Permasalahan Seputar Basmalah Di Awal Wudu

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Basmalah alias ucapan “bismillahirrahmanirrahim” merupakan kalimat mulia nan paling sering diucapkan oleh seorang muslim. Dengannya, Al-Qur’an dimulai dan dengannya pula, hukum Islam memerintahkan kita untuk membacanya di setiap perbuatan baik. Termasuk di dalamnya adalah tatkala bakal berwudu. Hal ini berasas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

“Tidak ada salat bagi nan tidak mempunyai wudu. Dan tidak ada wudu bagi nan tidak membaca basmalah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sabda ini hasan.)

Hadis ini diriwayatkan oleh sembilan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam nan menunjukkan sungguh pentingnya perkara ini bagi seorang muslim. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan kepada para sahabatnya agar senantiasa membaca basmalah di setiap wudu mereka.

Hanya saja wahai saudaraku, ada beberapa persoalan seputar basmalah di awal wudu nan bisa kita pelajari lebih lanjut dalam pembahasan tulisan kali ini.

Pertama: Apa nan kita ucapkan? Bismillah saja alias perlukah dibaca secara lengkap, bismillahirrahmanirrahim?

Pendapat nan lebih kuat dalam persoalan lafaz basmalah di awal wudu adalah dengan mengucapkan “bismillah” saja tanpa dibaca secara lengkap. Karena referensi inilah nan terdapat dalam ayat dan hadis-hadis nan memerintahkan kita untuk mengucapkan basmalah di setiap aktivitas sehari-hari kita, seperti ayat nan menceritakan tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam tatkala menaiki bahtera,

وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan Nuh berkata, ‘Naiklah Anda sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah (bismillah) di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku betul-betul Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Hud: 41)

Atau seperti nan terdapat di dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala berbincang kepada seorang anak,

يا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وكُلْ بيَمِينِكَ، وكُلْ ممَّا يَلِيكَ 

“Wahai anak, sebutlah nama Allah (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa nan di hadapanmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Adapun menyempurnakan dengan bismillahirrahmanirrahim, maka hukumnya boleh dan tidak terlarang.

Kedua: Wajibkah membaca basmalah di awal wudu?

Para ustadz berbeda pendapat dalam masalah ini.

Mazhab Zahiriyah, salah satu riwayat dalam ajaran Hanabilah, dan Hasan Al-Bashri rahimahullah beranggapan bahwa membaca basmalah di awal wudu hukumnya wajib. Mereka beralasan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

“Tidak ada salat bagi nan tidak mempunyai wudu. Dan tidak ada wudu bagi nan tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sabda ini hasan.)

“Tidak ada wudu” di dalam sabda tersebut berarti tidak ada wudu nan sah andaikan tidak membaca basmalah.

Adapun pendapat kedua dan ini merupakan pendapat nan lebih kuat serta dipegang oleh kebanyakan ustadz adalah pendapat nan menyatakan bahwa basmalah di awal wudu hukumnya sunah muakadah dan bukan wajib. Karena di sabda nan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

تَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَكَ اللَّهُ

“Berwudulah sebagaimana nan diperintahkan Allah kepadamu.” (HR. Tirmidzi no. 302. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi no. 247.)

Sedangkan sifat wudu sebagaimana nan diperintahkan Allah berbunyi,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ

“Wahai orang-orang nan beriman! Apabila Anda hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Berwudu nan diperintahkan pada ayat di atas tidak menyebut perintah membaca basmalah. Sehingga basmalah tidak termasuk tanggungjawab dalam wudu.

Dan juga, tidak ada satu pun dari para sahabat nan meriwayatkan sifat dan tata langkah wudu Nabi nan menyebut basmalah di awal wudu, padahal kita tahu mereka meriwayatkan sabda tersebut dalam rangka mengajarkan dan menyampaikan pelajaran kepada kita. Sedangkan dalam hukum terdapat kaidah,

لا يجوز تأخير البيان عن وقت الحاجة

“Tidak boleh mengakhirkan penjelasan dari waktu nan dibutuhkan.”

Adapun mengenai sabda nan menyatakan,

“Tidak ada salat bagi nan tidak mempunyai wudu. Dan tidak ada wudu bagi nan tidak membaca bismillah di dalamnya.”

Maka, maknanya adalah tidak ada wudu nan sempurna dan bukan tidak ada wudu nan sah. Karena tata langkah wudu nan sah nan dijelaskan di dalam hadis-hadis Nabi tidak menyebut tanggungjawab membaca basmalah.

Baca juga: Ketentuan dan Tata Cara Mengusap Imamah dan Kerudung ketika Wudu

Ketiga: Hukum melafalkan basmalah di bilik mandi tatkala berwudu

Apabila seseorang berwudu di dalam toilet nan digunakan untuk buang air, maka bakal timbul sebuah permasalahan. Yaitu, bersinggungannya norma makruh dan terlarangnya pengucapan nama Allah di tempat-tempat seperti ini dengan rekomendasi membaca basmalah di awal wudu.

Sebagian ustadz mengambil solusi dengan langkah menyebut lafaz basmalah di dalam hati saja tanpa perlu melafalkannya dengan lisan. Sebagian ustadz lainnya beranggapan bahwa norma rekomendasi membaca basmalah lebih diutamakan dari pelarangan penyebutan nama Allah di dalam bilik mandi/toilet. Sehingga seorang muslim boleh melafalkan dengan lisannya tanpa adanya pelarangan dan keberatan dari syariat.

Syekh Binbaz menyebutkan,

“Boleh hukumnya wudu di dalam bilik mandi andaikan mendesak dan kita memerlukan perihal tersebut, maka dia membaca basmalah di awal wudu dengan mengucapkan “bismillah”, lantaran basmalah hukumnya wajib menurut sebagian ustadz dan sunah muakadah menurut sebagian besar ustadz lainnya. Ia boleh membacanya dan lenyap kemakruhannya. Karena norma makruh lenyap dengan adanya kebutuhan membaca basmalah. Seorang muslim dituntut untuk mengucapkan basmalah di awal wudu, maka dia membaca basmalah dan melanjutkan wudunya.” (Majmu Fatawa Al-Allamah Abdul Aziz Bin Baz Rahimahullah, 10: 28.)

Syekh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan,

“Membaca basmalah di bilik mandi dan nan semisalnya hukumnya tidak mengapa, lantaran bilik mandi-kamar mandi tersebut di masa sekarang condong sudah bersih, air bakal menghilangkan dan mensucikan najis nan ada di tempat-tempat tersebut. Jikalau seseorang lebih memilih untuk mengucapkan basmalah dengan hatinya saja, tanpa melafalkannya dengan lisan, tentu ini adalah kebaikan.” (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi, 3: 117.)

Wallahu A’lam Bisshawab.

Baca juga: Sunah-Sunah Wudu nan Sering Dilalaikan

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah