Pentingnya Meluruskan Niat (bag. 2)

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Sangat banyak kita jumpai perkataan ustadz salaf nan mengingatkan pentingnya niat, dan agar kita memperbaiki dan memperhatikan dengan penuh kesungguhan. Ibnu Rajab rahimahullah telah mengumpulkan beberapa perkataan tersebut dalam kitab beliau, Jami’ul Ulum wal Hikam. Di antaranya:

Dari Zaid al-Yammi, beliau berkata, “Aku mau sekali punya niat nan betul dalam melakukan segala sesuatu, apalagi ketika makan dan minum.” Beliau juga berkata, “Pasanglah niat baik dalam setiap perbuatan nan mau engkau lakukan! Bahkan ketika engkau mau pergi ke tempat sampah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Dinwari dalam al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilmi no. 3533)

Dawud ath-Tha’i berkata, “Aku memandang segala kebaikan itu ada pada niat nan benar. Dan cukuplah kebaikan tersebut untuk dirimu walaupun pada akhirnya engkau tidak bisa mendapatkan apa nan engkau niatkan.” (Diriwayatkan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam Qutul Qulub, 2: 275)

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Tidak ada satu perihal nan lebih susah saya perbaiki selain niatku, lantaran dia senantiasa berubah-ubah.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam al-Jaami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ no. 692)

Mutharrif bin Abdillah berkata, “Hati menjadi baik lantaran kebaikan nan baik. Amal menjadi baik lantaran niatnya lurus.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 2: 199)

Donasi Operasional YPIA

Sebagian salaf mengatakan, “Siapa saja nan mau amalnya sempurna, maka perbaikilah niatnya. Sesungguhnya Allah bakal memberi pahala bagi seorang hamba jika niatnya lurus. Bahkan dalam suapan nan dia berikan kepada keluarganya.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhud war Raqaiq no. 1552)

Ibnul Mubarak berkata, “Berapa banyak ibadah mini nan menjadi besar di sisi Allah lantaran niatnya. Berapa banyak ibadah besar nan menjadi mini di sisi Allah lantaran niatnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam Qutul Qulub, 2: 268)

Ibnu ‘Ajlan berkata, “Amalan itu tidak disebut baik selain dengan tiga hal: dilandasi ketakwaan pada Allah, niatnya lurus, dan dilakukan dengan benar.” (Diriwayatkan oleh Abu Thalib Al-Makki dalam Qutul Qulub, 2: 264)

Baca juga: 3 Perkara Penting Dalam Niat

Niat adalah sesuatu nan tersembunyi dalam diri seorang manusia. Jika niat seseorang dalam beramal adalah untuk mencari wajah Allah Ta’ala, maka dia berkuasa mendapatkan pahala. Namun, jika niat seseorang adalah untuk riya’ (agar dilihat dan mendapatkan pujian dari manusia), maka dia bisa mendapatkan hukuman. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ؛ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ؛ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang nan salat, (yaitu) orang-orang nan lalai dari salatnya, (yaitu) orang-orang nan melakukan riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, selain sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142)

Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menakut-nakuti orang-orang nan belajar pengetahuan agama, namun rupanya niatnya untuk mendapatkan dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من تعلَّم علمًا مما يبتغى به وجهَ اللهِ تعالى ، لا يتعلَّمُه إلا ليُصيبَ به عرضًا من الدنيا لم يجِدْ رائحة الجنةِ يومَ القيامةِ . وان ريحها ليوجد من مسيرة خمسمائة عام

“Barangsiapa belajar pengetahuan nan semestinya hanya mengharap wajah Allah, rupanya dia belajar hanya untuk mendapatkan bagian dunia, maka dia tidak bakal mendapatkan aroma surga. Padahal aroma surga itu bisa tercium dari jarak 50 tahun perjalanan.” (HR. Abu Dawud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Demikian pula dengan orang nan belajar pengetahuan agama, namun niatnya mau diagungkan dan mendapatkan kedudukan di sisi manusia. Mereka tidak meniatkan amalnya tersebut untuk mencari wajah Allah, meskipun secara lahiriyah, kebaikan mereka adalah kebaikan saleh. Jika kebaikan mereka dihisab, mereka berkuasa mendapatkan azab. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,

مَنْ تعلَّمَ العلْمَ ليُباهِيَ بِهِ العلماءَ ، أوْ يُمارِيَ بِهِ السفهاءَ ، أوْ يصرِفَ بِهِ وجوهَ الناسِ إليه ، فله من عمله النار

“Siapa saja nan belajar untuk merasa tinggi di hadapan orang berilmu, alias untuk mendebat orang-orang bodoh, alias untuk membikin perhatian orang tertuju kepadanya, maka kebaikan dia itu bakal menghasilkan neraka.” (HR. Ibnu Majah no. 253, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Oleh lantaran itu, mengikhlaskan kebaikan ibadah hanya untuk Allah semata adalah prinsip kepercayaan Islam nan sebenarnya. Inilah kunci dan inti dakwah para Rasul ‘alaihimus salam. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidaklah diperintahkan selain agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) kepercayaan nan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Sebagai seorang hamba Allah, seseorang kudu berjuang untuk membebaskan dirinya dari segala perihal nan bisa mengurangi dan membikin abnormal keikhlasannya. Keikhlasan dalam hati seseorang tidak bakal mungkin bisa bercampur dengan sikap senang terhadap pujian dan sanjungan dari orang lain. Jika jiwa kita menginginkan keikhlasan, maka buanglah terlebih dulu sikap serakah terhadap bumi dan terhadap apa nan dimiliki oleh orang lain. Juga buanglah rasa cinta terhadap pujian dan sanjungan. Jika kita bisa membuangnya, maka kita bakal mudah mendapatkan rasa ikhlas. Tidak ada sesuatu pun nan kita inginkan, melainkan semuanya berada di tangan Allah semata. Kita pun meyakini bahwa tidak ada seorang pun nan pujiannya bisa membawa kebaikan alias celaannya bisa membawa keburukan, selain tergantung Allah Ta’ala semata.

Untuk bisa melakukan itu semua, kita kudu mempunyai sikap sabar dan yakin. Ketika kita kehilangan sifat sabar dan percaya ini, maka kita bakal kehilangan arah dan salah jalan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ؛ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ ‎

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Dan sekali-kali janganlah orang-orang nan tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rum: 60)

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ؛ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin nan memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah: 24)

Sebagai penutup, sungguh sangat krusial bagi kita untuk mengulang-ulang membaca sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengobati hati kita serta memperbaiki kembali niat kita,

إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ

“Sesungguhnya kebaikan itu tergantung niatnya dan setiap orang bakal mendapatkan (sesuai dengan) apa nan dia niatkan. Siapa saja nan hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia mendapatkan (pahala) hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja nan hijrahnya lantaran bumi nan mau dia cari alias lantaran wanita nan mau dia nikahi, maka dia bakal mendapatkan sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Ya Allah, perbaiki semua niat kami dan tunjukkan kami ke jalan nan lurus. Janganlah Engkau jadikan kami bersandar kepada diri kami sendiri, walaupun hanya sekejap mata.

Kembali ke bagian 1: Pentingnya Meluruskan Niat (Bag. 1)

***

@Rumah Kasongan, 24 Syawal 1445/ 3 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 17; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id