Pentingnya Meluruskan Niat (bag. 1)

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Diriwayatkan dari Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman ketika beliau sedang berceramah di atas mimbar,

إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ

“Sesungguhnya kebaikan itu tergantung niatnya dan setiap orang bakal mendapatkan (sesuai dengan) apa nan dia niatkan. Siapa saja nan hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia mendapatkan (pahala) hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja nan hijrahnya lantaran bumi nan mau dia cari alias lantaran wanita nan mau dia nikahi, maka dia bakal mendapatkan sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Dalam nasihat tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dan menyadarkan kaum muslimin dengan satu perihal nan bisa memperbaiki dan menyucikan hati mereka. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyampaikan sabda tersebut di atas mimbar, mengingatkan tentang agungnya kedudukan niat. Demikian pula selanjutnya, para dai dan orang-orang saleh pun banyak nan mengingatkan umat di beragam kondisi dan keadaan tentang krusial dan agungnya kedudukan niat, dan bahwa niat itu adalah perkara nan bisa memperbaiki hati manusia.

Imam Bukhari rahimahullah memulai kitab Shahih beliau nan penuh berkah dengan sabda nan agung ini. Demikian pula, sebagian ustadz juga melakukan seperti nan beliau lakukan dengan menjadikan sabda ini sebagai pembuka dari kitab (kitab) nan mereka tulis. Hal ini adalah isyarat bahwa para ustadz tersebut mau mengingatkan bahwa niat adalah satu perkara nan diperlukan oleh hamba Allah nan beriman. Seorang hamba sangat-sangat butuh dengan niat nan lurus dalam menuntut pengetahuan kepercayaan dan juga dalam seluruh ibadahnya.

Donasi Operasional YPIA

Setiap kebaikan itu bakal teranggap (memiliki nilai) di sisi Allah sesuai dengan niatnya. Apabila sebuah kebaikan dilakukan dengan niat nan murni lantaran mengharap wajah Allah, maka Allah bakal menerima kebaikan tersebut. Namun sebaliknya, andaikan kebaikan tersebut dilakukan tidak mengharapkan wajah Allah, maka kebaikan itu bakal dikembalikan lagi kepada pelakunya, namalain tertolak, tidak peduli sebanyak apapun ibadah tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا ؛ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di bumi itu apa nan Kami kehendaki bagi orang nan Kami kehendaki; dan Kami tentukan baginya neraka jahanam. Dia bakal memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa nan menghendaki kehidupan alambaka dan berupaya ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang nan usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 18-19)

Dalam ayat di atas, Allah tegaskan bahwa siapa saja nan mengingingkan duniawi dari kebaikan nan dia lakukan, maka Allah bakal berikan bumi tersebut sesuai dengan apa nan telah Allah takdirkan. Namun di alambaka kelak, Allah bakal masukkan dia ke dalam neraka jahanam.

Oleh lantaran itu, sabda nan diriwayatkan dari Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ini juga masuk dalam pembahasan tentang salat, puasa, sedekah, haji, dan beragam corak ibadah lainnya. Semua corak ibadah dan ketaatan tersebut, tidak bakal ada nilainya tanpa niat nan lurus. Dalam sabda tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan satu contoh nan bisa dianalogikan dalam semua corak ketaatan,

فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ

“Siapa saja nan hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia mendapatkan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Maksudnya, siapa saja nan niat dan maksud (tujuan) hijrahnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka dia bakal mendapatkan jawaban dan pahala hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika niatnya betul (yaitu untuk mencari wajah Allah), maka dia bakal mendapatkan pahala dan jawaban dari Allah Ta’ala. Namun jika niatnya tidak benar, kebaikan tersebut bakal tertolak dan tidak diterima. Karena Allah tidak bakal menerima suatu amal, melainkan nan dilakukan dengan ikhlas, mengharap wajah-Nya semata.

Baca juga: Pemahaman nan Benar Dan Niat nan Baik

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan selain agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) kepercayaan nan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah kepercayaan nan bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3)

Seorang hamba sangat butuh untuk memperbaiki dan meluruskan niat dalam setiap kebaikan nan dia lakukan. Baik dalam ibadah salat, puasa, zakat, haji, dan seluruh kebaikan ketaatan nan dia lakukan. Caranya, dia tidak mengharapkan jawaban apapun dari amalnya tersebut selain untuk mendapatkan wajah Allah semata. Suatu kebaikan itu tidak menghasilkan apapun, tidak bakal diterima, tidak bakal diridai, dan tidak bakal dibalas pahala oleh Allah selain kebaikan nan betul-betul diniatkan untuk Allah. Inilah kebaikan saleh nan masuk menemani ke dalam kubur seseorang ketika sudah meninggal dunia.

Adapun kebaikan nan dikerjakan oleh seseorang dengan tujuan selain Allah, misalnya untuk mencari popularitas; mau dilihat dan dipuji oleh orang lain; mau mendapatkan alias melanggengkan jabatan; alias keinginan-keinginan duniawi lainnya, maka kebaikan tersebut tidak bakal diterima dan tidak bakal diridai oleh Allah Ta’ala. Karena di antara syarat diterimanya kebaikan adalah niat kebaikan tersebut adalah untuk mencari wajah Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Dan barangsiapa nan menghendaki kehidupan alambaka dan berupaya ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang nan usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19)

Meluruskan niat itu memerlukan perjuangan nan terus-menerus (kontinyu) dalam jiwa manusia. Hal ini lantaran niat hati manusia itu senantiasa berubah-ubah, banyak sekali perkara di kehidupan bumi ini nan bisa melencengkan niat ikhlas. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ؛ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang nan bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, betul-betul bakal Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah betul-betul berbareng dengan orang-orang nan melakukan baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Oleh lantaran itu, meluruskan niat dan bersungguh-sungguh melawan bisikan hawa nafsu agar seseorang senantiasa tulus adalah satu perkara nan dituntut dari diri seorang muslim sampai di detik terakhir nafas kehidupannya. Berbagai macam penghalang nan bisa memalingkan seorang muslim dari keikhlasan bakal terus datang menyerang dari arah sana-sini. Maka dalam setiap waktu dan kesempatan, seseorang perlu untuk meluruskan dan memperbaiki niatnya.

Lanjut ke bagian 2: [Bersambung]

Baca juga: Seseorang Diberi Pahala Sesuai Kadar Niatnya

***

@Kantor Pogung, 23 Syawal 1445/ 2 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 17; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id