Obat Sembuh Dari Penyakit Mengumbar Aib Orang Lain

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA--Hampir semua orang mempunyai aib. Dan kejelekan merupakan sesuatu nan berasosiasi dengan keburukan nan melekat pada diri seseorang. Apabila dibicarakan bakal berpotensi menjadi sesuatu nan lebih jelek lagi.

Syaikh Abu Abdurrahman as-Sullami dalam bukunya "Aib Jiwa dan Obatnya" mengatakan di antara kejelekan jiwa adalah mereka nan mengurusi kejelekan orang lain dibandingkan kejelekan diri sendiri. Ibarat penyakit, mengurusi kejelekan orang lain merupakan penyakit nan memerlukan pengobatan.

Menurut Syaikh Abu Abdurrahman obat agar sembuh dari penyakit mengurusi kejelekan orang lain dengan banyak melakukan perjalanan, menahan diri serta mengindahkan nasihat dan mencintai orang-orang sholeh. Jika belum bisa mengobati kejelekan diri sendiri, minimal tidak membicarakan kejelekan orang lain. 

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menutupi kejelekan saudaranya sesama muslim, niscaya Allah bakal menutupi aurat (aib)nya. Dan, peralatan siapa mengumbar aurat saudaranya sesama muslim, niscaya Allah bakal mengumbar auratnya, hingga Dia mempermalukannya di tengah rumahnya sendiri.” 

Aku mendengar Muhammad bin Abdullah bin Syadzan berkata: Aku mendengar Zadan al-Madayini berkata, “Aku memandang suatu kaum nan mempunyai aib. Namun, lantaran mereka tak bersuara (tidak membicarakan) atas kejelekan orang lain, Allah pun menutupi kejelekan mereka. Aib mereka seolah-olah hilang. Aku juga memandang suatu kaum nan sebenarnya tidak mempunyai aib. Namun, lantaran mereka membicarakan kejelekan orang lain, mereka pun seolah mempunyai banyak aib.”

Larangan mengumbar air orang lain juga disebutkan dalam Alquran Suran An-Nur ayat 19:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Innal-lażīna yuḥibbūna an tasyī‘al-fāḥisyatu fil-lażīna āmanū lahum ‘ażābun alīm(un), fid-dun-yā wal-ākhirah(ti), wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn(a).

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang nan senang atas tersebarnya (berita bohong) nan sangat biadab itu di kalangan orang-orang nan beriman, mereka mendapat balasan nan sangat perih di bumi dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan Anda tidak mengetahui."

Terbongkarnya kejelekan dekat dengan menggunjingkan seseorang saat berkumpul dengan teman-teman. Dan kepercayaan juga melarang menggunjing.

Ahli hadis, As-Samarqandi dalam bukunya "200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa" mengungkapkan tentang ancaman menggunjing. Dalam sebuah hadis, Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda, "Ketika saya dimikrajkan, saya melewati suatu kaum nan mempunyai kuku dari tembaga sedang menggaruk-garuk wajah mereka. Aku bertanya, 'Siapakah mereka, wahai Jibril?' Ia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang nan menyantap daging sesama manusia dan menodai kehormatan mereka." (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dan As-Samarqandi mengatakan menggunjing dalam hati juga dilarang. Menurutnya menggunjing dalam hati termasuk ghibah.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam