Pentingnya Toleransi Dalam Bermazhab

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Bincang Syariah.com – Toleransi santer disuarakan apalagi menjadi program resmi pemerintah Indonesia. Itu dalam tataran antar-agama; Islam, Budha, Hindu, Kristen dan lainnya. Tapi demikian, tak boleh lupa bahwa toleransi intra agama, toleransi dalam bermazhab  tak kalah pentingnya. Menimbang satu kepercayaan mempunyai banyak aliran alias mazhab. 

Islam misalnya, setidaknya mempunyai tiga cakupan ajaran secara garis umum nan bertolak dari dimensi ajarannya ialah akidah, syariah, dan tasawuf. Masing-masing tiga aliran Islam itu mempunyai ajaran baik akidah, syariah, dan tasawuf.

Dalam fikih ada empat ajaran besar nan sejak dulu diakui ialah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, dan Hambaliyah. Sekarang mulai berkembang menjadi 8 ajaran fikih yakni  Dzahiriyah, Ja’fariyah, Syi’ah Zaidiyah, dan Syi’ah Ibadiyah. 

Tentu saja setiap ajaran mempunyai pandangan nan tidak sama satu dengan nan lain. Sehingga muncul istilah ikhtilaf alias khilaf. Khilaf inilah nan berpotensi memantik bentrok antar ajaran intra-agama layaknya sumbu nan siap melumat lenyap utuhnya umat. 

Ketidakmampuan untuk menerima perbedaan (khilaf) dan keragaman pendapat sebagai pegangan dalam berislam sering kali menjadi akar dari bentrok sosio-keislaman, diskriminasi, dan ketidakadilan dalam segmen keagamaan. Perpecahan ini terjadi lantaran orang-orang condong mengisolasi diri dalam kenyamanan kelompok, alias mazhabnya, mereka sendiri.

Sebaliknya, jika seseorang terbuka terhadap keberagaman, memahami keadaannya, menerima kenyataannya, dan melepaskan batinnya dari emosi suka maupun tidak suka, maka orang tersebut bakal menuju jalan inklusif dalam berislam sebagaimana dicontohkan para pendiri pemimpin Mazhab itu sendiri.

Sejak semula para pendiri ajaran itu wanti-wanti agar perbedaan tidak menjadi sumbu perpecahan di tengah umat, justru menjadi rahmat. Adalah Imam Malik secara praktik enggan untuk mempromosikan pendapatnya. Ketika kitabnya mendapatkan tawaran endorse dari pemerintah sah nan sangat berkesempatan untuk menjadi ajaran resmi umat Islam seluruh penjuru dunia. 

Beliau dengan lantang berkata, “Jangan lakukan itu, Harun al-Rasyid. Orang Islam sudah banyak mempunyai pendapat mahir norma dan melimpah dengan sabda-sabda Nabi. Biarkan masyarakat muslim memilih pendapat nan mereka pilih untuk mereka sendiri.” (Shinā’at al-Iftā’, 76)

Agaknya argumen penolakan ini, selain kerendah hatiannya dan tidak mutlak-mutlak dengan produk-produk ijtihadnya, Imam Malik sejak awal mau menanamkan sikap toleransi di kalangan umat Islam dalam memilih pendapat alias istilahnya bermazhab. Sehingga beliau  menandaskan. “Saya ini hanya manusia biasa. Bisa salah bisa benar. Analisislah pendapatku. Kalau memang sesuai dengan Alquran dan al-Sunnah, ambil. Kalau tidak sesuai,campakkan.” (al-Qaul al-Mufīd fi Adillatil Ijtihād wa al-Taqlīd, 42)

Sebelumnya, ustadz beken nan dari Kufah Imam Abu Hanifah memberikan teladan nan sama untuk bersikap toleransi dalam beraliran intra-agama Islam, khususnya fiqih. Beliau mengingatkan, “Bila pendapatku menyalahi Kitab Allah dan sabda Rasul saw., abaikan pendapatku.” (Īqādh al-Himam Ulī al-Abshār, 62). 

Selain ustadz dua itu, ajaran Imam Syafi’i – nan banyak dianut di Nusantara – mengikuti jejak gurunya, Imam Malik. Suatu waktu, Imam Syafi’i menyampaikan, “Apabila kalian temukan dalam kitabku perihal nan menyalahi sunnah Rasulullah saw., ambillah sabda itu dan abaikan pendapatku.” (al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab,Jilid 1, laman 104)

Ketiga ustadz nan konon sanad keilmuannya tersambung, mempunyai persepsi nan sama. Alih-alih memasarkan pendapat, mereka justru mengingatkan jika pendapat mereka mungkin salah. Sehingga dengan sikap begitu tidak sempat untuk menyalahkan pendapat orang lain alias ajaran lainnya. Dengan kata lain, timbul rasanya toleransi antar mazhab.

Masih tinggal satu ustadz lagi, ialah dari Ahmad bin Hanbal, mengutarakan perihal serupa secara lebih tegas lagi, dalam kalam negasi, “Jangan bertaklid kepadaku, jangan bertaklid kepada Malik, jangan pada al-Syafi’iy, tidak juga al-Auza’iy dan al-Tsauriy. Tapi, ambillah dari sumber tempat mereka mengambil.” (I’lām al-Muwaqqi‘īn, 2/139)

Bagi Imam Ahmad, semua pendapat mereka sama saja. Tidak perlu dielu-elukan mana nan lebih kuat. nan perlu adalah mendorong santri alias jamaahnya dapat memutuskan pendapatnya sendiri berasas sumbernya langsung, Al-Qur’an dan al-Sunnah; alias membandingkan pendapat-pendapat mereka berasas dalil dan logika nan otoritatif. “Pendapat al-Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah, semuanya hanyalah pendapat. Bagiku sama saja, nan betul-betul hujjah hanya atsar (tradisi Nabi saw dan sahabat).” (Īqādh al-Himam, 21)

Tentu, semua quote di atas tidak berfaedah justifikasi bagi aktivitas anti mazhab, sebagaimana tidak jarang disalahpahami demikian – apalagi hanya mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Pernyataan-pernyataan Imam Mazhab itu merupakan penampakan dari keluhuran budi, kerendahhatian, dan sekaligus kehati-hatian.

Betapa pun mereka percaya dengan ijtihad mereka, dengan kebenaran pendapatnya, mereka tetap mawas diri dan menyarankan orang lain agar bisa secara berdikari membikin pilihan sendiri berasas teks suci.

Menurut penulis, pesan Imam Mazhab di atas berpusat pada dua hal. Pertama, kerendahhatian dan kehati-hatian mereka. Ini adalah pesan tersiratnya. Kedua, hendaknya setiap orang berupaya menentukan pilihannya sendiri, berasas keahlian akalnya memahami wahyu. Bila tidak, maka mengikuti ajaran nan dia yakini tanpa menyalah-nyalahkan ajaran lainnya. Inilah sikap toleransi dalam bermazhab.

Sederet kebenaran sejarah itu menunjukkan urgensinya toleransi dalam ajaran nan mana imam-imam besar menjadi garda terdepan. Maka, semestinya kita teladani. Dengan kata lain, secara konseptual toleransi dalam beraliran sudah mapan dan kokoh ditanamkan para pemimpin Mazhab itu sendiri. Sayangnya, sekarang, tak sedikit kita jumpai dalam praktis alias amaliyah khilafnya antar ajaran fikih menjadi bumerang nan menakut-nakuti persatuan dan keharmonisan.

Terakhir, untuk menumbuhkan nilai toleransi maka pentingnya mengubah mindset kita terhadap khilaf itu sendiri dari pendapat-pendapat beragam mazhab. Sebagai tawaran dalam perihal ini, sangat relevan berpatokan kepada teori nan sempat diajukan Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab al-Mizan al-Kubra al-Sya’raniyah.

Pertama, mempunyai langkah pandang bahwa imam-imam alias setiap ajaran itu telah diberikan hidayah oleh Tuhan. Atau setidaknya, telah dikehendaki adanya beragam mazhab. Di antara hikmahnya agar menjadi pilihan umat dalam menjalani keagamaannya, alias boleh jadi menjadi ujian Tuhan agar kita sabar dan bersikap toleran.

Kedua, dalam menyikapi perselisihannya maka menggunakan teori multi dimensi dengan timbangan antara al-Tasdid (memberatkan) dan al-Takhfif (meringankan). Yaitu semua pendapat nan beda-beda nan dikemukakan para pentolan ajaran itu ditimbang melalui kemaslahatan  situasi dan kondisi, dan mengahargai pendapat lainnya tanpa memvonis salah.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah