Penjelasan Hukum Merokok Menurut Ulama Asal Kediri Yang Pernah Jadi Mufti Di Makkah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA—Dalam mukadimah Irsyadul Ikhwan fi Bayani Ahkami Syurbil Qohwah wad Dukhon, Syekh Al-'Allaamah Ihsan bin Muhammad Dahlan Al Jampesi, nan merupakan pembimbing dari KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menjelaskan kitab ini sejatinya adalah ringkasan sekaligus penyempurnaan dari kitab nan pernah dia tulis sebelumnya, ialah Tadzkirat al-Ikhwan fi Bayan al-Qahwah wa ad-Dukhan.

Mengawali pembahasan, tokoh kelahiran Termas, Pacitan, Jawa Timur, ini membeberkan pendapat para ustadz dari sejumlah ajaran menyikapi norma tembakau. 

Di antaranya pandangan norma dari mufti Mazhab Syafi'i di Tanah Hijaz pada abad ke-12 H, ialah Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. 

Menurut al-Kurdi, tak ada satu hadits pun menyoal norma tembakau, begitu juga pendapat para salaf, riwayat apa pun nan dinukilkan dari generasi salaf mengenai tembakau bisa dipastikan hoax (bohong) lantaran kemunculan komoditas ini ribuan tahun setelah masa mereka. 

Dari sinilah, muncul perbedaan pendapat, terutama di kalangan ustadz ajaran empat nan hidup pada masa belakangan. Sebagian memutuskan abstain enggan memberikan respons mengenai legal tidaknya mengonsumsi tembakau. 

Namun, dalam pandangan al-Kurdi, penggunaan tembakau ini bisa menjadi haram jika membahayakan pemakainya, baik terhadap perkembangan logika alias fisiknya. 

Mungkin pula, norma konsumsi tembakau bisa beranjak boleh, apalagi disunatkan jika dimaksudkan untuk tujuan medis.

Minimal hukumnya makruh, jika tidak ada aspek pemicu norma seperti di atas. Pendapat nan kurang lebih sama juga disampaikan Kiai Dahlan mengutip pendapat Syekh Muhammad Sa'id Babashil, pemuka ustadz Mazhab Syafi'i di Makkah.

Dalam koridor ilmiah, Kiai Dahlan nan merupakan adik dari Syekh Mahfuzh at-Tarmasy, tokoh ustadz nusantara nan tersohor itu, tak luput mengungkapkan pendapat mereka nan terang-terangan mengharamkan konsumsi tembakau.

Sebagian besar mereka menariknya adalah kalangan sufi. Mengutip penuturan al-Qalyubi, tokoh terkemuka Mazhab Syafi'i pada akhir abad ke-10 H, konsumsi tembakau memicu sederet gangguan fisik, seperti sesak napas dan kebutaan.

Lebih menariknya lagi, Kiai Dahlan mendiskusikan pendapat pengharaman itu dengan nukilan fatwa nan justru sangat kontras. Bahwa pendapat haramnya rokok pada dasarnya adalah lemah karena, seperti disebutkan Syekh ar-Rasyidy, ustadz beraliran Syafi'i kelahiran Maroko nan hidup pada abad ke-10 H, tidak ada dalil satu pun nan jelas mengharamkan rokok.

Dengan demikian, merokok pada dasarnya diperbolehkan. Ini sejalan dengan pandangan Syekh Zaini Dahlan, mahir fikih di Makkah pada abad ke-13 H, dan Syekh ad-Damanhuri, master fikih dari al-Azhar Mesir pada abad ke-11 H. Minimal, kata Syekh as-Syarqawi dalam catatannya dalam kitab at-Tahrir, merokok hukumnya makruh. 

Pendapat bolehnya merokok ini, tulis Kiai Dahlan, tak hanya diungkapkan para mahir fikih beraliran Syafi'i. Ulama Mazhab Maliki periode akhir (mereka, antara lain, Syekh al-Ajhuri, ad-Dasuqi, as-Shawi, dan al-Amir al-Maliki), menyatakan norma konsumsi rokok dan tembakau bisa sangat kondisional dan situasional tergantung penggunanya sehingga bisa bertindak lima jenis hukum.

Maknanya, jika rokok bisa memicu ibadah seseorang bisa sunat hukumnya, dan jika rawan malah haram, dan jika memang rawan tanpa merokok tentu wajib. 

Sedangkan, jika rokok malah melalaikan ibadah, hukumnya makruh dan seandainya faktor-faktor tersebut nihil, merokok hukumnya boleh.

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam