Peringatan Untuk Ayah Jika Tidak Mampu Jadi Kepala Keluarga Yang Baik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Imam Al Ghazali berjulukan komplit Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan akibat bagi seorang ayah atau kepala keluarga. Sebab, Allah SWT telah mengingatkan agar memelihara family agar tidak terkena api neraka.

Sehubungan dengan itu, seorang kepala family alias pemimpin bakal dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Maka itu, Imam Al Ghazali mengingatkan tiga akibat pernikahan bagi seorang kepala keluarga.

Berkaitan dengan apa nan kudu ditanggung dari sebuah pernikahan alias nan lebih tepat dikatakan sebagai akibat logis dari sebuah pernikahan ada tiga jenis.

Konsekuensi pertama, kesulitan untuk memperoleh penghasilan nan dihalalkan. Maksudnya, pernikahan bisa menjadi penyebab seseorang mencari sesuatu nan diharamkan, demi memenuhi kebutuhan family nan menjadi tanggung jawabnya.

Dalam sebuah sabda diceritakan bahwa ada seorang hamba nan mempunyai banyak sekali kebaikan kebaikan. Bahkan nyaris sebesar gunung kebaikan kebaikannya.

Kemudian, hamba itu diperintahkan untuk berdiri di posisi timbangan kebaikan (mizan), sampai ditanyakan perihal hartanya, dari mana dia telah memperolehnya, dan untuk apa dibelanjakan, berikut pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kemudian anak-anaknya berbicara kepada Allah SWT pada Hari Pembalasan itu, "Ya Allah, Rabb kami, ambillah darinya kalkulasi atas kewajibannya kepada kami. Sebab, dia tidak mengajarkan kepada kami apa nan tidak kami ketahui. Ia juga telah memberikan makanan nan Engkau haramkan kepada kami tanpa sepengetahuan kami."

Nabi Muhammad SAW juga bersabda,

لا يَلْقَى اللَّهَ أَحَدٌ بِذَنْبِ أَعْظَمَ مِنْ جَهَالَةِ أَهْلِهِ.

"Tidak seorang pun bakal berjumpa Allah SWT dengan dosa nan lebih besar daripada dosa atas kegoblokan nan ditimbulkannya kepada family alias siapa saja nan menjadi tanggung jawabnya dalam rumah tangga." (Disebutkan oleh pemilik kitab al-Firdaus dari sabda Abi Sa'id al-Khudri)

Sangat sedikit manusia nan bisa berlepas diri dari ancaman semacam ini.

Konsekuensi nan kedua, tidak menunaikan tanggungjawab terhadap keluarga, kurangnya kesabaran terhadap perbaikan adab mereka, dan tidak berupaya menanggung penderitaan mereka.

Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah dosa nan membinasakan bagi orang nan menyia-nyiakan keluarganya." (HR Imam Abu Dawud)

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan, "Orang nan melarikan diri dari tanggung jawab atas kebutuhan keluarganya laksana budak nan meninggalkan tuannya. Sholat dan puasanya tidak bakal diterima, sampai dia kembali bertanggung jawab atas keluarganya. Oleh lantaran itu, siapa saja nan menyia-nyiakan keluarganya (mengacuhkan hak-hak mereka), dia bertindak layaknya orang nan melarikan diri dari medan jihad, meskipun dia tetap berada di posisinya (tanpa tanggung jawab nan semestinya)."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāraw waqūduhan-nāsu wal-ḥijāratu ‘alaihā malā'ikatun gilāẓun syidādul lā ya‘ṣūnallāha mā amarahum wa yaf‘alūna mā yu'marūn(a).

Wahai orang-orang nan beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka nan bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat nan kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa nan Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa nan diperintahkan. (QS At-Tahrim Ayat 6)

Konsekuensi nan ketiga dari sebuah pernikahan adalah family boleh jadi bakal menjauhkan seseorang dari mengingat Allah SWT. Disebabkan hanya mendorong kepadanya untuk mengumpulkan harta, mencari kemegahan duniawi, dan membangga-banggakan diri.

Apapun perkara nan bisa mengalihkan perhatian kita dari mengingat Allah SWT, ialah sibuk dengan urusan dunia, merupakan penyebab bagi sesuatu nan merugikan.

Demikianlah akibat logis dari sebuah pernikahan. Untuk menetapkan baik alias buruknya menikah bagi seseorang, perihal itu sangat berjuntai pada karakter masing-masing. Sangat dibutuhkan nasihat serta pertimbangan bagi seseorang untuk menentukan apakah dia lebih baik menikah alias tidak.

Pernikahan pada hakikatnya baik untuk dilaksanakan, dan berfaedah bagi seseorang andaikan di dalam pelaksanaannya tidak sampai mengalihkan perhatian pelaku pernikahan dari mengingat Allah SWT serta dari jalan kebaikan. Jika sebaliknya, maka pernikahan itu bakal berbobot jelek serta merugikan bagi dirinya sendiri.

Apabila seseorang memerlukan ketenteraman bagi terpelihara serta terjaganya nafsu syahwat, maka jalur pernikahan jauh lebih utama baginya.

Demikian dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali bergelar Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam