Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (bag. 25): Isim Maa Laa Yansharif

Oct 21, 2025 11:00 AM - 5 bulan yang lalu 182728

Kelanjutan dari pembahasan isim yang di-i‘rab dengan tanda cabang pada tulisan ini berfokus pada isim kelima, ialah isim maa la yansharif. Isim ini mempunyai keistimewaan lantaran tidak menerima tanwin dan pada posisi majrur ditandai dengan fathah, bukan kasrah, selain dalam keadaan tertentu. Kekhususan tersebut menunjukkan sungguh sistem i‘rab dalam bahasa Arab tidak hanya bersandar pada norma umum, tetapi juga mempunyai ragam unik yang memperkaya pemahaman gramatikal. Dalam pengetahuan nahwu, isim–isim (kata benda) secara umum dapat berubah sesuai dengan posisi i’rab-nya, ialah marfu‘ (رفع), manshub (نصب), dan majrur (جر). Namun, terdapat sebagian isim yang tidak mengikuti tanda i‘rab pada umumnya, terutama pada posisi jar. Isim semacam ini disebut dengan “isim maa la yansharif” atau dalam istilah lain disebut juga dengan “mamnu‘ min ash-sharf”.

Pengertian dan ciri-ciri isim maa la yansharif

Ibnu Hisyam menyatakan bahwa, “Isim maa la yansharif ketika berdomisili majrur (dimasuki huruf jarr), maka tanda i‘rab-nya berupa fathah, bukan kasrah.

Contohnya adalah:

بِأَفْضَلَ مِنْهُ

“Dengan orang yang lebih utama darinya.”

Namun, perihal tersebut bertindak dengan syarat bahwa isim tersebut tidak dimasuki “al” (ال) dan tidak dalam susunan idhafah.

Contoh isim yang dimasuki “al”:

بِٱلْأَفْضَلِ

“Dengan orang yang paling utama.”

Contoh isim yang dalam susunan idhafah:

بِأَفْضَلِكُمْ

“Dengan orang yang paling utama di antara kalian.”

Kedua contoh di atas tetap memakai kasrah pada huruf akhir isim tersebut lantaran gugurnya status sebagai isim maa la yansharif disebabkan adanya “al” alias lantaran berupa susunan idhafah.

Makna mamnu‘ min ash-sharf

Secara harfiah, mamnu‘ min ash-sharf berfaedah “yang dilarang menerima tanwin”. Karena itu, isim jenis ini tidak boleh di-tanwin, karena tanwin itu sendiri merupakan sharf. Isim ini disebut maa la yansharif lantaran diawali oleh kata “laa” (لا), yang menunjukkan penafian. Atau dengan penamaan lain, isim ini diawali oleh kata mamnu’ yang menunjukkan penafian juga.

Sebab-sebab suatu isim menjadi maa la yansharif

Suatu isim bisa menjadi maa la yansharif jika memenuhi: dua karena dari sembilan, atau satu karena tertentu yang cukup kuat untuk menjadi isim maa la yansharif.

Beberapa contoh berikut menggambarkan perihal tersebut:

أَحْمَدُ

“Seorang yang berjulukan Ahmad.”

Kata tersebut termasuk isim maa la yansharif karena mempunyai dua sebab, ialah berstatus sebagai nama orang mengikuti wazn (pola) fi‘il. Contoh lainya adalah:

عَطْشَانُ

“Laki-laki yang haus.”

Isim tersebut tergolong isim maa la yansharif lantaran ada dua karena alias alasan, ialah merupakan sifat dan terdapat alif serta nun di akhir kata.

مَسَاجِدُ

“Masjid-masjid.”

Isim di atas termasuk maa la yansharif karena ada satu karena yang kuat menjadikan isim tersebut isim maa la yansharif, ialah dikarenakan isim tersebut berupa shighah muntahaa al-jumu‘, yaitu bentuk jama’ yang paling puncak.

I‘rab isim maa la yansharif

Isim ini tetap mengikuti norma perubahan i‘rab (mu‘rab), namun mempunyai tanda unik pada kedudukan jar (majrur). Tanda-tanda dari masing kedudukan tersebut adalah:

Pertama, marfu‘ dengan dhammah (ضمة).

Kedua, manshub dengan fathah (فتحة).

Ketiga, majrur juga dengan fathah (فتحة), bukan kasrah.

Contohnya dalam kalimat adalah:

حَضَرَ أَحْمَدُ

“Telah datang seseorang berjulukan Ahmad.”

Kata yang bergaris bawah pada kalimat di atas merupakan isim maa laa yansharif, marfu’ dengan tanda dhammah sebagai fa’il.

رَدَّ ٱللّٰهُ يُوسُفَ إِلَىٰ يَعْقُوبَ

“Allah mengembalikan Yusuf kepada Ya‘qub.”

Kata يُوسُفَ pada kalimat di atas berdomisili manshub dengan tanda fathah sebagai maf’ul bih dan kata يَعْقُوب berdomisili majrur lantaran didahului oleh huruf jer dan majrur dengan tanda fathah lantaran kata tersebut merupakan isim maa la yansharif.

Pengecualian: bisa kasrah jika …

Terdapat dua kondisi di mana isim maa la yansharif boleh berkasrah, meskipun biasanya majrur dengan fathah, yaitu:

Pertama, ketika menjadi mudhaf

Contohnya adalah:

وَعَظْتُ فِي مَسَاجِدِ ٱلْقَرْيَةِ

“Aku memberi nasihat di masjid-masjid kampung itu.”

Kata مَسَاجِد pada kalimat di atas berdomisili majrur dengan tanda kasrah lantaran didahului oleh huruf jer. Kata tersebut majrur dengan tanda kasrah lantaran tergolong isim mufrad, bukan lagi isim maa la yansharif. Isim tersebut batal sebagai isim maa la yansharif dikarenakan berdomisili sebagai mudhaf untuk kata ٱلْقَرْيَة.

مَرَرْتُ بِأَفْضَلِكُمْ

“Aku melewati orang paling mulia di antara kalian.”

Kata أَفْضَلِ pada kalimat d iatas berdomisili majrur dengan tanda kasrah lantaran didahului oleh huruf jer. Kata tersebut majrur dengan tanda kasrah lantaran tergolong isim mufrad, bukan lagi isim maa la yansharif. Isim tersebut batal sebagai isim maa la yansharif dikarenakan berdomisili sebagai mudhaf untuk kata setelahnya yang berupa dhamir.

Kedua, ketika dimulai dengan al (ال)

Contohnya dalam kalimat adalah:

سَأَلْتُ عَنِ ٱلْأَفْضَلِ مِنَ ٱلطُّلَّابِ

“Aku bertanya tentang siswa yang paling pintar.”

Kata ٱلْأَفْضَلِ pada kalimat di atas berdomisili majrur dengan tanda kasrah lantaran didahului oleh “al”, sehingga tidak lagi berstatus maa la yansharif secara hukum.

Kesimpulan singkat

Isim maa la yansharif adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menggunakan kasrah saat majrur, melainkan fathah. Hal ini disebabkan oleh satu alias dua karena tertentu, seperti pola kata, sifat, alias corak plural tertentu. Namun, patokan ini gugur andaikan isim tersebut menjadi mudhaf alias dimasuki al (ال). Dalam dua kondisi itu, dia kembali mengikuti i‘rab seperti biasa, ialah dengan kasrah saat majrur.

[Bersambung]

Kembali ke bagian 24

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Kincai Media

Selengkapnya