Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (bag. 6): Fi’il Amr

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Ibnu Hisyam mengatakan,

وَأَمْرٌ يُعْرَفُ بِدَلَالَتِهِ عَلَى الطَّلَبِ مَعَ قَبُوْلِهِ يَاءَ المُخَاطَبَةِ

“Fi’il amr bisa diketahui dengan adanya permintaan untuk melakukan perbuatan dan kata tersebut bisa bersambung dengan يَاءُ المُخَاطَبَةِ (huruf ya’ nan menunjukkan wanita satu orang nan diajak berbicara).

Syekh Muhammad ibn Saleh Al-Fauzan menjelaskan bahwasanya ini adalah pembahasan fi’il yang kedua, ialah fi’il amr. Kata أَمْرٌ tersebut ma’tuf  (mengikuti i’rab) kata مَاضٍ nan disampaikan Ibnu Hisyam pada awal pembahasan mengenal macam-macam fi’il. Adapun kalimat lengkapnya adalah:

وَأَمَّا الْفِعْلُ فَثَلاثةُ أَقْسَامٍ : مَاضٍ, َأَمْرٍ

Ciri-ciri fi’il amr

Fi’il amr mempunyai 2 karakter nan selalu ada padanya. Yaitu:

Pertama,

Kata nan menunjukkan perintah untuk melakukan perbuatan. Contohnya adalah

أَطِعْ أَبَاكَ

“Taatilah bapakmu!”

Maka, kata أَطِعْ adalah fi’il amr lantaran kata tersebut menunjukkan perintah untuk melakukan ketaatan.

Kedua,

Bisa bersambung dengan  يَاء mukhathabah (perempuan satu orang nan diajak berbicara). Contohnya adalah:

يَا نَجْلِاءُ أَطِيْعِيْ أَبَاكَ

“Wahai Perempuan, taatilah bapakmu!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah  يَاءُ mukhathabah.

Apabila kata menunjukkan perintah dan tidak bisa bersambung dengan  يَاءُ mukhathabah, maka kata tersebut tidak dikatakan fi’il amr. Contohnya adalah:

صَهْ إِذَا تَكَلَّمَ غَيْرُكَ

“Diamlah andaikan orang lain berbicara.”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut menunjukkan perintah untuk diam. Akan tetapi, kata tersebut tidak bisa bersambung dengan  يَاءُ mukhathabah. Oleh lantaran itu, andaikan kedua syarat tidak terpenuhi, maka kata tersebut tidak dikatakan fi’il amr. Akan tetapi, kata tersebut adalah isim fi’il amr (isim nan berarti perintah).

Apabila ada kata nan bisa bersambung dengan  يَاءُ mukhathabah dan tidak menunjukkan perintah, maka kata tersebut tidak dikatakan fi’il amr. Kata tersebut adalah fi’il mudhari’. Contohnya adalah:

أَنْتِ – يَا هِنْدُ – تُهذِّبِيْنَ الْأَطْفَالَ

“Kamu, wahai Hindun, mendidik anak-anak itu.”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut hanya bisa bersambung dengan  يَاءُ mukhathabah, namun tidak menunjukkan perintah.

Tanda mabni fi’il amr

Ibnu Hisyam mengatakan,

وَبِنَاءُهُ عَلَى السُّكُوْنِ, كَاضْرِبْ, إِلَّا الْمُعْتَلَّ فَعَلَى حَذْفِ آخِرِهِ كَاغْزُ, وَاخْشَى, وَارْمِ, وَنَحْوَ : قُوْمَا, وَقُوْمُوْا,وَقُوْمِي, فَعَلَى حَذْفِ النُّوْنِ

Fi’il amr mabni-nya dengan tanda sukun. Contohnya adalah:

إِضْرِبْ

 (Pukullah olehmu!)

Jika fi’il amr nan diakhiri oleh mu’tal akhir (huruf nan cacat), fi’il amr nan diakhiri oleh huruf mu’tal akhir tersebut mabni dengan tanda dihapusnya huruf terakhir. Contohnya adalah:

أُغْزُ

(Berperanglah kamu!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf  و (wawu).

إِخْشَ

(takutlah kamu!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf ا  (alif).

إِرْمِ

(Lemparkanlah olehmu!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf ي  (ya’).

Kemudian, andaikan fi’il amr nan menunjukkan pelakunya أنتما (kalian berdua orang laki-laki/perempuan) dan أنتم (kalian laki-laki banyak), maka mabni dengan tanda dihapusnya huruf nun. Contohnya adalah :

قُوْمَا

(Kalian berdua laki-laki/perempuan beririlah!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf ن  (nun).

قُوْمُوْا

(Kalian laki-laki berdirilah!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf  ن (nun).

قُوْمِي

(Kamu (perempuan) berdirilah!)

Pada kata tersebut nan dihapus adalah huruf  ن (nun).

Ibnu Hisyam menjelaskan bahwasanya fi’il amr mirip dengan fi’il madhi jika dilihat tanda i’rabnya. Yaitu:

Pertama,

Fi’il amr mabni dengan tanda sukun. Apabila fi’il amr tersebut adalah fi’il amr shahih akhir (yang tidak diakhiri huruf abnormal (alif, wawu, dan ya’) dan tidak bersambung dengan apa pun. Contohnya adalah:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

(Bersamangatlah untuk nan berfaedah bagimu!)

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il shahih akhir dan tidak bersambung dengan huruf alias kata apa pun.

Contoh fi’il amr nan bersambung dengan nun inats (yang menunjukkan pelakunya wanita banyak) adalah:

اُتْرُكْنَ الْجِدَالَ

(Wahai perempuan, tinggalkanlah perdebatan!)

Maka, kata tersebut besambung dengan nun inats (yang menunjukkan pelakunya wanita banyak).

Kedua,

Fi’il amr mabni dengan menghapus huruf ‘illah (huruf cacat). Mabni dengan menghapus huruf ‘illah ketika fi’il amr kategori mu’tal akhir (yang diakhiri huruf cacat). Contohnya adalah:

اُدْعُ إِلَى اللهِ بِاحِكْمَةِ

“Berdakwahlah kepada Allah dengan hikmah!”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut ada huruf ‘’illah nan dihapus pada akhir katanya. Yaitu, huruf  و (wawu).

تَحَرَّ الصِّدْقَ فِيْمَا تَقُوْلُ

“Berusahalah untuk jujur terhadap apa nan Anda katakan!”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut mabni dengan tanda menghapus huruf ‘illah nan dihapus pada akhir katanya. Yaitu, huruf  ا (alif).

أَهْدِ إِلَى أَقْرَبَائِكَ

“Berikanlah bingkisan kepada kerabat-kerabatmu!”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut mabni dengan tanda menghapus huruf ‘illah nan dihapus pada akhir katanya. Yaitu, huruf  ي (ya’).

Ketiga,

Fi’il amr mabni dengan tanda menghapus huruf  ن (nun). Fi’il amr mabni dengan tanda tersebut andaikan bersambung dengan ا  (alif istnain/menunjukkan pelakunya dua orang) alias bersambung dengan wawu jama’ah (menunjukkan banyak), dan bersambung dengan ي mukhathabah (menunjukkan pelakunya satu orang wanita nan diajak berbicara). Contohnya adalah:

أَكْرَمَا ضُيُوْفَكُمَا

“Muliakanlah  tamu-tamu kalian!”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr mabni dengan tanda dihapusnya huruf nun pada akhir kata tersebut. Adapun huruf alif pada akhir kata tersebut adalah fa’il.

تَصَدَّقُوْا عَلَى الْفُقَرَاءِ

“Hendaklah kalian bersedekah kepada orang-orang fakir.”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr mabni dengan tanda dihapusnya huruf nun pada akhir kata tersebut. Adapun huruf alif pada akhir kata tersebut adalah fa’il.

أَحْسِنِي الْحِجَابَ

“Perbaikilah hijabmu!”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr mabni dengan tanda dihapusnya huruf nun pada akhir kata tersebut. Adapun huruf alif pada akhir kata tersebut adalah fa’il.

Keempat,

Ada tanda mabni fi’il amr nan tidak disebutkan oleh Ibnu Hisyam dan ditambahkan oleh Syekh Muhammad Ibn Shalih Al-Fauzan. Yaitu, Fi’il amr mabni dengan dengan tanda fathah andaikan bersambung dengan nun taukid (penegas). Contohnya adalah:

عَاشِرَنَّ إِخْوَانَكَ بِالمَعْرُوْفِ

“Benar-benar bergaullah dengan saudaramu dengan langkah nan baik.”

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr mabni dengan tanda fathah. Adapun nun taukid tersebut mabni dengan tanda fathah dan tidak ada kedudukannya di dalam kalimat.

Ibnu Hisyam mengatakan

وَمِنْهُ  فِي لُغَةِ تَمِيْمً, وَهَاتَ وَتَعَالَ فِي الْأَصَح

“Menurut dialeg Bani Tamim, kategori fi’il amr lainya adalah وَهَاتَ وَتَعَالَ هَلُمَّ.  Pendapat tersebut adalah pendapat nan sahih”

Syekh Muhammad Ibn Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwasanya penjelasan tanda mabni fi’il amr no 1-3 adalah pendapat nan sahih. Adapun kata هَلُمَّ ada dua makna. Yaitu:

Pertama,

Kata tersebut berkmakna أَقْبِلْ (kemarilah). Contohnya adalah:

هَلُمَّ إِلَى حَلَقَاتِ الْعِلْمِ

“Kemarilah ke halaqah ilmu!”

Kata nan bergaris bawah tersebut berarti “kemarilah.”

وَالۡقَآٮِٕلِيۡنَ لِاِخۡوَانِهِمۡ هَلُمَّ اِلَيۡنَا

“Orang nan berbicara kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah berbareng kami.’” (Al-Ahzab : 18)

Maka, kata هَلُمَّ tersebut berarti أَقْبِلُوْا “Kemarilah kalian!”.

Kedua,

Kata tersebut bisa berarti أَحْضِرْ “Datangkanlah!” Contohnya adalah :

هَلُمَّ زَمِيْلَكَ

“Datangkanlah temanmu!”

Kata nan bergaris bawah tersebut أَحْضِرْهُ  berarti “Hadirkanlah dia!”

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاۤءَكُمُ

“Katakanlah (Muhammad), Datangkanlah saksi-saksi kalian!” (Q.S.Al-An’am: 15)

Maka, kata nan bergaris bawah tersebut maknanya adalah أَحْضِرْهُ , “Datangkanlah oleh kalian!”

Menurut dialeg Bani Tamim kata هَلُمَّ tersebut masuk kategori fi’il amr. Kata tersebut dikatakan fi’il amr dikarenakan mencukupi syarat sebagai fi’il amr, ialah menunjukkan makna perintah, bisa bersambung dengan   يَاءُ mukhathabah, dan bisa bersambung dengan dhamir muttashil bariz. Contohnya adalah :

هَلُمَّ يَا صَالِحُ

“Kemarilah, wahai Sholih!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr nan menunjukkan perintah untuk laki-laki satu orang nan sedang diajak berbicara.

هَلُمِّي يَا عَائِشَةُ

“Kemarilah wahai Aisyah!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr nan menunjukkan perintah untuk wanita satu orang nan sedang diajak berbincang dan bersambung dengan  يَاءُ mukhathabah.

هَلُمَّا يَا مُحَّدَانِ

“Kemarilah, kalian berdua Muhammad!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr nan menunjukkan perintah untuk laki-laki dua orang nan sedang diajak berbincang dan bersambung dengan dhommir muttashil bariz.

هَلُمُّوا يَا عَلِيُّوْنَ

“Kemarilah, kalian wahai Ali (banyak)!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr nan menunjukkan perintah untuk laki-laki tiga orang nan sedang diajak berbincang dan bersambung dengan dhammir muttashil bariz.

يَا هِنْدَاتِ هَلْمُمْنَ

“Kemarilah, kalian Hindun (banyak)!”

Kata nan bergaris bawah tersebut adalah fi’il amr nan menunjukkan perintah untuk wanita tiga orang nan sedang diajak berbincang dan bersambung dengan dhammir muttashil bariz.

Kembali ke bagian 5: Mengenal Macam-Macam Fi’il

Lanjut ke bagian 7: Bersambung

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah