Pelit Yang Paling Parah, Begini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Sifat pelit dalam Islam dianggap sebagai tindakan nan bertentangan dengan aliran agama. Pelit merupakan sikap nan menahan diri dari memberikan kebaikan kepada orang lain, baik itu dalam corak harta, waktu, alias tenaga. 

Dalam Islam, sifat pelit dianggap sebagai salah satu penyebab munculnya keburukan dalam masyarakat. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan banyak peringatan dan nasihat tentang ancaman pelit.

Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya bahwa kekayaan nan kita miliki sebenarnya hanyalah titipan dari Allah SWT dan kita kudu bersedia memberikannya kepada sesama sesuai dengan kebutuhan. Hadis nan menyatakan "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah" menggambarkan pentingnya memberi dan berbagi.

Allah ta’ala berfirman

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Barangsiapa nan dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang nan beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9).

Dalam sabda lain Rasulullah SAW bersabda:

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

Tidak bakal berkumpul sifat kikir dan keagamaan dalam hati seorang hamba selama-lamanya. (HR. An-Nasa’i). 

Sifat pelit merupakan sikap tercela, bisa terjadi kepada diri sendiri maupun orang lain.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah pernah berkata:

ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ

Derajat pelit nan paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal dia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia nan menahan hartanya (tidak dibelanjakan), semisal ketika sakit dia tidak berobat. Ia sedang berhajat (punya kebutuhan) terhadap sesuatu, tetapi dia tahan lantaran pelit. (Lihat Mukhtasar Minhaj. Al-Qashidin, hal. 205). 

Pelit terhadap diri sendiri merupakan sikap nan seringkali merugikan. Ketika seseorang menjadi terlalu pelit terhadap dirinya sendiri, perihal tersebut dapat menghalang pertumbuhan pribadi, kesejahteraan emosional, dan hubungan sosialnya. 

Orang nan pelit menurut perkataan para ulama,

إِنَّ الْبَخِيْلَ يَعِيْشُ عَيْشَ الْفُقَرَاءِ وَيُحَاسَبُ حِسَابَ الْأَغْنِيَاءِ

Sesungguhnya orang pelit itu hidup di bumi seperti orang miskin, tetapi hisabnya di alambaka seperti orang kaya.

Selain pelit terhadap diri sendiri, pelit terhadap orang lain juga bisa merugikan dan termasuk sikap tercela. Padahal, Allah SWT memberinya rezeki bukan untuk dijadikan sebagai bahan kesombongan. Tetapi, alangkah baiknya dibagikan kepada sesama nan membutuhkan, sedekah, sehingga menjadi ladang pahala bagi dirinya.

Allah beri ancaman dengan siksa terhadap orang nan pelit, dalam firmannya yaitu:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُون

Orang-orang nan menimbun emas dan perak (harta) dan tidak menginfakkannya (mengeluarkan zakatnya) di jalan Allah, maka berikanlah berita ceria kepada mereka, (bahwa mereka bakal mendapat) balasan nan pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lampau dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya malaikat berkata) kepada mereka, ‘Inilah kekayaan bendamu nan Anda simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa nan Anda simpan itu. (QS. At-Taubah: 34-35).

Dengan demikian, sifat pelit baik terhadap diri sendiri maupun orang lain merupakan sikap nan tercela dan bisa merugikan. Allah SWT memerintahkan umat Muslim untuk memanfaatkan kekayaan nan dimiliki dengan sebaik-baiknya. Mulai dari sedekah, zakat, memberi makan orang miskin, saling membantu sama lain, sehingga kekayaan nan kita punya bisa menjadi pahala dan keberkahan. 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam