Penyesalan Tanpa Obat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Sakit hati, marah, jijik, takut, gelisah, sedih, hampa, bosan, dan beragam emosi tidak nyaman lainnya merupakan jenis siksaan nan dikenal oleh jiwa manusia. Dan di antara keadaan psikis tersebut, penyesalan merupakan salah satu jenis siksaan jiwa nan paling tidak disenangi oleh ras manusia di seluruh peradaban. Karena pada penyesalan itu terkumpul beragam emosi negatif sekaligus. Bahkan kita tau bahwa penyesalan pada level tertentu dapat melahirkan keputusasaan nan fatal.

Bayangkan Anda berinvestasi di bursa saham. Kamu membeli saham sebuah perusahaan seharga 10.000 per lembar dengan modal 100 juta. Apa nan terjadi ketika market bearish (index harga saham jatuh) ke nilai 5.000? Kamu bakal sangat menyesal membeli saham tersebut lantaran sekarang hartamu telah lenyap separuhnya dalam sekejap. Apa nan terjadi jika market bullish (index harga saham melambung) ke nilai 15.000? Kamu bakal ceria lantaran hartamu telah bertambah menjadi 150 juta, tapi di sisi lain timbul penyesalan kenapa Anda tidak menambah modal lebih banyak sebelumnya alias kenapa tidak membeli sedari dulu ketika nilai per lembarnya jauh lebih murah. Demikianlah gambaran emosi sesal di dunia.

Namun sebetapa dalamnya penyesalan di dunia, dia tetap bisa disembuhkan dengan menjadikan peristiwa nan disesali sebagai objek pembelajaran agar kita tidak mengulangi penyebabnya di kemudian hari. Sehingga pada akhirnya kita dapat memetik buah nan manis dari hikmah nan kita dapatkan.

Adapun selain itu, ada tiga jenis penyesalan nan berbeda level dan bagian terburuknya adalah tidak ada obat penawarnya.

Pertama, penyesalan tatkala ajal menjemput

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11) [المنافقون : 10-11]

Donasi Semarak Ramadan YPIA

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa nan telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lampau dia berkata: “Ya Rabb-ku, kenapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu nan dekat, nan menyebabkan saya dapat bersedekah dan saya termasuk orang-orang nan saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak bakal menangguhkan (kematian) seseorang andaikan telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa nan Anda kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 10-11)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsir beliau bahwa setiap orang nan melampaui pemisah bakal dihantui rasa penyesalan nan dahsyat tatkala ajal mendatanginya. Mereka pun meminta penangguhan waktu meski hanya sejenak untuk melaksanakan ibadah nan telah mereka tinggalkan semasa hidup. Semua bakal menyesal sesuai dengan kadar kelalaliannya. Begitu pula bagi orang kafir, Allah timpakan pada mereka rasa penyesalan nan tak kalah hebatnya.

وَاَنۡذِرِ النَّاسَ يَوۡمَ يَاۡتِيۡهِمُ الۡعَذَابُ فَيَـقُوۡلُ الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا رَبَّنَاۤ اَخِّرۡنَاۤ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيۡبٍۙ نُّجِبۡ دَعۡوَتَكَ وَنَـتَّبِعِ الرُّسُلَ​ؕ اَوَلَمۡ تَكُوۡنُوۡۤا اَقۡسَمۡتُمۡ مِّنۡ قَبۡلُ مَا لَـكُمۡ مِّنۡ زَوَالٍۙ‏

“Hai Muhammad, peringatkanlah (kepada manusia) yakni orang-orang kafir (terhadap hari nan pada waktu itu datang balasan kepada mereka) yaitu hari hariakhir (maka berkatalah orang-orang nan lalim) yakni orang-orang kafir (“Ya Rabb kami! Beri tangguhlah kami) seumpamanya Engkau mengembalikan kami ke dunia (walaupun dalam waktu nan sedikit, niscaya kami bakal mematuhi seruan Engkau) dengan mengamalkan aliran tauhid (dan bakal mengikuti rasul-rasul.”) Lalu dikatakan kepada mereka dengan nada hinaan (“Bukankah kalian telah bersumpah) telah berjanji (sebelumnya dahulu) ialah sewaktu di bumi (bahwa sekali-kali kalian tidak akan) huruf min di sini adalah zaidah (binasa?”) setelah meninggalkan bumi menuju ke alambaka (Q.S Ibrahim: 44, Tafsir Jalalain)

حَتّٰٓى اِذَا جَآءَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُوۡنِۙ‏ * لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُ​ؕ كَلَّا​ ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَا​ؕ وَمِنۡ وَّرَآٮِٕهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ‏

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga andaikan datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah saya (ke dunia), agar saya dapat melakukan amal nan telah saya tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih nan diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Baca juga: Taubat: Jalan untuk Kembali Kepada-Nya

Kedua, penyesalan ketika hariakhir tiba

Sebagaimana nan tersirat dalam ayat berikut ini,

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ (23) يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي (24) [الفجر : 23-24]

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, bakal tetapi tidak berfaedah lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya saya dulu mengerjakan (amal salih) untuk hidupku ini”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan peristiwa hariakhir tersebut dalam hadits nan diriwayatkan imam Muslim dalam kitab Shahih beliau:

يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام ، مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها

“Pada hari itu Neraka Jahannam didatangkan. Padanya terdapat 70.000 tali kekang, nan setiap tali tersebut ditarik oleh 70.000 malaikat”

Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan kedua ayat tersebut bahwa situasi di hari hariakhir kelak begitu mencekamnya sehingga semua manusia bakal diliputi penyesalan nan dahsyat dan mendalam.

 ( يومئذ يتذكر الإنسان ) أي : عمله وما كان أسلفه في قديم دهره وحديثه

( يقول ياليتني قدمت لحياتي ) يعني : يندم على ما كان سلف منه من المعاصي – إن كان عاصيا – ويود لو كان ازداد من الطاعات – إن كان طائعا –

Setiap insan bakal ingat setiap detik peristiwa dan perbuatannya sejak dulu kala hingga nan baru terjadi. Dan semua manusia bakal menyesal. nan semasa hidupnya bermaksiat bakal menyesali maksiatnya. Bahkan nan semasa hidupnya alim pun bakal menyesal seandainya dia dapat menambah kebaikan ketaatannya.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎لو أن عبدا خر على وجهه من يوم ولد إلى أن يموت هرما في طاعة الله ، لحقره يوم القيامة

“Seandainya seorang hamba senantiasa menundukkan wajahnya sejak dia lahir hingga dia meninggal dalam ketaatan, tetap saja hari hariakhir tersebut bakal menghinanya” (HR. Ahmad dalam Musnad, HR. Bukhari dalam At-Tarikh, HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, dihasankan oleh As-Suyuthi dan Al-Albani)

Maksudnya semua ibadah nan telah dia perbuat terasa kurang seperti tidak ada artinya dibandingkan kengerian di hari kiamat. Sehingga penyesalan nan dirasakan orang nan alim ini pun tidak berkurang sedikit pun meski dia mengetahui hidupnya dipenuhi dengan amal.

Sehingga Allah pun berfirman

  ( وأنى له الذكرى ) أي : وكيف تنفعه الذكرى ؟

Yang dijelaskan maknanya oleh Imam Ibnu Katsir, “Bagaimana penyesalan tersebut bakal berguna?”

Dengan kata lain, penyesalan di hari hariakhir itu tidak bakal berfaedah dan menyelamatkan kita.

Ketiga, penyesalan masyarakat neraka ketika mendengar khutbah iblis

Belum lagi penyesalan berkali-kali dirasakan oleh masyarakat neraka tatkala mendengar khutbah Iblis yang dikisahkan di dalam Quran surat Ibrahim ayat 22.

وَقَالَ الشَّيۡطٰنُ لَـمَّا قُضِىَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ الۡحَـقِّ وَوَعَدْتُّكُمۡ فَاَخۡلَفۡتُكُمۡ​ؕ وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيۡكُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُكُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِىۡ​ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِىۡ وَلُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ​ ؕ مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِىَّ​ ؕ اِنِّىۡ كَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَكۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ​ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِيۡنَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ‏ 

“Dan setan berbicara ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji nan benar, dan saya pun telah menjanjikan kepadamu tetapi saya menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) saya menyeru Anda lampau Anda mematuhi seruanku, oleh karena itu janganlah Anda mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan Anda pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya saya tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan saya (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang nan kejam bakal mendapat siksaan nan pedih.”

Na’uudzubillaahi min dzaalik. Semoga kita tidak termasuk di dalam golongan tersebut.

Maka selama kita tetap hidup di dunia, hendaknya kita bersegera merengkuh taubat, mengemis hidayah, serta meraih segala kebaikan salih dan berupaya menjauhi keburukan. Selama penyesalan itu tetap ada obatnya. Selama kesabaran (dalam ketaatan dan ketika menghadapi ujian/musibah) itu tetap berfaedah di dunia. Sehingga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengubahnya menjadi kebaikan, serta mengganjar setiap derita bentuk maupun psikis nan kita alami dengan pahala. Dan agar kita terhindar dari penyesalan nan lebih besar lagi di kehidupan nan selanjutnya kelak.

Baca juga: Saudariku, Kembalilah ke Hijab Asalmu

Penulis: Saviera Yonita, ST

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Al-Quran Al Karim (Aplikasi Ayat dari KSU)
  • Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fajr ayat 23 & 24 (Aplikasi Ayat dari KSU)
  • Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Munafiqun ayat 10 & 11
  • Tafsir Jalalain Surat Ibrahim ayat 44
  • https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/38107/
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id