Menjauhi Gibah, Menjaga Aib Sesama

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Apakah topik nan Anda diskusikan saat berjumpa dan berbincang dengan kawan lama nan jarang berjumpa dalam waktu nan lama? Kadangkala, membicarakan tentang seseorang menjadi topik nan dianggap mengasyikkan bagi sebagian kita.

Sayangnya, pembicaraan tersebut lebih banyak mengarah pada obrolan tentang hal-hal nan lucu, namun menyentuh masalah kejelekan nan dirasa lezat untuk diceritakan. Semakin jelek kejelekan tersebut, semakin mengasyikkan pula untuk terus dibahas. Padahal, bisa jadi itu merupakan rahasia nan kudu dijaga dan tidak untuk diceritakan.

Mulut dan lidah merupakan bagian hidayah nan agung dari Allah Ta’ala. Betapa banyak hamba-hamba Allah nan diuji dengan masalah kesehatan pada dua organ tubuh tersebut. Mereka tidak dapat berbincang dengan lancar. Bahkan, ada pula nan diberi ujian berupa tidak mempunyai pita bunyi sehingga komunikasinya dengan orang sekitarnya hanya bisa dengan bahasa isyarat. Lantas, tidakkah kita berterima kasih dengan dua nikmat organ tubuh mulut dan lidah ini?

أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ¤ وَلِسَانًا وَشَفَتَيۡنِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9)

Tentu, langkah terbaik dalam mewujudkan rasa syukur tersebut adalah dengan mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan hidayah dari Allah Ta’ala, memuji Allah atas nikmat tersebut, serta memohon kepada Allah agar mendapatkan rida dengan memanfaatkan nikmat-nikmat tersebut dalam ketaatan[1]. Karenanya, bukankah menggunakan nikmat tersebut selain untuk ketaatan adalah corak dari kufur nikmat? Wal’iyadzubillah.

Ingat, bahwa selain bentuk syukur, menjaga lisan dari mengumbar kejelekan orang lain juga merupakan corak dari rasa persaudaraan kita khususnya sesama muslim. Tidak menceritakan aibnya, artinya kita telah menjaga kehormatannya. Maka, dengan demikian, Allah Ta’ala pun bakal menjaga kehormatan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه

“Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah bakal melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi kejelekan seseorang, Allah bakal menutupi aibnya di bumi dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang nan susah, Allah bakal mudahkan urusannya di bumi dan akhirat. Allah bakal senantiasa menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427 dan ini adalah redaksi beliau)

Gibah

Istilah “gibah” sekarang telah terkenal di tengah-tengah masyarakat. Gibah identik dengan rumor alias gunjing. Dua kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna nan sama, yaitu: membicarakan/menceritakan hal-hal negatif tentang orang lain. Dalam bahasa syariat, gibah dimaknai dengan menyebut-nyebut alias menceritakan tentang orang lain mengenai perkara dirinya nan tidak dia sukai (jika dia mendengarnya).

Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai manusia nan mempunyai panca indera dan emosi nan tidak jauh berbeda. Hal-hal nan menurut kita menyakitkan, bagi orang lain juga bisa jadi menyakitkan. Kaitannya dengan hal-hal negatif alias kejelekan diri nan kadangkala menjadi topik mengasyikkan untuk dibahas, semestinya betul-betul menjadi renungan kita bersama.

Secara manusiawi saja, kita tidak suka jika aib, kekurangan, dan hal-hal negatif nan ada pada diri kita dibahas dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Lalu, gimana pula kita sanggup melakukan perihal tersebut kepada orang lain? Apalagi, hukum cukup tegas melarang kita untuk melakukannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَدْرُونَ ما الغِيبَةُ؟ قالوا: اللَّهُ ورَسولُهُ أعْلَمُ، قالَ: ذِكْرُكَ أخاكَ بما يَكْرَهُ قيلَ أفَرَأَيْتَ إنْ كانَ في أخِي ما أقُولُ؟ قالَ: إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ.

“Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya nan lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebut kejelekan saudaramu nan dia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika nan disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan, berfaedah Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berfaedah Engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589)

Akibat gibah

Saudaraku, renungkanlah! Adakah kejelekan nan menurutmu hanya engkau dan Allah saja nan tahu? Dosa nan kau tak mau orang lain mengetahuinya. Aib nan andaikan terbuka, maka tak ada lagi nan menghormati dan menghargaimu. Bahkan, orang-orang terdekatmu sendiri. Aib nan selalu engkau jaga dengan melakukan beragam perbuatan baik dan ibadah saleh untuk menutupnya. Bayangkan! Bagaimana jika Allah membuka semuanya?

Relakah engkau? Jika suatu waktu, Allah Ta’ala mengizinkan salah seorang dari hamba-hamba-Nya mengetahui kejelekan tersebut kemudian semua orang tahu siapa dirimu sesungguhnya dengan kehinaan dosa-dosamu?

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan,

“Kalau seandainya dosa ini mempunyai bau, niscaya tidak ada seorang pun nan mau duduk denganku.” (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala‘, 6/:120)

Terbukanya kejelekan nan selalu dijaga itu bisa saja terjadi. Dalam kepercayaan mulia ini, ada kaidah, الجزاء من جنس العمل “Balasan, selaras dengan kebaikan perbuatan.” Dalam konteks gibah, jawaban dari perbuatan mengibahi adalah digibahi. Balasan perbuatan membuka kejelekan dan menceritakan dosa-dosa orang lain tanpa argumen nan syar’i, maka kejelekan dan dosanya pun bakal dibuka. Wal’iyadzubillah.

Baca juga: Allah Maha Menutupi Aib Hamba-Nya

Renungan bagi mahir gibah

Terang saja, tidak ada nan bersedia disebut sebagai mahir gibah. Tetapi, terkadang banyak manusia nan sebenarnya tahu larangan dari perbuatan gibah, tetap saja melakukannya tanpa cemas bakal akibat dari perbuatan tersebut. Terus saja dia melakukannya dengan beragam pembenaran, seperti untuk menghibur diri, mencairkan suasana, alias beragam argumen lainnya. Tanpa sadar, dengan perbuatan tersebut sebenarnya dia bisa saja menjadi bagian dari mahir gibah.

Namun, termasuk alias tidaknya kita dalam golongan orang-orang mahir gibah ini, hanya kita nan bisa menilainya. Renungkan saja, dalam sehari ini, sudah berapa orang nan kita ceritakan perkara dirinya nan dia tidak sukai? Sudah berapa kejelekan nan kita bongkar baik dengan sadar alias tidak? Padahal, setiap ucapan nan keluar dari lisan bakal tercatat dengan tanpa abnormal oleh malaikat Raqib ‘Atid.

Allah Ta’ala berfirman,

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun nan diucapkannya, selain di dekatnya ada malaikat pengawas nan selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Kita mungkin cemas melakukan kesalahan ketika tahu bahwa gerak-gerik kita diawasi oleh CCTV. Namun, kita pun sebenarnya tahu bahwa pergerakan dan tingkah laku kita pun diawasi oleh malaikat dengan pengawasan nan jauh lebih canggih. Sayangnya, ketaatan nan lemah terkadang mendorong kita untuk melakukan dosa seperti gibah tanpa cemas bahwa dosa-dosa kita tercatat dan terekam dengan rapi.

Agar terhindar dari gibah

Menyadari bahwa diri ini lemah dan senantiasa memerlukan petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala,  maka sepantasnyalah kita selalu menyibukkan diri bermuhasabah. Dari pada menceritakan kejelekan orang lain, alangkah lebih mulianya jika kita mengintrospeksi diri. Meng-upgrade kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanan kita. Mudah-mudahan dengannya kita terhindar dari perbuatan gibah nan dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Oleh karenanya, berikut beberapa perihal nan kiranya menjadi pertimbangan ikhtiar kita agar terhindar dari dosa gibah:

Pertama: Niatkan setiap hari untuk tidak membicarakan kejelekan sesama lantaran menginginkan keridaan Allah Ta’ala.

Kedua: Berdoa dan bermohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan hidayah agar terjaga dari perbuatan gibah.

Ketiga: Ikhtiarlah dengan menjauhi lingkungan nan berpotensi memicu kita untuk melakukan perbuatan gibah. Kemudian, bergaullah dengan orang-orang saleh nan bersedia untuk saling mengingatkan kepada Allah.

Keempat: Sibukkanlah diri dengan hal-hal nan bermanfaat. Tuliskanlah aktivitas berfaedah setiap hari di waktu pagi sebagai pedoman rutinitas nan bakal dikerjakan pada hari itu.

Kelima: Apabila ada kolega nan membujuk untuk membicarakan kejelekan orang lain, ajaklah dia untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Lebih baik tidak lezat kepada Allah daripada tidak lezat kepada manusia.

Keenam: Sadarilah bahwa setiap saat, setan selalu mencoba untuk menggoda kita agar melakukan maksiat termasuk gibah. Mohonlah pertolongan Allah agar dijauhkan dari bujukan setan.

Wallahu a’lam.

Baca juga: Membuka Aib Saudara

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 187.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah