Pakai Jaringan Wifi Tetangga Tanpa Izin, Apa Hukumnya Dalam Islam?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Sebagian orang mungkin pernah menemukan adanya seseorang, misalnya di kosan alias tetangga sebelah, nan melakukan cara-cara tertentu untuk bisa mengakses jaringan Wifi tetangga tanpa izin. Lantas gimana hukumnya dalam Islam?

Mufti Mesir Prof Dr Syauqi Alam, nan juga menjabat sebagai Ketua Sekretariat Jenderal Majelis Fatwa dan Otoritas Fatwa Dunia, memberi peringatan atas tindakan beberapa perseorangan nan menggunakan jaringan Wi-Fi terenkripsi tanpa izin pemiliknya, sembari menjelaskan pandangan hukum tentang masalah tersebut.

Hal itu disampaikan dalam konteks aktivitas obrolan Ramadan harian dalam program "Tanyakan pada Mufti" nan disiarkan oleh saluran televisi Sada El-Balad.

Dalam penjelasannya di laman Masrawy, Mufti Syauqi Alam menegaskan, berasas hukum Islam, tidak dibolehkan mengakses jaringan internet nirkabel nan terenkripsi (wifi) tanpa izin dari pemiliknya.

Jika itu dilakukan, maka tindakan tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap kewenangan kepemilikan, nan dilarang secara syariat. Lantas gimana jika menggunakan jaringan Wifi di tempat-tempat nan terbuka untuk umum. Apakah dibolehkan alias dilarang dalam Islam?

Syauqi Alam menjelaskan, dalam pandangan syariat, penggunaan jaringan Wi-Fi nan terbuka dan tidak terenkripsi di tempat umum tidaklah dilarang.

Hal itu lantaran jaringan tersebut dirancang untuk digunakan oleh masyarakat umum secara luas. Namun, jika jaringan tersebut merupakan jaringan pribadi, maka diperlukan izin dari pemiliknya alias izin berasas patokan nan berlaku.

Seorang Muslim kudu mempunyai kehati-hatian alias wara' dalam memperoleh rezeki. Jangan sampai rezeki nan dapat itu justru diperoleh dengan cara-cara batil semisal mengambil kewenangan orang lain.

Misalnya saja seseorang nan membangun perusahaan dengan mengambil tanah orang lain dan menyatakan bahwa tanah itu adalah miliknya alias dalam perkara lain semisal mengkorupsi biaya nan semestinya disalurkan untuk kepentingan masyarakat, dan lainnya.

Sejatinya orang nan mengambil kewenangan orang lain itu bakal dapat kesengsaraan di hari kiamat. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مَنْ أَخَذَمِنَ الْاَ ْرِض شِبْرًابِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِلَى سَبْعِ أَرْضِيْنَ.

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa nan mengambil sejengkal tanah bumi nan bukan haknya, niscaya ditenggelamkan dia pada hari hariakhir sampai ke dalam tujuh lapis bumi." (HR. Bukhari)

Allah SWT juga berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ

"Janganlah Anda makan kekayaan di antara Anda dengan jalan nan batil dan (janganlah) Anda membawa (urusan) kekayaan itu kepada para pengadil dengan maksud agar Anda dapat menyantap sebagian kekayaan orang lain itu dengan jalan dosa, padahal Anda mengetahui." (QS. Al Baqarah ayat 188).

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam