Piring Dijilat Anjing? Begini Cara Mensucikannya Kincai Media – Tak jarang kita mendengar cerita seseorang yang panik lantaran piring alias gelasnya dijilat anjing. Ada yang langsung membuangnya, ada pula yang merasa cukup membilasnya dengan air. Padahal, Islam telah mengatur secara bijak langkah menyucikan barang semacam itu tanpa kudu bersikap berlebihan. Nah berikut langkah mensucikannya?
Dalam Islam, anjing dan babi termasuk dalam kategori najis mughallazhah (najis berat). Artinya, jika keduanya bergesekan dengan barang tertentu seperti piring, gelas, tubuh, terutama dalam kondisi basah, maka barang tersebut dianggap terkena najis berat dan memerlukan langkah unik untuk disucikan.
Namun, perlu diketahui bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan hingga kudu membuang alias menghancurkan barang yang terkena najis tersebut. Islam memberikan tuntunan yang jelas dan proporsional: cukup disucikan sesuai ketentuan syariat.
Lantas gimana langkah mensucikan piring alias barang lain yang dijilat anjing?
Dalam sabda riwayat Imam Muslim, tata langkah menyucikan wadah yang dijilat adalah dengan dibasuh 7 kali, dengan salah satunya yang dicampur debu. Nabi bersabda:
طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ ، أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ
Artinya; “Sucinya bajan salah seorang di antara kalian andaikan dijilat oleh anjing adalah dengan langkah dibasuh tujuh kali, dan basuhan pertama di antaranya menggunakan debu (tanah).” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi dasar norma bahwa najis anjing tidak cukup disucikan hanya dengan air, tetapi kudu menggunakan debu alias tanah pada salah satu dari tujuh kali basuhan. Dalam Riyadhul Badi‘ah laman 27 juga dijelaskan, barang yang terkena najis berat kudu dicuci tujuh kali, dan salah satunya dicampur dengan debu yang suci.
المغلظة نجاسة الكلب والخنزير والمتولد منهما أو من أحدهما ولا يطهر محلها حتى يغسل سبع مرات إحداهن مخلوطة بالتراب الطهور ولا يكتفي بالسبعة إلا إن زالت عين النجاسة بالمرة الأولى. فإن زالت بغير الأولى فجميع الغسلات السابقة على زوالها يحسب مرة واحدة.
Artinya; Najis mughallazhah adalah najis anjing, babi, keturunan keduanya, alias keturunan salah satunya. Tempat yang terkena najis mughallazhah tidak menjadi suci hingga dibasuh tujuh kali, salah satunya dicampur dengan debu yang suci. Tujuh basuhan tidak dihitung sempurna jika unsur najis belum lenyap pada basuhan pertama. Namun jika unsur najis lenyap bukan pada basuhan pertama, maka semua basuhan sebelum najis lenyap dihitung satu kali basuhan.”
Selain sabda Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim di atas, terdapat pula riwayat lain dari Abdullah bin Mughaffal ra. yang menegaskan perihal serupa, bahwa barang yang terkena najis berat, bisa kembali dengan 7 kali basuhan, dengan salah satunya ada yang memakai tanah alias debu.
إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى الإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِى التُّرَابِ
Artinya; Apabila anjing menjilati bajan kalian, cucilah sebanyak tujuh kali, dan gosoklah yang kedelapan dengan debu.” (HR. Muslim)
Menghilangkan Najis Berat dengan Sabun, Bisakah?
Riwayat ini menunjukkan bahwa penggunaan debu mempunyai kegunaan sebagai unsur penyuci tambahan yang dapat mengangkat najis secara sempurna. Kemudian, yang jadi pertanyaan, jika tidak ada tanah, bolehkah dengan sabun? Atau bolehkah menghilangkan najis anjing alias babi dengan sabun?
Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab fi Fiqh Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa najis dari anjing alias babi boleh dibersihkan menggunakan sabun, detergen, alias bahan pembersih lain yang mengandung unsur tanah alias unsur sejenis, selama tujuan penyucian tercapai. Sebab, bahan-bahan tersebut dapat menggantikan kegunaan tanah lantaran sama-sama bisa membersihkan secara efektif dari najis yang berat
وإن جعل بدل التراب الجص أو الأشنان وما أشبههما ففيه قولان: أحدهما لا يجزئه لأنه تطهير نص فيه على التراب فاختص به كالتيمم والثاني أن يجزئه لأنه تطهير نجاسة نص فيه على جامد فلم يختص به كالإستنجاء والدباغ
Artinya; Jika seseorang menggunakan gamping (kapur), al-usnān (sabun alami), alias bahan sejenisnya sebagai pengganti tanah untuk mensucikan najis (seperti jilatan anjing), maka terdapat dua pendapat (qaul):
Pertama: Tidak sah, lantaran penyucian ini telah disebut secara tegas (nash) kudu dengan tanah, sehingga tidak boleh diganti dengan bahan lain — seperti halnya tayamum yang hanya sah dengan tanah.
Kedua: Sah (mencukupi), lantaran ini adalah penyucian dari najis, dan nash hanya menyebut barang padat, bukan secara unik tanah, sehingga boleh diganti dengan bahan padat lainnya — seperti istinja’ (bersuci dari najis) dan penyamakan kulit (dabbagh). (Abu Ishaq Asy Syirazi, Muhadzab fi Fiqh Asy-Syafi’i, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, tt), Jilid 1, laman 95)
Dari semua penjelasan ini, jelas bahwa Islam adalah kepercayaan yang mengajarkan kebersihan sekaligus menghindari sikap berlebihan. Benda alias piring yang dijilat anjing tidak kudu dibuang. Cukup disucikan dengan tujuh kali basuhan, salah satunya menggunakan tanah alias bahan sejenis seperti sabun alias detergen yang berfaedah sama.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·