Kincai Media– Dunia Nahdlatul Ulama (NU) hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat terjal. Riuh rendah kontestasi kekuasaan, tarikan kepentingan ekonomi-politik, dan pragmatisme praktis secara perlahan telah mereduksi keluhuran marwah jam’iyyah. Di tengah atmosfer yang pekat dengan aroma gesekan elit, sebuah karya puitis-spiritual datang sebagai oase sekaligus kritik moral yang tajam.
Qasidah yang berjudul “Al-Faraj Ba’dal Haraj” (Suka Setelah Duka) adalah karya seorang ustadz sepuh yang juga Wakil Rais Aam PBNU, Kiai Afifuddin Muhajir, bukan sekadar rangkaian kata penyambutan pada muktamar alias forum umum organisasi.
Qasidah Kiai Afifuddin Muhajir adalah sebuah risalah filosofis-spiritual yang menyoroti siklus sejarah: bahwa setiap kesulitan, krisis struktural, dan karut-marut organisatoris pasti bakal bermuara pada kelapangan andaikan dikembalikan pada fondasi etika transendental dan kebijaksanaan profetik.
Qasidah ini membujuk kita untuk melakukan pembacaan ulang secara kritis (muhasabah) terhadap arah perjalanan NU dalam konteks kontemporer. Ketika lembaga keagamaan terbesar di bumi Nusantara ini terjerembab dalam pusaran transaksionalisme politik, qasidah Kiai Afifuddin bertindak sebagai sirine penyearah (guidance).
Ia memanggil kembali kaum Nahdliyin untuk merenungkan prinsip eksistensi jam’iyyah yang didirikan bukan sebagai kendaraan kekuasaan sekuler, melainkan sebagai tembok iktikad dan moral umat.
Berikut adalah qasidah menyambut muktamar yang digubah oleh Kiai Afifuddin Muhajir:
الفرج بعد الحرج
“Suka Setelah Duka”
مولاي صل وسلم دائما أبدا # على حبيبك خير الخلق كلهم
“Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat ta’dhim serta keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk”.
سرى وقري عينا يانهضة العلما # كم لك من منن كم لك من نعم
“Bersukacita dan bersenang hatilah dikau, wahai Nahdlatul Ulama, sungguh banyak hidayah yang kau punya, begitu melimpah karunia”.
بضجة بليت ونعمة منحت # فيها جماعتها لكن بلا ألم
“Meski riuh gelombang menerpa dan limpahan nikmat menyapa, perhimpunan kita mengarunginya tanpa menyisakan derita”.
لا تدهبن بسؤال أنت سائله # فالكل منتجز بالحكمة الحكم
“Jangan larut dalam tanda tanya besar yang kau persoalkan; segala perihal bakal segera terwujud berkah kebijakan yang bijaksana”.
كبرى المنظمات في الكون دائمة # تؤتي الثمار ولم تمض بلا علم
“Perhimpunan terbesar di jagat raya yang senantiasa kekal dalam memberikan buahnya dan tak pernah berlalu tanpa panji wibawa”.
جمعية لعبت دورا مهما هنا # إن تحتفظ بالعطا تكون ذا عصم
“Perhimpunan yang telah memainkan peran agung di bumi Pertiwi, jika kau jaga hidayah ini niscaya kau bakal senantiasa terpelihara”.
حصن لأهل السنن حمى عقيدتهم # وهدبت خلقا ذا الفضل والكرم
“Benteng kokoh pelindung Ahlussunnah menjaga tegaknya akidah, membina budi pekerti menuju keistimewaan dan adab mulia”.
تحصين ذا الوطن من كل شر وخطر # تعليم حب الوطن لأجل القادم
“Membentengi penduduk negara dari segenap ancaman dan mara bahaya, menanamkan bibit cinta tanah air kepada generasi penerus bangsa”.
يارب بالمصطفى بلغ مقاصدنا # واغفر لنا مامضى يا واسع الكرم
“Ya Tuhanku, dengan berkah Nabi Al-Musthafa, sampaikanlah maksud-maksud kami, dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Zat yang Maha Luas kemurahan-Nya”.
Politik PBNU: Antara Mandat Sufistik dan Pragmatisme Kekuasaan
Refleksi filosofis dari bait-bait di atas menemukan relevansinya yang paling mendesak tatkala kita menatap realitas politik PBNU hari ini. Ruang mobilitas keulamaan yang dulu dikenal steril dari ambisi duniawi yang berlebihan sekarang kerap terseret ke dalam pusaran oligarki. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari khidmat kultural-spiritual menuju kalkulasi kekuasaan mekanis.
Ketika Kiai Afifuddin melantunkan bait “bi dhajjatin buliyta wa ni’matin munihat” (meski riuh gelombang menerpa dan limpahan nikmat menyapa), kalimat ini secara sosiologis merekam dualisme nasib NU kontemporer. Di satu sisi, NU menikmati limpahan akses kekuasaan, akomodasi negara, dan pengaruh politik yang masif. Namun di sisi lain, NU tengah diuji oleh “bencana struktural” berupa hilangnya otonomi moral akibat syahwat politik praktis para elit pengelolanya.
Karut-marut politik PBNU hari ini ditandai oleh mengendurnya kohesi internal, menguatnya polarisasi faksional, serta reduksi nilai-nilai khittah demi mengakomodasi kepentingan jangka pendek kekuasaan eksekutif. Organisasi yang semestinya berdiri sebagai super-body moral yang independen, pengkritik ulung ketimpangan sosial, dan penjaga nurani umat, justru sering kali terjebak menjadi stempel legitimasi kebijakan kekuasaan.
Dalam bingkai kritik filosofis, kejadian ini adalah corak pengkhianatan terhadap amanah sejarah. Ketika para pemimpin jam’iyyah lebih sibuk memperjuangkan lahan kekuasaan daripada merawat nasib jutaan umat di akar rumput yang terpinggirkan, maka di situlah letak krisis eksistensial yang sesungguhnya. Krisis ini tidak hanya menakut-nakuti integritas struktural, tetapi juga mengikis kepercayaan publik (public trust) terhadap marwah para ulama.
Kebijaksanaan (Al-Hikmah) sebagai Antitesis Krisis Kepemimpinan
Menghadapi karut-marut tersebut, bait keempat qasidah ini menawarkan jalan keluar epistemologis yang sangat mendalam:
لا تدهبن بسؤال أنت سائله # فالكل منتجز بالحكمة الحكم
“Jangan larut dalam tanda tanya besar yang kau persoalkan; segala perihal bakal segera terwujud berkah kebijakan yang bijaksana.
Kalimat ini merupakan kritik telak terhadap keputusasaan kaum intelektual dan Nahdliyin akar rumput yang sering kali melontarkan pertanyaan kritis penuh kekecewaan: Ke mana arah NU bakal dibawa? Mengapa para ustad terseret arus pragmatisme?
Kiai Afifuddin mengingatkan bahwa kegelisahan intelektual dan skeptisisme struktural tidak boleh dibiarkan menjadi destruktif. Jawaban atas carut-marut ini bukanlah kehancuran total alias perpecahan, melainkan kembalinya kepemimpinan pada poros al-hikmah (kebijaksanaan).
Kebijaksanaan di sini bukanlah kompromi busuk alias politik jual beli sapi, melainkan keteguhan prinsip moral yang memadukan kedalaman spiritualitas tasawuf dengan ketajaman kajian sosio politik. Para pemimpin NU dituntut untuk melepaskan ego sektoral dan syahwat kekuasaan, lampau kembali menyelaraskan langkah organisasi dengan visi besar para pendirinya (muassis).
Pendekatan tasawuf dalam membaca dinamika organisasi mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian (khidmah). Ketika orientasi beranjak menjadi perebutan pengaruh semata, sinar jiwa organisasi bakal padam. Oleh lantaran itu, al-hikmah menuntut adanya kejernihan berpikir, kepekaan nurani, dan keberanian moral untuk mengatakan yang betul di hadapan kekuasaan.
Menjaga Warisan Luhur: Jam’iyyah sebagai Benteng Peradaban
Bait-bait penutup dari Qasidah “Al-Faraj Ba’dal Haraj” mengingatkan kita kembali pada mandat esensial berdirinya Nahdlatul Ulama: sebagai tembok Ahlussunnah wal Jamaah, penjaga iktikad umat, pembina adab mulia, serta pilar utama nasionalisme (hubbul wathan minal iman).
Dalam konteks hari ini, ketika nilai-nilai kebangsaan digerus oleh radikalisme transnasional di satu sisi dan sekularisme pragmatis di sisi lain, keberadaan NU sebagai jangkar moderatisme (wasathiyah) menjadi nilai mati. Namun, gimana NU dapat menyelamatkan bangsa jika rumah besarnya sendiri sedang retak akibat perebutan pengaruh politik internal?
Oleh lantaran itu, pesan qasidah ini menjelma menjadi sebuah imperatif etis. Pemeliharaan terhadap hidayah besar jam’iyyah mensyaratkan adanya pembersihan niat kolektif. Kembalinya NU ke marwah aslinya menuntut proses catharsis: sebuah penyucian struktural dan kultural dari segala corak penyelundupan kepentingan renik. Para pengurus di semua tingkatan kudu kembali menjadikan nilai-nilai keulamaan yang otonom sebagai kompas utama dalam merumuskan kebijakan organisasi.
Yang tak kalah menariknya juga adalah bahwa qasidah “Al-Faraj Ba’dal Haraj” adalah sebuah tesis optimisme profetik di tengah kegelapan struktural. Ia mengajarkan kepada kita bahwa duka, konflik, dan karut-marut politik bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase transisional menuju kedewasaan kolektif. Sebagaimana malam yang pasti berganti fajar, kemelut di tubuh PBNU hari ini kudu dibaca sebagai momentum refleksi besar-besaran bagi seluruh penduduk Nahdliyin.
Dengan memegang teguh kebijaksanaan, merawat akidah, serta menempatkan kepentingan umat dan bangsa di atas syahwat kekuasaan golongan, insya Allah fajar kelapangan (al-faraj) bakal betul-betul datang menggantikan karut-marut (haraj), mengembalikan marwah NU sebagai rahmatan lil alamin di bumi Nusantara. Wallahu a’lam bishawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.