Kincai Media ,Sholat lima waktu bukan sekadar kewajiban, melainkan sumber ketenangan jiwa dan tembok dari kesesatan hidup. Bagi orang beriman, sholat adalah perjumpaan yang dinanti dengan Allah SWT. Sebaliknya, bagi orang munafik, sholat adalah beban yang dijalankan dengan malas dan hanya untuk pamer kepada manusia.
Sholat lima waktu yang waktunya terbagi pada waktu Subuh, siang, sore, malam, seumpama terminal-terminal tempat berpangkalnya rohani. Sholat lima waktu juga bagai minuman segar pelepas dahaga untuk mengobati kegundahan jiwa. Minuman itu berasal dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.
Demikian dijelaskan Syaikh Mushthafa Masyhur dalam kitab Al-Hayaatu Fii Mihraabish Shalah. Ia menerangkan bahwa sholat lima waktu pantas untuk dijadikan pelindung bagi manusia dari ujian hidup. Sholat lima waktu membentengi manusia dari ketergelinciran.
Kedisiplinan mengerjakan sholat lima waktu telah menghimpun seorang hamba dari sholat yang satu ke sholat berikutnya. Tapi tidak demikian dengan mereka yang melalaikan sholatnya alias bagi mereka yang melaksanakannya namun tidak pada waktunya alias melaksanakannya dengan tidak khusyu dan tanpa kehadiran hati ketika sholat. Maka, kesempatan kesempatan tersebut bakal dijadikan kesempatan oleh setan untuk sedikit demi sedikit menjauhkan seorang hamba dari jalan yang lurus.
Bagi siapa saja yang menghidupkan prinsip sholat dari kehidupan di dalam mihrabnya, maka dia bakal merasakan nikmatnya ketaatan dan kelezatan suatu ketaatan, tidak menunda-nunda waktu penyelenggaraan dan merasa berat untuk sholat. Justru menjadikan sholat bagian dari hidupnya, menanti angan tibanya waktu untuk bercumbu rayu lantaran senang berjumpa dengan Allah SWT serta bersimpuh di bawah kekuasaan-Nya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·