak mudah tersesat dan terpengaruh pada hal-hal nan menyimpang, kita mesti berkeinginan untuk senantiasa membentengi diri kita dan family kita dari paham-paham nan jauh menyimpang dari aliran kepercayaan Islam nan lurus.

Baca juga: Mengenal Penyimpangan-Penyimpangan Jahmiyah dalam Akidah

Sikap terhadap beragam penyimpangan

Menyibukkan diri dengan mencari-cari golongan mana nan betul dan keliru, serta membahasnya terlalu perincian sejatinya hanya buang-buang waktu, lantaran saking banyaknya kelompok-kelompok tersebut. Sebut saja seperti syiah, muktazilah, khawarij, murjiah, dan beragam golongan lainnya nan menyimpang dari aliran sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, dalam sabda disebutkan dengan perincian jumlah golongan mereka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum Anda dari mahir Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Dan sesungguhnya umat ini bakal berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) nan tujuh puluh dua bakal masuk neraka dan nan satu golongan bakal masuk surga, ialah ‘Al-Jama’ah.’” (HR. Abu Dawud no. 4597, Ad-Darimi no. 241, Ahmad no. 102, dan lainnya, dari Muawiyah bin Abi Sufyan)

Namun, mengenali karakter unik ataupun karakter mereka adalah perkara nan mesti diketahui oleh setiap muslim agar bisa membentengi iktikad dan manhajnya dari pemahaman menyimpang tersebut.

Karenanya, menyiapkan ‘anti-bodi’ bagi diri dan family kiranya menjadi prioritas utama kita. Memahami ciri-ciri golongan menyimpang tersebut kemudian membentengi diri dengan keislaman dan keimanan, serta pengetahuan nan kokoh. Demikianlah, upaya kita untuk menjaga diri dan family kita dari api neraka sebagaimana firman Allah Ta’ala.

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَیۡهَا مَلَـٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظࣱ شِدَادࣱ لَّا یَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَاۤ أَمَرَهُمۡ وَیَفۡعَلُونَ مَا یُؤۡمَرُونَ

“Wahai orang-orang nan beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka nan bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat nan kasar, dan keras, nan tidak durhaka kepada Allah terhadap apa nan Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa nan diperintahkan.” (QS. At-Taḥrīm: 6)

Mudah-mudahan dengan menjaga keagamaan dan keislaman tersebut, kita memperoleh keamanan dan petunjuk dari Allah Ta’ala agar dapat memperoleh kebahagiaan di bumi dan di alambaka kelak, serta terhindar dari kesesatan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang nan beragama dan tidak mencampuradukkan ketaatan mereka dengan dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang nan mendapatkan keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang nan mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am: 82)

Benteng utama menghadapi penyimpangan

Saudaraku, gimana mungkin kita dapat mengetahui dengan betul beragam karakter kelompok-kelompok nan menyimpang dari aliran kepercayaan nan lurus ini jika tidak dengan ilmu?

Ya, pengetahuan merupakan karunia Allah Ta’ala nan tak ternilai harganya sebagai tembok utama (selain ketaatan dan takwa) dalam menghadapi beragam ancaman penyimpangan nan dapat menggerogoti jiwa kita. Dengan pengetahuan kepercayaan nan benar, insyaAllah kita bisa mengenali mana nan kewenangan dan nan batil, apalagi sampai ke hal-hal nan mendetail sesuai dengan konteks nan terjadi di lingkungan kita.

Lihat saja kejadian nan terjadi saat ini. Banyak manusia nan mudah tertipu dengan ‘jubah kebesaran’ seorang nan dianggap berilmu dalam perkara agama. Padahal, banyak penyimpangan pemahaman nan dia ajarkan nan (wal-‘iyadzubillah) dapat menggiring manusia kepada lembah kesesatan dan jauh dari tuntunan kepercayaan nan mulia ini.

Sekali lagi, hanya dengan ilmu, kita kemudian bisa untuk mengenali gimana karakter manusia, paham, kelompok, ataupun ajaran-ajaran nan melanggar hukum kepercayaan nan mulia ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ

“Dan orang-orang nan mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan jawaban ketakwaannya.” (QS. Muhammad:17)

Oleh karenanya, bayangkan, andaikan kita merasa cukup dengan pengetahuan kepercayaan nan dimiliki tanpa mendorong diri untuk terus belajar menuntut ilmu, menghadiri kajian, membaca buku, berkawan dengan alim, dan bertanya kepada mereka tentang perkara kepercayaan nan tidak diketahui, maka kita sangat berpotensi untuk terseret pada arus pemahaman-pemahaman nan menyimpang dari kepercayaan di era nan penuh tuduhan ini.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang nan mengetahui dengan orang-orang nan tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang nan berakal nan dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Saudaraku, mari kita bentengi diri dan family kita dengan ilmu. Jadilah hamba Allah nan senantiasa memohon petunjuk jalan kebenaran kepada-Nya, serta paksakanlah diri untuk selalu haus bakal pengetahuan kepercayaan nan lurus sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jalan para sahabat, tabiin, serta tabiut tabiin dalam memahami kepercayaan nan mulia ini.

Wallahu a’lam.

Baca juga: Penyimpangan terhadap Iman dan Takdir

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah