Merenungi Hakikat Umur Manusia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Umur alias bisa juga diartikan sebagai waktu manusia hidup di dunia, merupakan amanah dari Allah swt nan kudu dijaga dengan betul dengan mengerjakan semua kewajiban, menunaikan segala tanggung jawab, dan meninggalkan semua larangan. Tanggung jawab berupa umur hanya Allah berikan satu kali. Nah berikut penjelasan tentang merenungi prinsip umur manusia.

Oleh lantaran itu, orang nan menggunakannya dengan betul bakal beruntung dan nan menyia-nyiakannya bakal menyesal. Tidak ada perbuatan nan paling baik dalam menjalani sisa-sisa umur selain terus berupaya untuk melakukan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan terus berada dalam jalan kebenaran.

Rasulullah saw pernah ditanya oleh para sahabat perihal paling baik dan buruknya manusia. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka nan oleh Allah diberikan umur panjang, kemudian digunakan untuk melakukan kebaikan. Sebaliknya, paling buruk manusia adalah mereka nan diberikan umur nan panjang, namun panjangnya umur tersebut digunakan untuk keburukan. 

Hadits ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam karyanya Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhoif, nabi bersabda:

وَفِي التِّرْمِذِي عَنْهُ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ. قِيْلَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ سَاءَ عَمَلُهُ

Artinya; “Dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Rasulullah saw bahwa dia pernah ditanya: siapakah paling baiknya manusia? Nabi menjawab: orang nan dikaruniai umur panjang dan baik (benar) perbuatannya. Ditanyakan lagi: Dan siapakah paling jeleknya manusia? Nabi menjawab: orang nan panjang umurnya dan jelek perbuatannya.”

Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa umur nan panjang tidak hanya menjadi nikmat dari Allah swt, tetapi juga menjadi penentu kebaikan dan keburukan manusia. Mereka nan dikaruniai umur panjang, kemudian umur tersebut digunakan untuk mengerjakan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan terus konsisten dalam ketaatan, maka termasuk dalam golongan paling baiknya manusia. Karena mereka telah dikaruniai umur panjang dan sukses menggunakannya untuk kebaikan.

Begitu juga sebaliknya, orang nan dikaruniai umur panjang oleh Allah namun tidak ada tambahan kebaikan sama sekali dalam hidupnya, justru selalu melakukan keburukan, kemaksiatan, melanggar perintah-perintah Allah, dan tidak pernah menunaikan kewajiban-Nya, maka orang ini termasuk dalam golongan orang-orang nan buruk.

Oleh lantaran itu, kita semua sudah semestinya merenungi prinsip umur nan telah diberikan oleh Allah swt. Sudahkah tambahan umur juga menjadi perantara untuk menambah kebaikan, menambah ibadah dan ketaatan? Atau justru sebaliknya, kemaksiatan terus bertambah dan kejelekan terus dilakukan.

. Dalam kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan:

فَالْمُؤْمِنُ الْقَائِمُ بِشُرُوْطِ الْإِيْمَانِ لَا يَزْدَادُ بِطُوْلِ عُمْرِهِ إِلاَّ خَيْرًا وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَالْحَيَاةُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ

Artinya, “Maka orang beragama nan menunaikan semua ketentuan-ketentuan iman, tidak bakal bertambah dari panjangnya umur selain (juga bertambah) kebaikan. Dan, siapa saja nan bisa seperti ini, maka hidup (di dunia) lebih baik baginya daripada mati.” (Ibnu Rajab, Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, [Kairo, Darul Hadits: 2002], laman 302).

Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa bermohon kepada Allah untuk menjadikan hidup di bumi sebagai arena untuk selalu menambah kebaikan. Adapun lafal doanya adalah sebagai berikut:

اللهم اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِيْ فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍ

Allahumma ij’al al-hayâta ziyâdatan lî fî kulli khairin wal mauta râhatan lî min kulli syarrin

Artinya, “Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini sebagai nilai tambah bagiku dalam semua kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari segala kejahatan.” (HR Muslim, dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, laman 303).

Demikian tulisan akhir tahun perihal merenungi prinsip umur nan telah diberikan oleh Allah. Semoga bisa menjadi perantara untuk semakin semangat dalam meningkatkan kebaikan, ketaatan dan menjauhi larangan, serta tahun ini dan tahun-tahun berikutnya menjadi tahun nan berkah dan bermanfaat.

Demikian keterangan merenungi prinsip umur manusia. Menyadari prinsip umur manusia adalah langkah awal untuk menjalani kehidupan nan lebih berarti dan bermanfaat. Dengan merenungkan prinsip umur, kita dapat terhindar dari kesia-siaan dan konsentrasi pada hal-hal nan betul-betul krusial dalam hidup.

Semoga kita semua dapat memanfaatkan waktu nan tersisa dengan sebaik-baiknya dan meraih kebahagiaan di bumi dan akhirat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah