Pengelolaan Air Dan Penanggulangan Banjir Dalam Peradaban Islam

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Dalam sejarah peradaban Islam, umat Islam telah memberikan kontribusi nan besar mengenai pengelolaan air. Mereka mulai menyadari pentingnya pengelolaan air sejak era Nabi (610-632 M) dan Khulafaur Rasyidin (632-661 M). 

Namun, nan berangkaian dengan pengelolaan air untuk menanggulangi banjir bisa dilihat sejak era Dinasti Bani Umayyah (661-750 M). Dalam makalahnya di Muslimheritage, Marwan Haddad mengungkapkan bahwa Bani Umayyah membangun waduk di sungai dan lembah, serta membangun saluran dan jaringan pengalihan air. 

Pada masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah ini, mereka membangun waduk dan waduk air di Kufah dan menggunakan Laut Najaf untuk tujuan ini guna meringankan beban banjir. Dengan keterbatasan sumber daya nan tersedia pada saat itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berupaya menghitung jumlah alias besarnya hujan.  

Pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, proyek ekspansi saluran irigasi jarak jauh pun dimulai, termasuk waduk penyimpanan besar. Maroko nan lebih besar (yang terbentang dari Tunisia hingga Maroko) belum pernah menyaksikan proyek semacam itu sebelum era Umayyah.

Pasokan air selalu menjadi masalah untuk bercocok tanam sepanjang Hijaz, dan kurangnya curah hujan telah memastikan bahwa setiap lahan budidaya berada di wilayah dengan air tanah nan cukup. Untuk mendapatkan alias mencapai air tersebut tidaklah mudah, diperlukan sumur nan dalam. 

Bendungan pun diperintahkan untuk dibangun di Hijaz oleh Khalifah Muawiyah bin Sufyan. Tujuan utama pembangunan waduk adalah untuk mencegah banjir bandang. Sedangkan tujuan sekundernya adalah untuk kepentingan pertanian maupun peternakan. 

Lalu pada era Dinasti Abbasiyah (750-1258 M), menurut Marwan Haddad, pemerintahan Dinasti Abbasiyah melakukan ekspansi pertanian untuk mengolah semua ruang nan tersedia di Irak dan memasok air ke kota-kota besar. Menurut dia, skema irigasi dan saluran air serta jaringan nan dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Islam Abbasiyah tetap mengesankan para insinyur air modern. 

Bagdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah, merupakan pusat pembelajaran dan kebudayaan. Ada beberapa kanal pemasok air di Baghdad nan melewati jalan-jalan mini dan pinggiran kota, mengalir dengan lancar di musim panas dan musim dingin. Diantaranya terdapat empat kanal utama nan mengarah ke sekitar Bagdad, ialah Nahr Isa, Nahr al-Malik, Nahr Sarsar dan Nahr Sarat. 

Di bawah Kekhalifahan Abbasiyah, Kanal Nahrawan di kota Jisr al-Nahrawan dekat Bagdad merupakan sistem irigasi utama, di sepanjang tepi timur Sungai Tigris dan hilir Sungai Diyala.

Dengan ekspansi waduk dan waduk air, Bani Abbasiyah juga menciptakan sebuah biro pengelolaan air, nan mereka sebut Diwan al-Aqrah (artinya Departemen Air). 

Sementara, pada Dinasti Andalusia (711-1492 M), telah banyak waduk mini dibangun di Sungai Turia sepanjang 150 mil, nan mengalir ke Mediterania di Valencia. Delapan dari waduk ini tersebar di enam mil sungai di Valencia dan melayani sistem irigasi lokal. 

Karena kreasi dan metode konstruksinya nan aman, serta pondasi nan dalam dan kokoh, waduk Turia bisa memperkuat dalam kondisi banjir nan rawan selama 1000 tahun.

Di wilayah stepa, orang-orang Arab Abad Pertengahan menunjukkan skill teknis dalam pengumpulan dan penyimpanan air limpasan. Banyak waduk pengalihan mini nan dibangun di anak sungai Oued Meguellil, Cekungan Aghlabides nan terkenal direalisasikan pada tahun 862, seluas 11.000 m 2 dan mempunyai kapabilitas penuh 63.000 m 3.

Pembangunan waduk nan dibangun di sungai oleh kaum Arab Muslim di Andalusia meninggalkan akibat nan besar dan menciptakan ledakan pertanian di Spanyol. Hill mencatat bahwa beberapa waduk air nan dibangun oleh Muslim Arab di Spanyol saat ini mungkin tampak kecil, namun waduk tersebut telah terbukti sangat praktis untuk menyediakan irigasi dan kebutuhan air minum. Contoh sistem tersebut ada di wilayah Valencia hingga saat ini.

Di Spanyol, terdapat sejumlah waduk nan menggambarkan kepiawaian umat Islam dalam metode pembangunannya, antara lain Bendungan Cordoba, Bendungan Sungai Segura, Bendungan Sungai Turia, dan lain-lain. Di dalamnya mereka memperkenalkan teknik pembangunan waduk termasuk gerbang pengatur ketinggian air, dan saluran nan mengalirkan lumpur dari dasar bendungan, dan perihal ini pada saat itu hanya dapat digambarkan sebagai “inovasi Islami.”

Pembangunan waduk di Spanyol Muslim sangat produktif. Di kota Cordoba, di sungai Guadalquivir dapat ditemukan waduk Islam tertua nan tetap ada di negara tersebut. Menurut mahir pengetahuan permukaan bumi abad ke-12 al-Idrisi, gedung itu dibangun dari batu ibtiyya dan dilengkapi pilar marmer. 

Bendungan ini mengikuti jalur zigzag melintasi sungai, suatu corak nan menunjukkan bahwa pembangunnya sedang membidik puncak nan panjang untuk meningkatkan kapabilitas luapannya.

Insinyur Abdullah bin Yunus antara tahun 484 dan 546 Hijriah menciptakan sistem air baru untuk mengambil air dari sumur air tanah nan dibor di tempat-tempat terpencil di dataran tinggi ke kota Marrakesh menggunakan saluran bawah tanah. Air mengalir di saluran secara gravitasi. Sistem saluran ini disebut Al-Khatara. Sistem kanal bawah tanah nan jumlahnya sekitar tiga ratus lima puluh kanal dan masing-masing panjangnya sekitar lima kilometer tetap ada di kota Marrakesh.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan kekhalifahan Ottoman (1517-1923 M), pasokan air juga dirawat dengan baik, bendungan, waduk, sumur, waduk, dan kolam dibangun untuk menampung air. Bendungan bakal membantu melindungi masyarakat Muslim dari musibah banjir. Bendungan dapat membantu menahan air saat air mengalir dengan kuat, sehingga meminimalkan akibat banjir dan kerusakan lingkungan

Baba dkk 2018 mengungkapkan bahwa pada masa Ottoman (abad 13-20) beberapa waduk dibangun. Pada periode 1620 hingga 1839, sistem Kırkçeşme didukung oleh empat bendungan, sistem Taksim oleh tiga bendungan, dengan ketinggian hingga 17 meter dan panjang puncak hingga 104 meter.

Semua waduk ini, sistem Kırkçeşme dan Taksim serta sistem Taşlımüsellim-Edirne sebagian besar tetap beroperasi. Bendungan Elmalı I, nan dibangun pada tahun 1893 di sisi Asia Istanbul, juga tetap beroperasi; Şamlar di Istanbul, Maden dekat Adapazarı, dan Semalı dekat Amasya adalah waduk menarik lainnya pada masa Ottoman. Bendungan Ottoman dibentuk oleh dua tembok batu dengan lapisan rapat air di antara keduanya. Spillways tidak ada di bendungan. Puncak dan hilir waduk dilapisi marmer.

Pemerintahan Ottoman juga membangun Bendungan Irara pada abad ke-17 di Wadi Ziz. Dengan panjang 1701 m dan tinggi 10 m, dibangun bertingkat dengan penopang dan pasangan bata kapur. Karyanya nan monumental, merupakan mahakarya hidrolika banjir nan menjadi tempat lahirnya wilayah Tafilalet. 

Pemerintahan Ottoman mengangkat teknik qanat air nan lebih tua, memperkenalkan kembali saluran air skala besar untuk memasok air nan cukup bagi kota-kota mereka nan sedang berkembang untuk keperluan keagamaan dan sosial serta untuk minum. 

Pengalaman dan pengetahuan nenek moyang umat Islam tetap dapat berkedudukan krusial dalam penyediaan air berkepanjangan baik di negara maju maupun berkembang, baik saat ini maupun di masa depan. Teknologi saluran air alias qanat dicirikan oleh ketahanan dan keberlanjutannya dan tetap digunakan di beberapa bagian dunia.

Perlu diketahui bahwa sistem qanat disebut saluran air di Eropa, qanat di Iran, faggora  di Aljazair, khattara di Maroko, kariga  di Tunisia,  sahreej di Yaman, falaj di Uni Emirat Arab dan Oman, dan Kariz di Asia Tengah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Kincaimedia, Klik di Sini

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam