Nikmat Dekat Dengan Ahli Ilmu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Menuntut pengetahuan merupakan kenikmatan nan Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Namun, tidak semua hamba Allah memperoleh kenikmatan ini. Tidak semua dapat merasakan nikmatnya memahami kepercayaan Islam ini, memahami tentang prinsip ketaatan nan sesungguhnya. Sungguh! Ini merupakan hidayah dan nikmat terbesar. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ۬ مِّن رَّبِّهِۦ‌ۚ

“Maka, apakah orang-orang nan dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) kepercayaan Islam lampau dia mendapat sinar dari Rabbnya (itu sama dengan orang nan membatu hatinya)?” (QS. Az-Zumar: 22)

Dengan ilmu, Allah Ta’ala mengangkat derajat seseorang. Allah Ta’ala berfirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬

“…, niscaya Allah bakal meninggikan orang-orang nan beragama di antaramu dan orang-orang nan diberi pengetahuan pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Karena begitu nikmatnya memperoleh ilmu, maka dekat dengan mahir pengetahuan bakal menyempurnakan kenikmatan tersebut. Bagaimana tidak, dengan perantara mahir ilmu, setelah izin dari Allah, kita mengetahui suatu perihal nan tidak kita ketahui sebelumnya. Hal nan tetap samar bagi kita, menjadi jelas dan terang benderang tanpa ada kesamaran sedikit pun. Ini merupakan nikmat di antara nikmat-nikmat nan sering kita lupakan.

Dekat dengan mahir pengetahuan dapat menghidupkan roh, dengan pengetahuan dan sinar petunjuk

Tentunya, tatkala seseorang dekat dengan mahir ilmu, bakal membuatnya dekat kepada ilmu. Ia bakal mendapatkan jasadnya terisi dengan roh nan penuh bakal pengetahuan dan cahaya. Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an nan merupakan pokok dari pengetahuan sebagai roh dan sinar petunjuk,

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya Anda tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah ketaatan itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, nan Kami tunjuki dengan dia siapa saja nan Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah (wafat th.1376 H) berbicara ketika menafsirkan ayat di atas,

وَهُوَ هَذَا القُرْآنُ الكَرِيْمُ، سَمَّاهُ رُوْحًا، لِأَنَّ الرُّوْحَ يحْيا بِهِ الجَسَدُ، وَالقُرْآنُ تَحْيَا بِهِ القُلُوْبُ وَالأَرْوَاحُ، وَتَحْيَا بِهِ مَصَالِحُ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، لمِاَ فِيْهِ مِنَ الخَيرِ الكَثِيْرِ وَالعِلْمِ الغَزِيْرِ

“Demikianlah nan dimaksud dengan roh adalah Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala menamakan Al-Qur’an dengan Roh. Karena dengan roh, jasad dapat hidup; sedangkan dengan Al-Qur’an, hati-hati dan roh pun juga hidup. Sehingga dengan itulah kemaslahatan bumi dan kepercayaan dapat terealisasikan. Mengingat di dalam Al-Qur’an terdapat kebaikan nan banyak dan pengetahuan nan melimpah.” (Lihat Taisir Karimirrahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, hal. 726, Cet. Mu’assasah Ar-Risalah)

Oleh lantaran itu, dekat dengan mahir pengetahuan merupakan sumber dari roh dan sinar petunjuk. Sebaliknya, jika tidak dekat dengan mahir pengetahuan dan juga ilmu, maka ini merupakan awal dari sebuah petaka. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 204 H), apalagi mengatakan,

وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ  ……  ‌فَكَبِّرْ ‌عَلَيْهِ ‌أَرْبَعًا ‌لِوَفَاتِهِ

“Siapa nan terluput dari pengetahuan di masa mudanya.

Maka, takbirkan dia sebanyak empat kali atas wafatnya.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i, hal. 59)

Seseorang nan jauh dari pengetahuan dan mahir ilmu, sejatinya mereka adalah mayit nan berjalan. Karena tidak ada roh berupa pengetahuan pada jasad-jasad mereka. Demikianlah, nan dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Ahli pengetahuan tidak bakal mencelakakan orang-orang di sekitarnya

Bahkan, makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang lain merasakan faedah dengan adanya mahir ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mahir ilmu,

إِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ ‌حَتَّى ‌الحِيْتَانُ فِي المَاءِ

“Sesungguhnya makhluk-makhluk Allah di langit dan di bumi betul-betul bakal memohonkan maaf kepada mahir ilmu, sampai ikan-ikan nan berada di dalam air.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)

Sebab dari istigfar ini adalah lantaran seorang nan berilmu mengajarkan kepada manusia ilmu. Termasuk untuk memperhatikan dan menjaga hewan-hewan, mengenalkan kepada manusia perkara nan legal dan nan haram, dan juga mengajarkan kepada manusia gimana langkah untuk memperoleh hewan tersebut, menggunakan hewan tersebut untuk berkendara, apalagi sampai tata langkah menyembelih dengan langkah terbaik. Dengan ini, mahir pengetahuan berkuasa untuk memperoleh istigfar dari makhluk tersebut. [Demikianlah nan disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) di dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, 1: 175]

Dalam sabda nan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati mahir ilmu,

‌هُمُ ‌الْقَوْمُ ‌لَا ‌يَشْقَى ‌بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

“Mereka adalah suatu kaum nan tidak bakal mencelakakan kawan duduk mereka.” (HR. Muslim no. 2689)

Tentunya, berbanding terbalik jika kita dekat dengan bukan dari mahir ilmu. Seringkali kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan nan kita dapatkan dari mereka. Bahkan, susah rasanya untuk memperoleh kepercayaan dan ketenangan pada mereka. Sehingga fitrah pada diri manusia pun dapat menilai. Begitu nikmatnya dekat dengan mahir ilmu.

Baca juga: Antara Ilmu nan Diamalkan dan nan Tidak Diamalkan

Ahli pengetahuan merupakan pewaris para nabi ‘alaihimus salam

Hal ini sebagaimana nan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ustadz adalah pewaris para nabi. Sungguh! Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan juga dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja nan mengambilnya, maka dia telah memperoleh perbendaharaan nan berharga.” (Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib, 1:138, Cet. Maktabah Al-Ma’arif)

Karena mahir pengetahuan pewaris para nabi, maka dekat dengan mereka membikin kita setidaknya sedikit merasakan nikmatnya mendapatkan warisan para nabi ‘alaihimus salam, nan tentunya warisan ini lebih berbobot daripada warisan nan ada di bumi ini.

Dekat dengan mahir pengetahuan memudahkan seseorang untuk bertanya perihal agama

Allah Ta’ala berfirman,

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka, tanyakanlah olehmu kepada orang-orang nan berilmu jika Anda tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7)

Ini di antara nikmat dekat dengan mahir ilmu. Kita bisa bertanya kepadanya tentang perihal kepercayaan nan tidak diketahui. Sehingga sirnalah kegoblokan dalam diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‌أَلَا ‌سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

“Tidakkah mereka mau bertanya tatkala mereka tidak mengetahui, lantaran sesungguhnya obat dari kegoblokan adalah bertanya.” [1] (Lihat Sunan Abu Daud no. 336)

Inilah di antara nikmat dekat dengan mahir ilmu. Sehingga ini nan kudu disyukuri dan jangan dilupakan jasa-jasa mereka. Terdapat sebuah perkataan nan menarik nan dikatakan oleh Syu’bah,

كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ مِنَ الرَّجُلِ الحَدِيْثَ كُنْتُ لَهُ عَبْداً مَا حَيِيَ

“Tatkala saya mendengar satu sabda dari seseorang (ahli ilmu), saya siap untuk menjadi budak selama dia hidup.” (Lihat Tadzkiratus Saami’, hal. 190, Cet. Maktabah Ibnu Abbas)

Terakhir, tentunya dekat dengan mahir pengetahuan adalah untuk diambil ilmunya dan diambil faedah serta faedah-faedah dari mereka. Bukan tujuan dekat dengan mahir pengetahuan adalah untuk meningkatkan status sosial, jabatan, apalagi berbesar hati dengan menunjukkan kepada manusia bahwa dia dekat dengan mahir ilmu. Cukuplah membikin kita bangga dengan kegunaan dan pengetahuan nan bisa diperoleh dari mereka. Tidak lupa angan untuk mereka tentunya. Khawatirnya berbesar hati dengan perihal tersebut justru membikin kita ghurur (tertipu) dengan itu semua. Sehingga nan menyelimuti kita justru adalah penyakit ujub, riya‘, dan sum’ah. Bangga dengan dikatakan “fulan adalah siswa ustaz fulan”, tanpa ada sedikit pun pengetahuan nan terpatri pada dirinya. ‘Iyaadzan Billah.

Masih banyak lagi nikmat dengan mahir ilmu, selain dari perihal nan disebutkan di atas. Semoga perihal di atas dapat menjadi motivasi bagi mereka nan belum mendekat kepada mahir ilmu, dan menjadi pengingat untuk berterima kasih bagi mereka nan dekat dengan mahir ilmu. Wabillahit Taufiq.

Baca juga: Ilmu Bekal Hidup Bahagia

 ***

Depok, 27 Rajab 1445 H / 8 Februari 2024

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Hadis ini menceritakan tatkala ada seorang sahabat nan salah dalam berfatwa. Tatkala dia ditanya oleh sahabat nan lainnya, di mana sahabat ini mimpi basah sehingga membuatnya junub, kebetulan dia sedang terluka di bagian kepala, “Apakah ada rukhshah bagiku untuk bertayamum?” Jawabnya, “Tidak, kami tidak mendapati rukhshah untukmu”. Sehingga sahabat ini pun meninggal. Sampailah berita tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi berfirman sebagaimana sabda di atas.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah